Tampilkan postingan dengan label locavore. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label locavore. Tampilkan semua postingan

21.1.15

Locavore: Jika Bisa Makan Yang Lokal, Kenapa Harus Makan Yang Impor?

Tanggal 4 Januari 2015 lalu, Aliansi Untuk Desa Sejahtera bekerjasama dengan Tobucil & Klab menyelenggarakan pameran, workshop dan diskusi dengan tema Pangan Lokal. Acara ini bertujuan meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap persoalan pangan lokal.


Siapa yang mengira 'Mocav' adalah nama jenis tepung singkong. Dari namanya, orang bisa dengan mudah mengira ini sejenis nama makanan impor. Selama ini, tidak banyak orang menggunakan jenis tepung lokal ini untuk bahan olahan makanan.  Padahal mokav adalah bahan olahan pangan asli Indonesia selain tepung sukun, gayong atau sagu.

Selama ini tepung sebagai bahan pangan, di dominasi oleh tepung terigu yang berbahan gandum yang di impor dari luar negeri.  “Banyak kuliner yang booming di Indonesia, tetapi bahan dasarnya impor. Bahan-bahan pangan lokal kini harus bersaing ketat dengan bahan import, padahal negara ini kaya. Isu pangan ini sudah menjadi bagian dari hak asasi manusia yang harus diperjuangkan,” jelas Tejo Wahyu Jatmiko, Koordinator Nasional Indonesia Berseru dan juga penggiat Aliansi Untuk Desa Sejahtera. 

Berdasarkan data BPS pada 2003 hingga 2013, pemerintah mengeluarkan anggaran sebesar 10 persen atau sekitar 130 triliun rupiah dari APBN hanya untuk mengimport kebutuhan pangan seperti terigu, beras, gandum, jagung. Tejo Wahyu Jatmiko berpendapat isu pangan menjadi satu masalah yang perlu dipecahkan. Menurutnya,  jika tidak segera bertindak, maka Indonesia akan berubah dari negara penghasil menjadi negara pengimpor.

Mengubah pola makan seperti inilah yang terus dikumandangkan oleh Indonesia Berseru. Tujuannya hanya satu, supaya Indonesia tidak berubah menjadi negara kaya yang kerap mengimpor kebutuhan pokok. Misalkan, mokav bisa menjadi bahan dasar untuk membuat brownie, bakpao, dan cake roll. Bahkan tepung sukun bisa menjadi pengganti untuk membuat kroket. Meskipun  dibuat dari bahan tepung lokal, cemilan-cemilan ini tidak kalah lezat di banding ketika dibuat dari bahan terigu.



“Produk lokal kita tidak kalah dengan produk import, tepung-tepung lokal kita juga bisa digunakan untuk membuat panganan kelas internasional. Tapi kenapa kita harus selalu bergantung pada produk import?” ujar Program Manager Indonesia Berseru, Ida Ronauli dalam acara Bincang Sore, Locavore 100% Local Food yang diselenggarakan di Tobucil & Klabs, awal Januari lalu.

Ida juga berpandangan, berbagai macam tepung asli Indonesia juga lebih memiliki keunggulan, yakni  ramah terhadap tubuh. Artinya, kandungan karbohidratnya lebih rendah ketimbang terigu lantaran terbuat dari umbi-umbian.

Sumber: Materi Presentasi Tejo W.J. - Aliansi Untuk Desa Sejahtera - Perkumpulan Indonesia Berseru dari data BPS
Bukan hanya terigu saja yang memungkinkan untuk diganti dengan tepung lokal. Makanan pokok masyarakat Indonesia juga perlu diubah, dari nasi ke umbi-umbian.  Selain lebih menyehatkan, umbi-umbian juga tahan dengan kondisi iklim di Indonesia. “Iklim di Indonesia kan mulai berubah drastis. Kemaraunya lebih panjang dan sangat panas, sementara ketika hujan, curahnya makin tinggi. Dan hanya umbi-umbian yang mampu bertahan dalam kondisi cuaca seperti itu,” tambah Ida.

