Tampilkan postingan dengan label Warisan Nusantara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Warisan Nusantara. Tampilkan semua postingan

21.1.15

Locavore: Jika Bisa Makan Yang Lokal, Kenapa Harus Makan Yang Impor?

Tanggal 4 Januari 2015 lalu, Aliansi Untuk Desa Sejahtera bekerjasama dengan Tobucil & Klab menyelenggarakan pameran, workshop dan diskusi dengan tema Pangan Lokal. Acara ini bertujuan meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap persoalan pangan lokal.


Siapa yang mengira 'Mocav' adalah nama jenis tepung singkong. Dari namanya, orang bisa dengan mudah mengira ini sejenis nama makanan impor. Selama ini, tidak banyak orang menggunakan jenis tepung lokal ini untuk bahan olahan makanan.  Padahal mokav adalah bahan olahan pangan asli Indonesia selain tepung sukun, gayong atau sagu.

Selama ini tepung sebagai bahan pangan, di dominasi oleh tepung terigu yang berbahan gandum yang di impor dari luar negeri.  “Banyak kuliner yang booming di Indonesia, tetapi bahan dasarnya impor. Bahan-bahan pangan lokal kini harus bersaing ketat dengan bahan import, padahal negara ini kaya. Isu pangan ini sudah menjadi bagian dari hak asasi manusia yang harus diperjuangkan,” jelas Tejo Wahyu Jatmiko, Koordinator Nasional Indonesia Berseru dan juga penggiat Aliansi Untuk Desa Sejahtera. 

Berdasarkan data BPS pada 2003 hingga 2013, pemerintah mengeluarkan anggaran sebesar 10 persen atau sekitar 130 triliun rupiah dari APBN hanya untuk mengimport kebutuhan pangan seperti terigu, beras, gandum, jagung. Tejo Wahyu Jatmiko berpendapat isu pangan menjadi satu masalah yang perlu dipecahkan. Menurutnya,  jika tidak segera bertindak, maka Indonesia akan berubah dari negara penghasil menjadi negara pengimpor.

Mengubah pola makan seperti inilah yang terus dikumandangkan oleh Indonesia Berseru. Tujuannya hanya satu, supaya Indonesia tidak berubah menjadi negara kaya yang kerap mengimpor kebutuhan pokok. Misalkan, mokav bisa menjadi bahan dasar untuk membuat brownie, bakpao, dan cake roll. Bahkan tepung sukun bisa menjadi pengganti untuk membuat kroket. Meskipun  dibuat dari bahan tepung lokal, cemilan-cemilan ini tidak kalah lezat di banding ketika dibuat dari bahan terigu.



“Produk lokal kita tidak kalah dengan produk import, tepung-tepung lokal kita juga bisa digunakan untuk membuat panganan kelas internasional. Tapi kenapa kita harus selalu bergantung pada produk import?” ujar Program Manager Indonesia Berseru, Ida Ronauli dalam acara Bincang Sore, Locavore 100% Local Food yang diselenggarakan di Tobucil & Klabs, awal Januari lalu.

Ida juga berpandangan, berbagai macam tepung asli Indonesia juga lebih memiliki keunggulan, yakni  ramah terhadap tubuh. Artinya, kandungan karbohidratnya lebih rendah ketimbang terigu lantaran terbuat dari umbi-umbian.

Sumber: Materi Presentasi Tejo W.J. - Aliansi Untuk Desa Sejahtera - Perkumpulan Indonesia Berseru dari data BPS
Bukan hanya terigu saja yang memungkinkan untuk diganti dengan tepung lokal. Makanan pokok masyarakat Indonesia juga perlu diubah, dari nasi ke umbi-umbian.  Selain lebih menyehatkan, umbi-umbian juga tahan dengan kondisi iklim di Indonesia. “Iklim di Indonesia kan mulai berubah drastis. Kemaraunya lebih panjang dan sangat panas, sementara ketika hujan, curahnya makin tinggi. Dan hanya umbi-umbian yang mampu bertahan dalam kondisi cuaca seperti itu,” tambah Ida.

Sumber: Materi Presentasi Tejo W.J. - Aliansi Untuk Desa Sejahtera - Perkumpulan Indonesia Berseru dari data BPS
Hanya saja mengubah cita rasa impor ke cita rasa lokal, bukanlah hal yang mudah. Pola pikir masyarakat Indonesia sudah terlanjur dimanjakan dengan berbagai prodak import demi tujuan kepraktisan. Masyarakat kekinian juga kerap mengganggap, makanan dari umbi-umbian berada pada kasta terendah. “Anak-anak sekarang memiliki pemikiran sendiri, bahwa umbi-umbian adalah makanan kelas rendah yang biasa dimakan supir dan pembantu di rumahnya. Nah, ini juga jadi tantangan untuk mengubah pola pikir mereka, bahwa sebenarnya umbi lebih baik ketimbang kentang goreng,” tegas Ida. (Mega/TH)


Locavore = orang yang mengkonsumsi produk-produk lokal.

Baca tulisan terkait lainnya:

Locavore: Workshop Buku Resep Kolektif 'Menjaga Pengetahuan, Mewariskan Rasa'

Tanggal 4 Januari 2015 lalu, Aliansi Untuk Desa Sejahtera bekerjasama dengan Tobucil & Klab menyelenggarakan pameran, workshop dan diskusi dengan tema Pangan Lokal. Salah satu yang menjadi kegiatan di acara ini adalah workshop book binding membuat buku kumpulan resep bersama vitarlenology.  

Setiap peserta membawa minimal satu resep masakan favoritnya dan menuliskannya kembali dengan tulisan tangan mereka masing-masing dalam secarik kertas. Kemudian lembaran-lembaran resep tulisan tangan ini dipindai, di susun lalu di cetak dengan mesin printer dan setelah itu di jilid dengan teknik 'jahit sederhana'. Setiap peserta  yang berpartisipasi dalam workshop ini, membawa satu salinan buku kumpulan resep.

Selama ini, kita seringkali menerima begitu saja makanan yang tersaji di atas meja, tanpa berpikir bagaimana makanan itu tersaji. Dan seringkali pengalaman rasa itu hilang ketika orang yang memasaknya sudah tidak ada lagi. Dengan mencatat resepnya dan pengetahuan rasa itu bisa terjaga dan di teruskan  dari generasi ke generasi.