Sumber: Materi Presentasi Tejo W.J. - Aliansi Untuk Desa Sejahtera - Perkumpulan Indonesia Berseru dari data BPS
Hanya saja mengubah cita rasa impor ke cita rasa lokal, bukanlah hal yang mudah. Pola pikir masyarakat Indonesia sudah terlanjur dimanjakan dengan berbagai prodak import demi tujuan kepraktisan. Masyarakat kekinian juga kerap mengganggap, makanan dari umbi-umbian berada pada kasta terendah. “Anak-anak sekarang memiliki pemikiran sendiri, bahwa umbi-umbian adalah makanan kelas rendah yang biasa dimakan supir dan pembantu di rumahnya. Nah, ini juga jadi tantangan untuk mengubah pola pikir mereka, bahwa sebenarnya umbi lebih baik ketimbang kentang goreng,” tegas Ida. (Mega/TH)


Locavore = orang yang mengkonsumsi produk-produk lokal.

Baca tulisan terkait lainnya:

Locavore: Fakta-fakta Seputar Padi

Tanggal 4 Januari 2015 lalu, Aliansi Untuk Desa Sejahtera bekerjasama dengan Tobucil & Klab menyelenggarakan pameran, workshop dan diskusi dengan tema Pangan Lokal. Acara ini bertujuan meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap persoalan pangan lokal.

Padi Sumber kebudayaan kita sebagai makanan pokok dan mendapatkan penghormatan khusus dalam banyak kebudayaan di Indonesia. Sayangnya nilai ini perlahan menghilang saat pertanian padi moderen di terapkan. 

Kisah tentang padi dan nasi yang secara khusus dipaparkan dalam satu wawacan tersendiri menggambarkan bagaimana padi sangat terhormat bagi masyarakat Sunda. 

Asal-usul padi yang berkaitan degnan Nyai Sri Pohaci atau Nyai Asri, Dewi yang dipercaya menciptakan padi di dunia. 

Ada Sulanjana, yang mengasihi orang Sunda dengan cara melindungi padi dari hama. Sementara Semar rela turun ke bumi untuk mengajarkan manusia bagaimana menanak nasi, setelah Nawang Wulan dalam kisah Jaka Tarub dan Tujuh Bidadari pergi tanpa memberi tahu manusia bagaimana cara menanak nasi. 

Ritual-ritual ini kian hilang kecuali masih dijalankan oleh penganut kepercayaan Sunda Lama (Sunda Wiwitan). Upacara penghormatan Dewi Sri yang paling tekenal pada Masyarakat Sunda adalah Seren Taun di Kasepuhan. 

Di Jawa Tengah dan Jawa Timur, Dewi Sri selalu dikaitkan dengan Dewi Lakshmi dalam Agama Hindu. Sejumlah desa di Yogjakarta masih menggelar upacara Wiwitan, upacara sebelum menanam bibit di sawah. 

Sementara bersih desa atau Majemukan dilakukan setelah panen raya, sebagai ungkapan terima kasih kepada Dewi Sri yang sudah menjaga keamanan petani, sekaligus ungkapan syukur kepada Tuhan yang sudah memberikan berkah melimpah. 

Di Bali sedikitnya ada 27 nama upacara terkait penanaman padi. Setiap upacara berhubungan degnan dewa tertentu, seusuai tahap demi tahap. Pada fase Biyukukung, doa dipanjatkan kepada Bharata Surya untuk restu dan perlindungan. Pada fase pengeringan atau Nedunang Pari restu diminta dari Bhatari Sri. Saat ada hama, diusir dengan mantra dan sesajennya. 

Selain dalam bentuk upacara penghormatan pada padi ditunjukan dalam berbagai pamali. Di antaranya tabu untuk membuang-buang beras atau nasi. Beberapa orang tua masih mengajarkan anaknya agar tidak membuang nasi karena nasi akan menangis sedih, sebagai personifikasi dari Dewi Sri. Ada larangan untuk bersiul di dekat lumbung karena akan membuat takut sang dewi. 

Masyarakat Dayak Loksado menerapkan bahuma. menanam padi gunung secara bersama dalam siklus waktu 3-12 tahun.  Bahuma merupakan cara berkomunikasi dengan pencipta. 

Di Bima, NTB ada tradisi sagele, gotong royong menanam padi, sehingga pekerjaan menjadi ringan dan hemat biaya. 