Kembali ke bahan pangan lokal juga berarti kembali mengumpulkan dan mencatat kembali rasa dan ingatan yang 'lokal' itu, mengumpulkan dan mencatat pengetahuannya. Dan itu bisa dimulai dari apa yang biasa dimakan di rumah, bisa dimulai dari mengumpulkan dan mencatat resep-resep masakan rumah. Yuk..! (TH)

Baca tulisan terkait lainnya:

Locavore: Fakta-fakta Seputar Tempe


Locavore: Resep-Resep Cemilan Dari Tepung Mokav dan Tepung Ketan Hitam

Tanggal 4 Januari 2015 lalu, Aliansi Untuk Desa Sejahtera bekerjasama dengan Tobucil & Klab menyelenggarakan pameran, workshop dan diskusi dengan tema Pangan Lokal. Di acara tersebut hidangan-hidangan cemilan buatan Relsa Kukis dari bahan tepung non gandum (mokav, sukun, tapioka, beras) tersaji dan menemani diskusi sore yang berlangsung hangat dan akrab. Yang belum sempat mengicipi cemilan-cemilan lezat ini, Kenti Prahmanti dari Relsa Kukis berbagi resep cara membuat hidangan-hidangan ini. Selamat Mencoba :)


Brownies Mokav

Bahan:
125 gr  Palm Suiker/gula palem
75   gr  Gula Pasir
250 gr  Dark Cooking Chocolate/DCC  (cincang)
125 gr  Butter/Margarine
250 gr  Tepung Mokav (tepung berbahan singkong yang sudah di olah)
125 gr  Minyak Sayur
25   gr  Coklat bubuk
4  butir Telur
Almond/kenari/oreo/kacang mete secukupnya

Cara Membuat:
1. Masukan Dark Cooking Chocolate + butter dalam mangkok kaca, taruh di atas panci yang berisi air. Panaskan hingga lumer.
2. Dalam mangkuk terpisah, kocok gula palem + gula pasir + telur. Kocok kurang lebih 10 menit (Jangan sampai putih dan kental).
3. Masukan DCC yang sudah di lumerkan ke dalam mangkuk kocokan gula palem, gula pasir dan telur. Lalu kocok sampai merata.
4. Setelah itu tambahkan tepung mokav + coklat bubuk, bergatian dengan minyak sayur. Kocok sampai tercampur rata. 
5. Masukan ke dalam loyang yang telah diolesi mentega. 
6. Taburi adonan yang sudah siap di panggang dengan almond/kenari/oreo/kacang mete.
7. Panggang pada suhu 180 derajat celsius hingga matang, kurang lebih 40 menit.

Hasil adonan ini untuk 2 loyang brownies.

---

Bolu Gulung Mokav

Bahan:
5  butir telur
3  kuning telur
50 gr Gula pasir
75 gr Tepung mokav
125 gr mentega di cairkan
1 sendok teh SP (bisa diperoleh di toko bahan kue)

Cara membuat:
1. Kocok telur + gula pasir + tepung mokav + SP menggunakan mixer dengan kecepatan tinggi hingga putih dan kental.
2. Masukan mentega yang telah dicairkan, aduk rata.
3. Siapkan kertas roti dan olesi dengan minyak loyang atau mentega
4. Masukan adonan ke dalam loyang 30 x 30 cm yang telah di lapisi oleh kertas roti.
5. Panggang pada suhu 180 derajat celsius hingga adonan matang berwarna coklat kekuningan. Kurang lebih 50 menit.
6. Angkat  adonan, dinginkan.
7. Siapkan kertas roti lain. Balikan adonan di atas kertas roti lain. Lepaskan kertas roti yang menempel pada adonan yang telah matang. Olesi adonan tersebut dengan selai atau krim, lalu gulung .
---

Risoles Kornet Keju

Bahan:
300 gr tepung beras + 150 gr tepung tapioka + 50 gr tepung maizena  --> campur lalu di ayak jadi satu.
4 butir telur
400 cc susu cair
2 Sendok Makan Mentega dicairkan
garam secukupnya
250 gr tepung panir

Isi:
1 kaleng kornet
100 gr keju ceddar parut

Cara Membuat:
1. Aduk campuran tepung + garam secukupnya, aduk tambahkan susu cair sedikit demi sedikit. Aduk menggunakan pengaduk adonan 'ballon whisk' hingga rata. 
2. Tambahkan telur. Aduk rata.
3. Masukkan mentega cair, aduk rata.
4. Panaskan pan, olesi minyak/mentega, masukkan adonan satu sendok sayur, ratakan hingga terbentuk kulit risoles. 
5. Setelah mendapatkan kulit risoles isi dengan satu sendok teh kornet dan keju parut, lipat lalu gulung. 
6. Celupkan risoles ke dalam adonan pencelup yang berupa kocokan telur, lalu masukan ke tepung panir.
7. Goreng dengan menggunakan minyak panas.

----

Cupcake Ketan Hitam

Bahan:
6 Butir Telur
250 gr Gula pasir
1 sendok makan SP
200 gr tepung ketan hitam + 50 gr Maizena  --> campurkan
250 gr butter di lelehkan.

Cara Membuat:
1. Kocok telur + gula + Sp hingga putih dan kental.
2. Masukkan campuran tepung ketan hitam + maizena, aduk.
3. Tambahkan butter cair, aduk hingga rata.
4. Siapkan loyang cupcake, beri paper cup.
5. Isi hingga 3/4 bagian saja.
6. Panggang pada suhu 160 derajat celsius (kurang lebih 30 menit).
7. Hidangkan. 

Anda juga bisa menambahkan krim pada bagian atas cupcake.

Butter Cream

Bahan:
125 gr mentega putih tawar
125 gr mentega putih asin
1/2 kaleng susu kental manis

Cara Membuat:
1. Kocok semua bahan hingga putih dan mengembang.
2. Masukkan ke dalam piping bag, dan keluarkan  di atas cupcake ketan hitam.
3. Taburi krim dengan sprinkle sugar atau cerry atau strawbery sesuai selera.


Baca tulisan terkait lainnya: 

Locavore: Fakta-fakta Seputar Tempe

Locavore: Fakta-fakta Seputar Padi

Tanggal 4 Januari 2015 lalu, Aliansi Untuk Desa Sejahtera bekerjasama dengan Tobucil & Klab menyelenggarakan pameran, workshop dan diskusi dengan tema Pangan Lokal. Acara ini bertujuan meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap persoalan pangan lokal.

Padi Sumber kebudayaan kita sebagai makanan pokok dan mendapatkan penghormatan khusus dalam banyak kebudayaan di Indonesia. Sayangnya nilai ini perlahan menghilang saat pertanian padi moderen di terapkan. 

Kisah tentang padi dan nasi yang secara khusus dipaparkan dalam satu wawacan tersendiri menggambarkan bagaimana padi sangat terhormat bagi masyarakat Sunda. 

Asal-usul padi yang berkaitan degnan Nyai Sri Pohaci atau Nyai Asri, Dewi yang dipercaya menciptakan padi di dunia. 

Ada Sulanjana, yang mengasihi orang Sunda dengan cara melindungi padi dari hama. Sementara Semar rela turun ke bumi untuk mengajarkan manusia bagaimana menanak nasi, setelah Nawang Wulan dalam kisah Jaka Tarub dan Tujuh Bidadari pergi tanpa memberi tahu manusia bagaimana cara menanak nasi. 