Konsumsi sehari-hari  Orang Indonesia menghabiskan rata-rata 113 kg beras per tahun (teringgi di dunia) Malaysia 90kg/orang/tahun. Thailand 70 kg/orang/tahun. Jepang 50 kg/orang/tahun. Rata-rata dunia 60kg/orang/tahun.

Menghasilkan padi tidak mudah lagi. Tinggal 14,1 juta rumah tangga petani padi. Jumlah ini berkurang sebanyak 60.000 kepala keluarga selama 10 tahun terakhir. Di desa umur petani di atas 35 tahun. Angkatan muda memilih meninggalkan sawah karena dianggap tidak dapat memberikan penghasilan yang layak. 

Penurunan produksi di Pulau jawa karena terjadi penurunan luas wilayah produksi, serangan hama (wereng, tikus), cuaca yang semakin tidak pasti. 

Produksi Gabah kering giling 71,29 juta ton. Impor beras tahun 2013 472 ribu ton senilai 246 juta dolar = Rp. 2,7 Triliun.


Beberapa jenis padi lokal Jawa
Pandan wangi (unggulan Cianjur)
Banyumas: Hitam, Gandamana, Kidangsari, Konyal, Cere Unggul, Cere Kuning, Sari Wangi, Pandan Wangi, Mentik Wangi, Mendali, Sri Wulan, Wangi Lokal.
Bantul: gajah rante, mampu menghasilkan panen 9,6 ton/ha (April 2014) tertinggi di kawasannya)
Banyuwangi: Genjah Arum (Genjah Arum dan Sri Kuning), Ho’ing Jaher, Untup (untup Ruyung, Untup Jelun); Pelang (Pelang Cemeng, Pelang Abang dan Pelang Gini). 

Beberapa Jenis Padi Lokal Kalimantan
Kalimantan terkenal dengan sistem ladang berpindah yang disertai dengan pengetahuan trasidional. Kini selain menghadapi tantangan lahan yang semakin berkurang akibat perkebunan kelapa sawit dan tambang, dampak perubahan iklim kian menyulitkan mereka bertanam padi. 

Kalimantan Barat
memiliki 100 varietas padi lokal dibudidayakan secara turun temurun oleh petani di Kalbar, Sirendah/seredah, Beras Hitam, Pulut (ketan), Beras Merah, Beliah Seluang.

Kalimantan Timur:
Mayas, Adan.

Kalimantan Selatan:
Beras Unus dikenal masyarakat Banjar seabagai satu-satunya beras berkualitas tinggi. 

Kalimantan Tengah
Piasmi dengan keunggulan berumur genjah atau pendek sekitar 100 hari sudah bisa dipanen. 

Beberapa Jenis Padi Lokal Sulawesi
Pulau Sulawesi khususnya  Sulawesi Selatan merupakan lumbung beras Indonesia. 

Beras Lokal: Kamba mete, ketan hitam, lamala Banggai, Kamba yang wangi dan pulen (Lore Lindu, Sulteng). Pare Kaloko, Pare Bulan Pare Mandi, pare tingke, Pare Baea Bonga, Pare Lontong dan Pare Battan (Sulawesi Barat)

Padi gogo Sulawesi Tenggara yang tahan kering: Paebiukolopua, Paebiu Sitoro, Paebiu Tamalaki, Paebiu Angata, Bul0-bulo, Apolo, Wagamba, Sala Bali, Eangko’ito, Wakawondu, Wamengkale, Wangkariri, Ereke-1, X-Guali, Celerang, Y-Bungi, Z-Lapodidi. 

Beberapa jenis padi lokal NTT
Nusa Tenggara Timur dikenal sebagai propinsi jagung dan beragam umbi-umbian. Tetapi beberapa wilayah seperti Lembor, Manggarai di Pulau Flores, Sumba Timur, Sumba Barat Daya dan Rote Ndao merupakan wilayah penghasil padi. Kawasan lainnya di NTT cocok untuk menanam padi gogo yang tahan kering. 

Padi Kodi, padi Gogo dari Sumba Barat, sudah dipas menjadi varietas unggulan nasional. 

Beras Hitam: Aen Metan. Aen Metan lebih enak dan lebih harum. Hare Kwa yang berumur pendek, Wajolaka. 