Ritual-ritual ini kian hilang kecuali masih dijalankan oleh penganut kepercayaan Sunda Lama (Sunda Wiwitan). Upacara penghormatan Dewi Sri yang paling tekenal pada Masyarakat Sunda adalah Seren Taun di Kasepuhan. 

Di Jawa Tengah dan Jawa Timur, Dewi Sri selalu dikaitkan dengan Dewi Lakshmi dalam Agama Hindu. Sejumlah desa di Yogjakarta masih menggelar upacara Wiwitan, upacara sebelum menanam bibit di sawah. 

Sementara bersih desa atau Majemukan dilakukan setelah panen raya, sebagai ungkapan terima kasih kepada Dewi Sri yang sudah menjaga keamanan petani, sekaligus ungkapan syukur kepada Tuhan yang sudah memberikan berkah melimpah. 

Di Bali sedikitnya ada 27 nama upacara terkait penanaman padi. Setiap upacara berhubungan degnan dewa tertentu, seusuai tahap demi tahap. Pada fase Biyukukung, doa dipanjatkan kepada Bharata Surya untuk restu dan perlindungan. Pada fase pengeringan atau Nedunang Pari restu diminta dari Bhatari Sri. Saat ada hama, diusir dengan mantra dan sesajennya. 

Selain dalam bentuk upacara penghormatan pada padi ditunjukan dalam berbagai pamali. Di antaranya tabu untuk membuang-buang beras atau nasi. Beberapa orang tua masih mengajarkan anaknya agar tidak membuang nasi karena nasi akan menangis sedih, sebagai personifikasi dari Dewi Sri. Ada larangan untuk bersiul di dekat lumbung karena akan membuat takut sang dewi. 

Masyarakat Dayak Loksado menerapkan bahuma. menanam padi gunung secara bersama dalam siklus waktu 3-12 tahun.  Bahuma merupakan cara berkomunikasi dengan pencipta. 

Di Bima, NTB ada tradisi sagele, gotong royong menanam padi, sehingga pekerjaan menjadi ringan dan hemat biaya. 

Konsumsi sehari-hari  Orang Indonesia menghabiskan rata-rata 113 kg beras per tahun (teringgi di dunia) Malaysia 90kg/orang/tahun. Thailand 70 kg/orang/tahun. Jepang 50 kg/orang/tahun. Rata-rata dunia 60kg/orang/tahun.

Menghasilkan padi tidak mudah lagi. Tinggal 14,1 juta rumah tangga petani padi. Jumlah ini berkurang sebanyak 60.000 kepala keluarga selama 10 tahun terakhir. Di desa umur petani di atas 35 tahun. Angkatan muda memilih meninggalkan sawah karena dianggap tidak dapat memberikan penghasilan yang layak. 

Penurunan produksi di Pulau jawa karena terjadi penurunan luas wilayah produksi, serangan hama (wereng, tikus), cuaca yang semakin tidak pasti. 

Produksi Gabah kering giling 71,29 juta ton. Impor beras tahun 2013 472 ribu ton senilai 246 juta dolar = Rp. 2,7 Triliun.


Beberapa jenis padi lokal Jawa
Pandan wangi (unggulan Cianjur)
Banyumas: Hitam, Gandamana, Kidangsari, Konyal, Cere Unggul, Cere Kuning, Sari Wangi, Pandan Wangi, Mentik Wangi, Mendali, Sri Wulan, Wangi Lokal.
Bantul: gajah rante, mampu menghasilkan panen 9,6 ton/ha (April 2014) tertinggi di kawasannya)
Banyuwangi: Genjah Arum (Genjah Arum dan Sri Kuning), Ho’ing Jaher, Untup (untup Ruyung, Untup Jelun); Pelang (Pelang Cemeng, Pelang Abang dan Pelang Gini). 

Beberapa Jenis Padi Lokal Kalimantan
Kalimantan terkenal dengan sistem ladang berpindah yang disertai dengan pengetahuan trasidional. Kini selain menghadapi tantangan lahan yang semakin berkurang akibat perkebunan kelapa sawit dan tambang, dampak perubahan iklim kian menyulitkan mereka bertanam padi. 

Kalimantan Barat
memiliki 100 varietas padi lokal dibudidayakan secara turun temurun oleh petani di Kalbar, Sirendah/seredah, Beras Hitam, Pulut (ketan), Beras Merah, Beliah Seluang.

Kalimantan Timur:
Mayas, Adan.

Kalimantan Selatan:
Beras Unus dikenal masyarakat Banjar seabagai satu-satunya beras berkualitas tinggi. 

Kalimantan Tengah
Piasmi dengan keunggulan berumur genjah atau pendek sekitar 100 hari sudah bisa dipanen. 

Beberapa Jenis Padi Lokal Sulawesi
Pulau Sulawesi khususnya  Sulawesi Selatan merupakan lumbung beras Indonesia. 

Beras Lokal: Kamba mete, ketan hitam, lamala Banggai, Kamba yang wangi dan pulen (Lore Lindu, Sulteng). Pare Kaloko, Pare Bulan Pare Mandi, pare tingke, Pare Baea Bonga, Pare Lontong dan Pare Battan (Sulawesi Barat)

Padi gogo Sulawesi Tenggara yang tahan kering: Paebiukolopua, Paebiu Sitoro, Paebiu Tamalaki, Paebiu Angata, Bul0-bulo, Apolo, Wagamba, Sala Bali, Eangko’ito, Wakawondu, Wamengkale, Wangkariri, Ereke-1, X-Guali, Celerang, Y-Bungi, Z-Lapodidi. 

Beberapa jenis padi lokal NTT
Nusa Tenggara Timur dikenal sebagai propinsi jagung dan beragam umbi-umbian. Tetapi beberapa wilayah seperti Lembor, Manggarai di Pulau Flores, Sumba Timur, Sumba Barat Daya dan Rote Ndao merupakan wilayah penghasil padi. Kawasan lainnya di NTT cocok untuk menanam padi gogo yang tahan kering. 

Padi Kodi, padi Gogo dari Sumba Barat, sudah dipas menjadi varietas unggulan nasional. 

Beras Hitam: Aen Metan. Aen Metan lebih enak dan lebih harum. Hare Kwa yang berumur pendek, Wajolaka. 

Beras kita bukan hanya putih saja. Kini masyarakat Indonesia lebih banyak mengkonsumsi beras yang puth bening/transparan. Hal ini merupakan hasil dari penjajahan yang menyatakan putih itu lebih unggul, serta perdagangan beras yang mengikis habis bagian kulit ari agar beras lebih tahan lama. Tidak heran, saat ini kerap dilakukan penambahan bahan pemutih kimia yang berbahaya pada beras agar tampilan beras lebih berkilau. 

Beras putih pun bervariasi. Ada yang putih bening, ada yang putih susu. Saat kulit arinya tidak disosoh, beras putih dikenal sebagai beras pecah kulit, atau sebagian orang mengenalnya sebagai Brown Rice. Kulit ari beras (bekatul) merupakan sumber vitamin B15 terbaik.

Beras Merah, manfaat yang berlimpah. Varian dari coklat kemerahan, coklat muda, beras merah memiliki gen yang memproduksi antosianin pada lapisan uar beras (aleuron) yang merukan sumber warna merah. Antosiamim merupakan antioksidan yang dapat mencegah berbagai penyakit seperti kanker, memperiki kerusakan sel hati (hepatitis dan sirosis), memperlambat penuaan. Kandungan serat lebih tinggi dari beras putih. Sementara kadar gulanya lebih rendah. 

Beras Hitam:
Beras para raja, beras terlarang warna hitam atau keunguan pada beras terjadi karena antosianin yang tinggi (paling tinggi diantara beras lainnya) lebih sedikit gula dan lebih banyak serat serta zat antioksidan lain (vitamin E). Tinggi mineral untuk menanggulangi gizi buruk. 

Bekatul merupakan lapisan sel terluar yang kaya gizi dan bagian terdalam dari sekam. Pada beras yang ditumbuk seara tradisional bekatul menyatu dengan beras menyebabkan warna beras kecoklatan. Pada beras merah dan hitam, bekatul tetap ada. Proses pemisahan bekatul dari bagian beras lainnya dikenal sebagai penyosohan (poslishing) dilakukan untuk memperpanjang masa penyimpanan beras sekaligus membuatnya berwarna putih. 

Kandungan gizi bekatul: Vitamin B1 (tiamin) yang dapat mencegah penyakit beri-beri. Bekatul kaya serat pangan, pati, protein serta mineral. Vitamin B15 berguna untuk mengoptimalkan fungsi organ-organ tubuh. Dulu masyarakat di pedesaan membuat bekatul menjadi dodol dan menjadi cemilan sehari-hari. Kini bekatul banyak dipasarkan sebagai makanan tambahan bagi kesehatan. 


Oryza Sativa L (nama latin padi) yang ditanam di Indonesia memiliki dua subspesies (golongan) yaitu Indica (padi bulu) dan sinica (padi cere)

Padi cere: produktivitasnya tinggi, tahan musim kering dan dapat ditanah yang kurang subur, mudah rebah. 
Padi Bulu/berambut ada ekor pada gabahnya, kualitas tinggi 

Jenis padi berdasarkan tempat tumbuhnya:
Padi Kering (gogo) yang ditanam di dataran tinggi/kering.
Padi Sawah di dataran rendah yang memerlukan penggenangan dan Padi rawa yang membutuhkan sistem pengairan pasang surut.

Keunggulan Padi Lokal + Sistem penanaman yang ramah lingkungan:
Kedaulatan pangan diwujudkan petani dengan benih lokal dan penerapan teknologi yang ramah lingkungan salah satunya SRI (Sytem of Rice Intensification). 

SRI merupakan sistem penanaman padi yang memadukan tiga faktor pertumbuhan agar padi sehat dan mencapai produktivitas maksimal: 
-maksimalisasi jumlah anakan, 
-pertumbuhaan akar
-dan suplai unsur hara, air, oksigen.

Para petani hebat:

Joharipin (38) Indramayu berhasil membuat 60 varietas baru. Salah satunya Bongong. Menghasilkan padi 11.3 ton per ha lebih tinggi dari benih hibrida yang rata-rata 10 ton perhectare.

SusatyoKetua APPOLI  bersama kelompoknya menerapkan sistem Internal Control System (ICS) sistem yang harus dipatuhi dalam menghasilkan beras organik. Tahun lalu beras yang dihasilkan oleh Susatyo berhasil menembus pasar Eropa. 

Mbah Suko (almarhum) dan Mbah Gatot: petani-petani lokal yang mengumpulkan benih padi lokal di Jawa Tengah dan Jogjakarta.

Prof. Surono Danu penemu bibit padi unggul 'Sertani'



Fakta-fakta ini dikumpulkan oleh Perkumpulan Indonesia Berseru /TH

Baca Tulisan terkait:

Locavore: Fakta-fakta Seputar Tempe

Locavore: Fakta-fakta Seputar Sagu

Sagu (Metroxylon sp.) diduga berasal dari Maluku dan Papua. Di wilayah Indonesia Timur, terutama di Maluku dan Irian Jaya menjadi makanan pokok sebagian besar penduduk di wilayah pesirir. 

Nama lokal sagu diberbagi wilayah Indoneisa:
Kirai di Jawa Barat
Bulung, Kresula, Bulu, Rembulung atau Resula di Jawa Tengah
Lapia atau Napia di Ambon
Tumba di Gorontalo
Pagalu atau Tabaro di Toraja
Rambiam atau Rabi di Kepulauan Aru

51,3% Indonesia memiliki areal tanaman sagu terluas di dunia: Sekitar 1,2 juta hektar. 

Sebaran hutan sagu alam: Papua (771,716 ha, sekitar 85% dari luas hutan Sagu nasional).
Maluku, Riau, Sulawesi Tengah dan Kalimantan. 

Luas hutan sagu terus berkurang.  Sagu paling baik ditanam pada wilayah pasang surut dengan air tawar. Daerah rawa yang berair tawar, daerah rawa bergambut, daerah sepanjang aliran sungai. Dalam satu hamparan hutan sagu terdapat beragam jenis sagu dan tanaman lainnya. 
Sagu digunakan juga dalam industri perekat, industri farmasi dan bahan baku bioetanol. Pengembangan sagu yang optimal dapat menghasilkan produktivitas sekitar 6 ton per hektare. Mampu mengurangi 30 persen impor gandum nasional. 

Panen dilakukan saat pohon berumur 6-7 tahun. Tandanya ujung batang mulai membesar, disusul keluarnya selubung bunga dan pelepah daun berubah putih. Tinggi pohon 10-15  m, diameter 60-70 cm, tebal kulit luar 10 cm dan tebal batang yang mengandung sagu 50-60 cm.

Batang sagu merupakan tempat penyimpanan cadangan makanan (karbohidrat) yang menghasilkan pati sagu.  Dalam tiap 100 gram Sagu terdapat 94 gram karbohidrat dan kalori sebesar 353 kkal, sementara beras sebesar 364 kkal per 100 gram bahan. 


Ada 20 jenis produk olahan sagu yang dikembangkan masyarakat. 
Papeda, soun dan ongol-ongol, roti, kue kering, biskuit, kerupuk, pempek, bakso dan mi, sirup bekadar fruktosa tinggi. 

Inovasi pengolahan sagu mampu menggantikan gandum, Impor gandum menjadi salah satu pemicu utama tingginya inflasi. 