Beras kita bukan hanya putih saja. Kini masyarakat Indonesia lebih banyak mengkonsumsi beras yang puth bening/transparan. Hal ini merupakan hasil dari penjajahan yang menyatakan putih itu lebih unggul, serta perdagangan beras yang mengikis habis bagian kulit ari agar beras lebih tahan lama. Tidak heran, saat ini kerap dilakukan penambahan bahan pemutih kimia yang berbahaya pada beras agar tampilan beras lebih berkilau. 

Beras putih pun bervariasi. Ada yang putih bening, ada yang putih susu. Saat kulit arinya tidak disosoh, beras putih dikenal sebagai beras pecah kulit, atau sebagian orang mengenalnya sebagai Brown Rice. Kulit ari beras (bekatul) merupakan sumber vitamin B15 terbaik.

Beras Merah, manfaat yang berlimpah. Varian dari coklat kemerahan, coklat muda, beras merah memiliki gen yang memproduksi antosianin pada lapisan uar beras (aleuron) yang merukan sumber warna merah. Antosiamim merupakan antioksidan yang dapat mencegah berbagai penyakit seperti kanker, memperiki kerusakan sel hati (hepatitis dan sirosis), memperlambat penuaan. Kandungan serat lebih tinggi dari beras putih. Sementara kadar gulanya lebih rendah. 

Beras Hitam:
Beras para raja, beras terlarang warna hitam atau keunguan pada beras terjadi karena antosianin yang tinggi (paling tinggi diantara beras lainnya) lebih sedikit gula dan lebih banyak serat serta zat antioksidan lain (vitamin E). Tinggi mineral untuk menanggulangi gizi buruk. 

Bekatul merupakan lapisan sel terluar yang kaya gizi dan bagian terdalam dari sekam. Pada beras yang ditumbuk seara tradisional bekatul menyatu dengan beras menyebabkan warna beras kecoklatan. Pada beras merah dan hitam, bekatul tetap ada. Proses pemisahan bekatul dari bagian beras lainnya dikenal sebagai penyosohan (poslishing) dilakukan untuk memperpanjang masa penyimpanan beras sekaligus membuatnya berwarna putih. 

Kandungan gizi bekatul: Vitamin B1 (tiamin) yang dapat mencegah penyakit beri-beri. Bekatul kaya serat pangan, pati, protein serta mineral. Vitamin B15 berguna untuk mengoptimalkan fungsi organ-organ tubuh. Dulu masyarakat di pedesaan membuat bekatul menjadi dodol dan menjadi cemilan sehari-hari. Kini bekatul banyak dipasarkan sebagai makanan tambahan bagi kesehatan. 


Oryza Sativa L (nama latin padi) yang ditanam di Indonesia memiliki dua subspesies (golongan) yaitu Indica (padi bulu) dan sinica (padi cere)

Padi cere: produktivitasnya tinggi, tahan musim kering dan dapat ditanah yang kurang subur, mudah rebah. 
Padi Bulu/berambut ada ekor pada gabahnya, kualitas tinggi 

Jenis padi berdasarkan tempat tumbuhnya:
Padi Kering (gogo) yang ditanam di dataran tinggi/kering.
Padi Sawah di dataran rendah yang memerlukan penggenangan dan Padi rawa yang membutuhkan sistem pengairan pasang surut.

Keunggulan Padi Lokal + Sistem penanaman yang ramah lingkungan:
Kedaulatan pangan diwujudkan petani dengan benih lokal dan penerapan teknologi yang ramah lingkungan salah satunya SRI (Sytem of Rice Intensification). 

SRI merupakan sistem penanaman padi yang memadukan tiga faktor pertumbuhan agar padi sehat dan mencapai produktivitas maksimal: 
-maksimalisasi jumlah anakan, 
-pertumbuhaan akar
-dan suplai unsur hara, air, oksigen.

Para petani hebat:

Joharipin (38) Indramayu berhasil membuat 60 varietas baru. Salah satunya Bongong. Menghasilkan padi 11.3 ton per ha lebih tinggi dari benih hibrida yang rata-rata 10 ton perhectare.

SusatyoKetua APPOLI  bersama kelompoknya menerapkan sistem Internal Control System (ICS) sistem yang harus dipatuhi dalam menghasilkan beras organik. Tahun lalu beras yang dihasilkan oleh Susatyo berhasil menembus pasar Eropa. 