Sagu digunakan juga dalam industri perekat, industri farmasi dan bahan baku bioetanol. 

Di pulau Tebing Tinggi, Riau, penanaman Sagu rakyat, terbukti dapat membantu upaya pelestarian lingkungan.  Sayangnya perusahaan yang membuat kanal di tempat itu, justru membahayakan hamparan sagu yang dikelola oleh masyarakat. 



Locavore: Fakta-fakta Seputar Tempe

Tanggal 4 Januari 2015 lalu, Aliansi Untuk Desa Sejahtera bekerjasama dengan Tobucil & Klab menyelenggarakan pameran, workshop dan diskusi dengan tema Pangan Lokal. Acara ini bertujuan meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap persoalan pangan lokal.


Ada raja tempe di Jepang, Rustono dari Grobogan, Jawa Tengah, Indonesia yang memberi merek untuk produk tempe buatannya 'Rusto's Tempe'.

Jepang bersemangat menggarap tempe sejak tahun 1996, saat terjadi wabah diare akibat E-Coli O-175 yang memakan korban jiwa anak-anak. Sejak itu mereka menggarap tempe sebagai tempe bakar, tempe tempura, tempe miso, tempe steak, tempe burger dan tempe kroket.

Jepang punya buku tentang tempe 'The Book of Tempeh' ditulis William Shurtleft dan Akiko Aoujaga tentang pembuatan dan manfaat tempe dengan latar belakang budaya Indonesia terutama Jawa.

Berbagai penelitian di sejumlah negara seperti Jerman, Jepang dan Ameria Serikat berusaha mengembangkan galur (strain) unggul Rhizopus untuk menghasilkan tempe dengan lebih cepat, berkualitas atau memperbaiki kandungan gizi tempe. 

Universitas North Carolina, Amerika Serikat. Temuan: genestein dan fitoestrogen dalam tempe dapat mencegah kanker prostat dan payudara.

Tempe dimulai di Indonesia, kemudian mendunia. Kaum vegetarian menggunakan tempe sebagai pengganti daging. Tempe diproduksi di banyak tempat di dunia, tidak hanya di Indoensia.

Generasi Tempe
1. Generai I seperti tempe saat ini yang kita makan sehari-hari.
2. Gerasi II baru sebatas penelitian di Indonesia: Pengembangan tempe oleh lembaga penelitian di Indonesia:
- Jus tempe (LIPI)
- Tempe yang dikalengkan untuk memperpanjang waktu simpan tempe (BPPT)
Sementara Jepang sudah mengembangkannya dalam bentuk kacang goreng tepung, karinto, abon, miso tempe/tauco.
3. Generasi III tempe dijadikan bahan bahan isolasi superoksida. Dismutase untuk mencegah penuaan dini dan penyakit degeneratif lainnya. Dikembangkan oleh Jerman.

Kepang Rhizopus atau ragi tempe yang biasa digunakan: Rhizopus Oligosporus, Rh. Oryzae, Rh. stolonifer (kapang roti) atau Rh. Arhizus.

Seperti tahu telah menyelamatkan kesehatan rakyat Cina, demikian pula tempe telah menyelamatkan rakyat Jawa. 
(Dr. Onghokham di Kompas, 1 Januari 2000: 'Tempe, Sumbangan Jawa untuk Dunia")

Tempe merupakan makanan asli Jawa yang berkembang di abad ke19. Hal ini disebabkan oleh kenaikan jumlah penduduk yang amat tinggi, hutan yang mengecil karena diubah menjadi perkebunan kolonial, paksaan menjadi kuli tanam paksa, sehingga sulit untuk berburu, memancing, berternak, sehingga makanan orang Jawa menjadi tanpa daging. Kondisi inilah yang memaksa munculnya tempe.  Penyebaran kedelai secara luas di Jawa kemungkinan besar dimulai pada abad ke 19.


Catatan tertua tentang tempe: Ensyclopeaedia van Nederlandsch Indie (1922). Mencatat tempe sebagai "kue" yang terbuat dari kacang kedelai melalui proses peragian dan merupakan makanan kerakyatan (volk's voedsel)'.

Manfaat dalam sepotong Tempe
  • Penelitian Jepang menyebutkan kandungan gizi tempe tidak kalah dari daging sapi. 
  • Protein nabati yang tinggi baik kualitas maupun kuantitasnya, sehingga bisa menjadi pengganti protein daging, telur maupun susu. 
  • Asam lemak esensial, antioksidan yang dapat menghambat proses penuaan
  • Isoflavon yang berfungsi sebagai anti kanker, vitamin B-12 yang tinggi, yang biasanya hanya terdapat pada sumber pangan hewani. 
  • Antibiotik alami yang dapat menghambat munculnya berbagai penyakit. Jamur Dhizipus memproduksi zat antibiotika alami untik melawan sejumlah organisme mrugikan. Zat antibiotika alami dlam tempe ini bisa jadi obat untuk disentri saat rutin dikonsumsi.
  • Mudah dicerna, baik bagi orang yang punya keseulitan mencerna makanan berportein tinggi yang berasal dari tumbuhan. Proses fermentasi tempe membuat kacang kedelai menjadi lebih lembut, karena enzim yang dihasilkan ragi sudah mencerna nutrisi di biji kedelai. 
  • Baik bagi pengidap diabetes yang kerap bermasalah dengan sumber protein hewani. Protein dan seratnya juga dapat mencegah gula darah dan menjaga kadar gula darah tetep terkontrol. 


12.9.14

Jeans, Dari Pekerja Hingga Mendunia

Siapa yang tak suka dengan celana jeans. Selain ringkas dan berkesan kasual, celana jeans sangat nyaman digunakan dalam keseharian. Rasa-rasanya hampir segala jenis manusia dari berbagai strata umur gemar dengan celana berbahan tebal tersebut. Berbagai model jeans lalu lahir dan mendapatkan penggemarnya.

Meski mendunia, jeans sendiri pada awalnya justru lahir dari kaum miskin, kelas pekerja kerah biru. Ya, celana jeans pada awal kemunculannya banyak digunakan oleh para penambang emas di Amerika. Adalah Levi Strauss, seorang Jerman yang memopulerkannya. Bermodal beberapa lembar tekstil ia berangkat ke Amerika. Tak dinyana, barang bawaannya laku. Hanya tersisa segulung kain kanvas. Sisa kain tersebut ia buat celana yang ternyata diborong pula oleh para pekerja tambang. Semenjak itu, popularitas Strauss sebagai sang pembuat celana jeans kian terkenal. Bersama rekannya, Jacob Davis, Strauss lalu mematenkan jeans. Itulah mengapa dikenal merk jeans Levi's 501. Angka 501 adalah nomor paten yang mereka dapatkan.

Akan tetapi, popularitas jeans sendiri sebenarnya baru meledak dan mendunia seusai Perang Dunia ke-2. Hal tersebut dipicu oleh pemakaian jeans oleh aktor terkenal James Dean di dalam filmnya. Trend baru lahir. Jeans adalah simbol dan gaya hidup kaum muda. Meski demikian, pada dekade 30an jeans sendiri sebenarnya sudah cukup terkenal karena film-film bertema koboi seringkali menampilkan para pemerannya yang menggunakan celana jeans.

Generasi berganti, jeans tetap tak lekang oleh waktu. Dekade 70an, jeans tetap populer. Dengan model bawah yang melebar, kaum hippies selalu menggunakan jeans yang dihias lukisan atau sulaman. Mudah ditebak, jeans lalu tetap mendapatkan penggemarnya, terlebih ketika para perancang ternama seperti Armani mulai memasukkan bahan jeans ke dalam desainnya.
(Nugraha Sugiarta)

29.8.14

Cantiknya Bunga Kering

Oshibana. Ketika mendengar satu kata itu, mungkin kita akan membayangkan sejenis makanan seperti sushi atau dorayaki. Sudah barang tentu tebakan tersebut salah total. Oshibana tak ada hubungannya dengan makanan dan bukan pula berbentuk makanan. Sesuai dengan arti dari namanya, oshi 'ditekan' dan bana 'bunga', oshibana adalah sebuah seni merangkai a.k.a menghias dengan menggunakan bungan atau daun yang dikeringkan. Tahap pengeringan ini adalah salah satu tahap paling penting dalam oshibana.


Pengeringan oshibana adalah tentang kesabaran dan ketelatenan karena dibutuhkan kurang lebih sepuluh hari pengerjaan. Caranya cukup sederhana. Pertama, siapkan sekitar sepuluh lembar kertas buram dengan busa tipis di atasnya. Lalu lipat dua kertas roti, letakkan terbuka salah salah satu bagian lipatan di atas kertas buram. Selanjutnya, barulah susun bunga yang hendak dikeringkan di atas tumpukan kertas dan busa tersebut dan tutup kertas roti di atas susunan bunga.

Sudah selesai? Belum, sedikit lagi. Setelah semua proses di atas dilakukan, letakkan kembali sepuluh lembar kertas buram, busa, dan kertas roti di atas cetakan pertama. Buat sekitar lima tumpuk cetakan dan masukkan semuanya ke dalam plastik zipper dan jangan sampai ada udara masuk di dalamnya. Timpa semua cetakan tersebut dengan pemberat selama sehari semalam. Esoknya, keluarkan bunga dan setrika kertas roti plus kertas buram yang digunakan sebagai cetakan. Setelah itu susun dan masukkan kembali ke dalam plastik zipper. Ulangi proses ini selama sepuluh hari hingga bunga mengering.

Adapun bunga yang dapat digunakan dalam oshibana cukup beragam. Syarat cuma satu, gunakan bunga yang berkadar air rendah seperti mawar atau bougenville. 
(Nugraha Sugiarta)


15.8.14

Cerahnya Batik Aceh

Selama ini kita mengenal batik sebagai sebuah kekayaan budaya yang banyak bertebaran di tanah Jawa. Meski demikian, batik sudah barang tentu bukan monopoli Jawa semata. Ternyata, di tanah rencong Aceh pun dikenal batik yang telah memiliki sejarah panjang dan memiliki pula ciri khas tersendiri.

Batik asal Aceh sendiri umumnya bermotifkan unsur alam dan budaya dengan dominasi warna-warna cerah seperti merah, kuning, atau hijau. Adapun batik Aceh sendiri memiliki makna filosofi yang berkaitan dengan kepribadian serta pedoman hidup masyarakat Aceh. Misalnya saja motif batik pintu yang secara filosofis menggambarkan ukuran pintu rumah yang rendah. Ini memiliki arti bahwa masyarakat Aceh sangat berhati-hati ketika sedang berhadapan dengan orang asing. Namun, ketika sudah saling mengenal, masyarakat Aceh akan menganggap siapapun yang dikenalnya itu seperti saudara kandung sendiri.

Terdapat beberapa motif batik yang cukup terkenal dari Aceh. Motif pintu seperti yang dijabarkan di atas, misalnya. Lalu ada pula motif tolak angin, Tentu ini tidak ada hubungannya dengan obat masuk angin, motif yang satu ini memiliki makna bahwa masyarakat Aceh cenderung mudah menerima perbedaan di antara sesamanya. Bentuknya sendiri menggambarkan ventilasi yang ada pada rumah adat Aceh. Lalu ada pula motif bungong (bunga) jeumpa. Sesuai namanya, batik ini ingin menyampaikan tentang bunga jeumpa yang memiliki bentuk yang sangat indah. Motif ini biasanya bernuansa natural dengan warna alam.

Satu yang menjadi ciri Aceh dan tak ketinggalan menjadi salah satu motif batiknya adalah rencong. Mengikuti bentuk senjata rencong yang mengandung makna kata basmallah, bentuk senjata rencong diaplikasikan ke dalam batik Aceh. Adapun batik-batik ini sendiri digunakan dalam berbagai segi kehidupan masyarakat, baik dalam suasana formal ataupun non formal. Selain diaplikasikan dalam busana, batik Aceh juga banyak diaplikasikan pada selendang, mukena, tas, taplak meja dan beragam keperluan sehari-hari lainnya.

(Nugraha Sugiarta)

8.8.14

Mengamati Jenis Clay

Para perajin dan juga crafter sudah tidak asing lagi dengan bahan yang satu ini. Clay, bagi orang awam sangat identik dengan tanah liat atau tanah lempung. Meski demikian, clay berbahan tanah liat ini sudah semakin jarang dikarenakan sulitnya menemukan bahan dasar tersebut. Selain itu bahan-bahan clay lainnya telah pula bermunculan.

Kerajinan yang berkaitan dengan clay ini seringkali pula disebut dengan istilah kerajinan keramik. Tentu pendapat ini tak terlalu salah karena masyarakat luas lebih mengenal tanah liat sebagai salah satu asal muasal clay merupakan bahan dasar yang sering digunakan untuk pembuatan keramik. Meski demikian, jenis-jenis clay itu sendiri sebenarnya sangat beragam. Ingin berkreasi dengan clay? Mari kenali jenis-jenisnya.

- Clay Tepung
Clay jenis ini adalah clay yang berbahan dasar tepung terigu, tapioka, atau tepung beras dan dicampur dengan lem serta pewarna.

- Clay Malam
Ini adalah salah satu jenis clay yang sangat populer. Sesuai dengan namanya, clay jenis ini terbuat dari malam (lilin) dan bersifar lunak. Karena sifatnya ini, clay malam seringkali dimainkan oleh anak-anak.


- Plastisin Clay
Sama seperti clay malam, plastisin clay juga terbuat dari lilin. Ia juga memiliki tingkat kelunakan yang cukup tinggi meski tingkat kelunakan tersebut masih berada di bawah clay malam.