Mbah Suko (almarhum) dan Mbah Gatot: petani-petani lokal yang mengumpulkan benih padi lokal di Jawa Tengah dan Jogjakarta.

Prof. Surono Danu penemu bibit padi unggul 'Sertani'



Fakta-fakta ini dikumpulkan oleh Perkumpulan Indonesia Berseru /TH

Baca Tulisan terkait:

Locavore: Fakta-fakta Seputar Tempe

Locavore: Fakta-fakta Seputar Sagu

Sagu (Metroxylon sp.) diduga berasal dari Maluku dan Papua. Di wilayah Indonesia Timur, terutama di Maluku dan Irian Jaya menjadi makanan pokok sebagian besar penduduk di wilayah pesirir. 

Nama lokal sagu diberbagi wilayah Indoneisa:
Kirai di Jawa Barat
Bulung, Kresula, Bulu, Rembulung atau Resula di Jawa Tengah
Lapia atau Napia di Ambon
Tumba di Gorontalo
Pagalu atau Tabaro di Toraja
Rambiam atau Rabi di Kepulauan Aru

51,3% Indonesia memiliki areal tanaman sagu terluas di dunia: Sekitar 1,2 juta hektar. 

Sebaran hutan sagu alam: Papua (771,716 ha, sekitar 85% dari luas hutan Sagu nasional).
Maluku, Riau, Sulawesi Tengah dan Kalimantan. 

Luas hutan sagu terus berkurang.  Sagu paling baik ditanam pada wilayah pasang surut dengan air tawar. Daerah rawa yang berair tawar, daerah rawa bergambut, daerah sepanjang aliran sungai. Dalam satu hamparan hutan sagu terdapat beragam jenis sagu dan tanaman lainnya. 
Sagu digunakan juga dalam industri perekat, industri farmasi dan bahan baku bioetanol. Pengembangan sagu yang optimal dapat menghasilkan produktivitas sekitar 6 ton per hektare. Mampu mengurangi 30 persen impor gandum nasional. 

Panen dilakukan saat pohon berumur 6-7 tahun. Tandanya ujung batang mulai membesar, disusul keluarnya selubung bunga dan pelepah daun berubah putih. Tinggi pohon 10-15  m, diameter 60-70 cm, tebal kulit luar 10 cm dan tebal batang yang mengandung sagu 50-60 cm.

Batang sagu merupakan tempat penyimpanan cadangan makanan (karbohidrat) yang menghasilkan pati sagu.  Dalam tiap 100 gram Sagu terdapat 94 gram karbohidrat dan kalori sebesar 353 kkal, sementara beras sebesar 364 kkal per 100 gram bahan. 


Ada 20 jenis produk olahan sagu yang dikembangkan masyarakat. 
Papeda, soun dan ongol-ongol, roti, kue kering, biskuit, kerupuk, pempek, bakso dan mi, sirup bekadar fruktosa tinggi. 

Inovasi pengolahan sagu mampu menggantikan gandum, Impor gandum menjadi salah satu pemicu utama tingginya inflasi. 

Sagu digunakan juga dalam industri perekat, industri farmasi dan bahan baku bioetanol. 

Di pulau Tebing Tinggi, Riau, penanaman Sagu rakyat, terbukti dapat membantu upaya pelestarian lingkungan.  Sayangnya perusahaan yang membuat kanal di tempat itu, justru membahayakan hamparan sagu yang dikelola oleh masyarakat. 



Locavore: Fakta-fakta Seputar Tempe

Tanggal 4 Januari 2015 lalu, Aliansi Untuk Desa Sejahtera bekerjasama dengan Tobucil & Klab menyelenggarakan pameran, workshop dan diskusi dengan tema Pangan Lokal. Acara ini bertujuan meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap persoalan pangan lokal.


Ada raja tempe di Jepang, Rustono dari Grobogan, Jawa Tengah, Indonesia yang memberi merek untuk produk tempe buatannya 'Rusto's Tempe'.

Jepang bersemangat menggarap tempe sejak tahun 1996, saat terjadi wabah diare akibat E-Coli O-175 yang memakan korban jiwa anak-anak. Sejak itu mereka menggarap tempe sebagai tempe bakar, tempe tempura, tempe miso, tempe steak, tempe burger dan tempe kroket.