- Clay Roti
Sesuai namanya, clay ini terbuat dari roti. Cara pembuatannya adalah dengan mengangin-anginkan roti tawar yang dicampur dengan lem kayu, pengawet makanan, minyak sayur, dan juga cat air.

- Polymer Clay
Ini adalah jenis clay yang paling mahal. Clay yang masih terhitung langka di Indonesia ini terbuat dari gerabah dan proses pengeringannya dengan menggunakan oven.

- Clay Asli
Ini adalah clay asli dari alam untuk pembuatan tembikar yang terbuat dari tanah liat.

- Clay Imitasi
 Clay jenis ini banyak digunakan oleh industri-industri besar. Biasanya digunakan untuk pembuatan model produk karena hasil akhirnya yang dianggap lumayan kokoh.

(Nugraha Sugiarta)


18.7.14

Coretan Doodle

Siapa yang belum pernah melakukan corat-coret sepanjang hidupnya? Entah di halaman belakang buku tulis semasa sekolah, atau di kertas soal ujian yang terlalu rumit untuk dipecahkan.Seringkali pula segala coretan itu hanya berumur beberapa detik saja dan segera musnah hanya dalam hitungan detik setelah ia dibuat. Nah, ada yang tahu dengan istilah doodle? Mungkin sebagian dari kita akan mengernyitkan dahi, menerka-nerka apa hubungan dari corat-coret dengan sebuah kata asing tersebut.


Doodle sendiri dapat dikatakan sebagai bagian dari corat-coret. Jika diartikan secara harfiah, doodle memiliki arti mencoret. Pada dasarnya, doodle seringkali diartikan sebagai gambar yang hadir dalam keadaan tidak sadar. Sederhananya begini, mungkin saat fokus kita tengah mendengarkan pelajaran di masa sekolah, tangan kita justru membuat coretan gambar yang justru membentuk sesuatu. Coretan itulah yang dikategorikan sebagai doodle. Pada dasarnya, doodle sendiri adalah coretan yang berusaha menyampaikan ekspresi dan emosi para pelakunya.

Pada perkembangannya, doodle lalu dikenal sebagai bagian dari sebuah seni atau gaya menggambar yang kerap terlihat abstrak. Lebih lanjut, gambar-gambar tersebut ada yang dianggap bermakna ada pula yang dianggap tidak bermakna. Garis besar dari kesemuanya itu adalah keunikan yang dihasilkan dari coretan tersebut yang kadang memperlihatkan suatu bentuk yang simetris namun justru terlihat menarik.

Secara historis, gambar-gambar yang ada di gua-gua pada masa pra-sejarah dianggap sebagai doodle yang paling tua. Kegiatan coret-mencoret dinding gua ini digunakan sebagai media untuk menceritakan sebuah kisah secara turun-temurun. Pada saat sekarang, doodle art  telah berkembang pesat. Ia tidak hanya coretan tanpa sadar yang dibuat oleh seseorang. Karya-karya seni dengan menampilkan gaya doodle ini mulai memasuki berbagai ranah kekinian seperti pada desain-desain untuk keperluan iklan dan lain sebagainya.
(Nugraha Sugiarta)




11.7.14

Memaknai Iket

Beberapa tahun lampau, saya berkenalan dengan seorang kawan. Tak ada yang luar biasa dari perkenalan pertama kami kecuali seutas kain yang selalu terlilit di kepalanya. Kala itu, nyaris saya tak menemukan laki-laki di tengah kota Bandung menggunakan kain yang lazim disebut iket tersebut bertengger di kepala. 

Namun, lain dulu lain pula kini. Kaum muda utamanya para pelajar, entah gandrung entah karena mendapat himbauan dari sekolah, banyak terlihat berseliweran dengan menggunakan iket di kepalanya masing-masing.


Sebenarnya, iket sendiri penggunaannya dikategorikan berdasarkan zamannya. Iket buhun adalah iket yang digunakan pada masa lalu, adapun pada masa kini dikenal apa yang dinamakan iket kiwari. Iket buhun biasanya merupakan iket warisan turun-temurun yang banyak terdapat di kampung-kampung adat di tatar sunda. Sedangkan iket kiwari biasanya diartikan sebagai iket yang telah mendapat banyak modifikasi dari para pecinta budaya sunda yang mencoba mengangkat nilai-nilai budaya sunda dan berusaha memopulerkan kembali penggunaan iket.

Secara filosofis, iket dapat diartikan sebagai  pengikat kepala. Dengan kata lain, iket menggambarkan tentang kepala dengan otak yang terdapat di dalamnya merupakan segala sumber dari tingkah laku yang kita perbuat dalam kehidupan. Iket dengan demikian dimaknai sebagai pengikat pikiran agar selalu memiliki cipta, rasa, dan karsa dalam berpikir. Di samping itu, iket juga memberikan makna bahwa sebagai manusia kita harus dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.
(Nugraha Sugiarta)


4.7.14

Asal Mula Animasi

Siapa yang tak menyukai film animasi? Film-film seperti Shrek atau Toys Story adalah dua di antara begitu banyaknya film-film animasi yang dengan cepat merengkuh penggemarnya. Berbicara mengenai animasi adalah berbicara mengenai sejarah panjang dunia sineas kreatif yang bahkan telah dimulai semenjak ribuan tahun yang lalu. Manusia purbakala jaman dahulu kerap menggambar binatang dengan jumlah kaki yang banyak untuk memperlihatkan gerak cepat dari lari binatang.

Memasuki abad ke-19, perkembangan animasi mulai menemukan babak baru. Praxinoscope ditemukan Emile Reynauld. Alat berbentuk tabung ini dapat memutar ratusan gambar animasi sehingga dapat terlihat bergerak seperti film. Alat yang dapat diproyeksikan ke dinding dan juga cermin ini dapat dibilang sebagai cikal bakal proyektor bioskop seperti yang kita kenal sekarang. Setelah itu, beragam inovasi seperti flipbook (animasi pada tumpukan lembaran kertas yang digerakkan dengan cepat) dan animasi stop motion (potongan-potongan gambar adegan yang digabungkan menjadi satu) terus bermunculan.

Salah satu adegan dalam film animasi Gerty The Dinosaur

Sejarah lalu mencatat nama Winsor Mc Cay yang mendapat julukan Bapak Animasi Dunia. Ilustrator yang satu ini membuat sebuah film animasi hitam putih berjudul Gerty The Dinosaur dengan durasi yang cukup panjang di jamannya. Tak kurang dari 16 gambar dihadirkan pada tiap detiknya sehingga tokoh dinosaurus yang ditampilkan benar-benar terlihat seperti hidup. 