Jepang punya buku tentang tempe 'The Book of Tempeh' ditulis William Shurtleft dan Akiko Aoujaga tentang pembuatan dan manfaat tempe dengan latar belakang budaya Indonesia terutama Jawa.

Berbagai penelitian di sejumlah negara seperti Jerman, Jepang dan Ameria Serikat berusaha mengembangkan galur (strain) unggul Rhizopus untuk menghasilkan tempe dengan lebih cepat, berkualitas atau memperbaiki kandungan gizi tempe. 

Universitas North Carolina, Amerika Serikat. Temuan: genestein dan fitoestrogen dalam tempe dapat mencegah kanker prostat dan payudara.

Tempe dimulai di Indonesia, kemudian mendunia. Kaum vegetarian menggunakan tempe sebagai pengganti daging. Tempe diproduksi di banyak tempat di dunia, tidak hanya di Indoensia.

Generasi Tempe
1. Generai I seperti tempe saat ini yang kita makan sehari-hari.
2. Gerasi II baru sebatas penelitian di Indonesia: Pengembangan tempe oleh lembaga penelitian di Indonesia:
- Jus tempe (LIPI)
- Tempe yang dikalengkan untuk memperpanjang waktu simpan tempe (BPPT)
Sementara Jepang sudah mengembangkannya dalam bentuk kacang goreng tepung, karinto, abon, miso tempe/tauco.
3. Generasi III tempe dijadikan bahan bahan isolasi superoksida. Dismutase untuk mencegah penuaan dini dan penyakit degeneratif lainnya. Dikembangkan oleh Jerman.

Kepang Rhizopus atau ragi tempe yang biasa digunakan: Rhizopus Oligosporus, Rh. Oryzae, Rh. stolonifer (kapang roti) atau Rh. Arhizus.

Seperti tahu telah menyelamatkan kesehatan rakyat Cina, demikian pula tempe telah menyelamatkan rakyat Jawa. 
(Dr. Onghokham di Kompas, 1 Januari 2000: 'Tempe, Sumbangan Jawa untuk Dunia")

Tempe merupakan makanan asli Jawa yang berkembang di abad ke19. Hal ini disebabkan oleh kenaikan jumlah penduduk yang amat tinggi, hutan yang mengecil karena diubah menjadi perkebunan kolonial, paksaan menjadi kuli tanam paksa, sehingga sulit untuk berburu, memancing, berternak, sehingga makanan orang Jawa menjadi tanpa daging. Kondisi inilah yang memaksa munculnya tempe.  Penyebaran kedelai secara luas di Jawa kemungkinan besar dimulai pada abad ke 19.


Catatan tertua tentang tempe: Ensyclopeaedia van Nederlandsch Indie (1922). Mencatat tempe sebagai "kue" yang terbuat dari kacang kedelai melalui proses peragian dan merupakan makanan kerakyatan (volk's voedsel)'.

Manfaat dalam sepotong Tempe
  • Penelitian Jepang menyebutkan kandungan gizi tempe tidak kalah dari daging sapi. 
  • Protein nabati yang tinggi baik kualitas maupun kuantitasnya, sehingga bisa menjadi pengganti protein daging, telur maupun susu. 
  • Asam lemak esensial, antioksidan yang dapat menghambat proses penuaan
  • Isoflavon yang berfungsi sebagai anti kanker, vitamin B-12 yang tinggi, yang biasanya hanya terdapat pada sumber pangan hewani. 
  • Antibiotik alami yang dapat menghambat munculnya berbagai penyakit. Jamur Dhizipus memproduksi zat antibiotika alami untik melawan sejumlah organisme mrugikan. Zat antibiotika alami dlam tempe ini bisa jadi obat untuk disentri saat rutin dikonsumsi.
  • Mudah dicerna, baik bagi orang yang punya keseulitan mencerna makanan berportein tinggi yang berasal dari tumbuhan. Proses fermentasi tempe membuat kacang kedelai menjadi lebih lembut, karena enzim yang dihasilkan ragi sudah mencerna nutrisi di biji kedelai. 
  • Baik bagi pengidap diabetes yang kerap bermasalah dengan sumber protein hewani. Protein dan seratnya juga dapat mencegah gula darah dan menjaga kadar gula darah tetep terkontrol. 


LinkWithin

Related Posts with Thumbnails