Semenjak itu, para pembuat animasi bermunculan dengan cepat. Mulai dari Disney yang membuat animasi Mickey Mouse sampai Warner Bros yang membuat Bugs Bunny. Mudah ditebak, pada perkembangannya setelah berpuluh-puluh tahun, animasi mengalami gerak maju yang begitu cepat, terlebih dengan makin canggihnya teknologi komputer yang mampu membuat film animasi dengan sangat tampilan yang sangat realistis.
(Nugraha Sugiarta)






13.6.14

Rotan dan Penguasa yang Tak Punya Kuasa

Membicarakan rotan bagi sebagian besar orang mungkin akan langsung terngiang benda-benda seperti kursi rotan atau kayu hias. Tumbuhan yang berasal dari keluarga tanaman Palma ini memang telah sedari dulu dikenal sebagai salah satu bahan yang dapat dijadikan karya-karya kerajinan nan menarik. Indonesia sendiri memasok nyaris 70 persen kebutuhan rotan dunia. Sebagai bahan yang begitu tersebar di seluruh hutannya, tak heran jika kerajinan rotan menjadi salah satu bentuk kerajinan yang tak terlalu sulit ditemui.


Permasalahan klasik selalu mengemuka manakala berbicara mengenai segala pergerakan kerajinan di Indonesia yang cenderung masih sangat lokal dan tradisional. Ambillah contoh pengrajin rotan di Cirebon yang dianggap merupakan basis atau pusat dari kerajinan rotan di Indonesia. Mereguk kejayaan pada dekade awal 2000an, kerajinan rotan Cirebon bahkan pernah memiliki nilaj ekspor sampai angka 132 juta dollar dalam setahun sebelum akhirnya terpuruk.

Pasokan bahan baku yang merosot dituding sebagai biang keladi. Para petani rotan di daerah timur lebih banyak yang memilih menjadi penambang emas tinimbang bertani rotan. Para perajin mencari cara dengan mengimpor bahan baku. Bayangkan negara yang pernah memasok 70 persen kebutuhan rotan dunia harus mengimpor dari luar! Masalah baru kemudian muncul, BBM naik ongkos produksi tentu pula meningkat.

Penyebab patahnya hubungan hulu hilir dalam industri rotan ini sudah barang tentu harus disematkan kepada penguasa. Rotan hanyalah satu contoh kecil bagaimana pengelolaan sumber-sumber pemasukan potensial ditangani dengan buruk. Dengan kata lain, kreativitas para pengrajin memang dituntut untuk terus berkembang tak hanya berpatok pada kesuksesan yang pernah diraih. Inovasi harus bergerak dari diri sendiri karena segala macam kepastian dari pemegang kuasa adalah berbicara tentang ketidakpastian. Mari bergerak tanpa bergantung.
(Nugraha Sugiarta)

30.5.14

Mengenal Kertas

Bagi sebagian crafter yang gemar bereksperimen dengan bahan kertas, penggunaan media berbahan dasar kapas ini ibarat mencari kekasih yang pas dan mengena di hati. Ibarat mencari jodoh, mencari kertas yang cocok bisa dibilang gampang-gampang susah. Biasanya, kertas dibedakan berdasarkan ketebalannya, ambil saja contoh seperti kertas HVS yang memiliki beragam ketebalan mulai dari 60 gr sampai 100 gr. Berikut adalah beberapa acuan singkat tentang kertas dan pemilihannya.

Art Paper
Kertas yang satu ini biasanya digunakan untuk pembuatan brosur. Terdapat dua jenis art paper, satu yang memiliki permukaan licin dan satu lagi memiliki permukaan semi doff yang kerap dinamai malt paper. Lalu ada pula yang dinamai dengan istilah art carton. Jenis kertas yang satu ini sebenarnya sama dengan art paper hanya saja memiliki tingkat ketebalan di atas art paper dan biasanya digunakan untuk pembuatan catalog, kartu nama, atau company profile.

Duplex
Bahan kertas yang ini cukup mudah dikenali dengan hanya melihat warnanya. Duplex memiliki sisi depan berwarna putih dan sisi belakang berwarna abu-abu. Meski demikian ada pula dikenal kertas CWB (duplex putih) yang memiliki warna putih pada kedua sisinya. Duplex sendiri biasanya digunakan untuk pembuatan box dan memiliki ketebalan bervariasi antara 100-400 gr.

Jasmine
Ingin yang sedikit blink-blink? Cobalah kertas yang satu ini. Jasmine memiliki permukaan gliter dengan banyak pilihan warna. Ketebalan bisa dipilih sesuai selera, hendak tipis atau pun tebal.

Kertas Samson
Kertas ini kerap disebut dengan istilah craft paper. Kertas ini memiliki permukaan yang kasar dan berwarna cokelat. Karena warna dasarnya yang hanya cokelat itu saja biasanya para pengguna yang ingin mencetak sesuatu di atasnya hanya menggunakan satu atau dua warna saja. Kertas samson banyak digunakan untuk paperbag.
(Nugraha Sugiarta)

23.5.14

Tentang Sang Sandal

Sandal telah digunakan dan dikenal manusia sejak jaman Mesir Kuno. Pun bangsa Syria, Romawi, dan Yunani turut pula menjadi pengguna sandal. Jika ditarik lebih jauh lagi, bahkan ditengarai sandal telah ada dan diciptakan oleh manusia pra-sejarah meski hal ini tidak memiliki catatan tertulis yang jelas. Ada pula legenda yang mengatakan bahwa sandal pertama kali digunakan di daerah Cina. 

Pada Awal perkembangan, sandal dibuat dari bahan kayu  dan dikombinasikan dengan bahan karet. Ada pun kayu yang digunakan adalah  kayu ringan sejenis kayu abasiah dan bentuk atas alasnya disesuaikan dengan bentuk bawah kaki penggunanya. Sandal sendiri sebenarnya mulai populer dengan fungsinya yang dianggap praktis seusai perang dunia ke-2. Kala itu, banyak tentara Amerika Serikat yang pulang berperang membawa oleh-oleh sandal atau yang lebih dikenal dikalangan mereka dengan sebutan beach sandal.


Indonesia tentu tak pula tertinggal dalam urusan sandal. Alas kaki yang sangat populer dan telah berkembang menjadi salah satu industri fashion ini telah ada semenjak abad ke-7 pada masa kerajaan Tarumanegara. Hal ini dibuktikan melalui sebuah prasasti yang menampilkan cetakan tapak kaki raja. Berdasarkan penelitian, banyak pihak yang berpendapat bahwa cetakan tapak kaki tersebut merupakan  cetakan sandal yang digunakan oleh raja.

Berbicara sandal memang tak pernah habis dengan polemik yang beredar disekitarnya. Satu hal yang pasti, kita harus berterima kasih pada teknologi. Melalui teknologi dan kecerdasan, sandal yang pada awalnya berbahan keras telah berubah menjadi nyaman dengan digunakannya bahan karet yang dibentuk sesuai kebutuhan penggunanya.
(Nugraha Sugiarta)

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails