Tampilkan postingan dengan label On Day Monday. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label On Day Monday. Tampilkan semua postingan

7.9.11

On Day Monday - Nurify "Ledidak"

Rubrik On Day Monday merupakan sindikasi Tobucil Handmade dan Nest of Ojantountuk bertukar kabar dari Bandung dan Yogjakarta.



Minggu lalu merupakan minggu yang cukup membuat resah. Karena human error, selama beberapa hari akun Google kami tidak dapat diakses. Sempat ketar ketir ketika mencoba membuka page blog ini dan menemukan pengumuman bahwa blog sudah dihapus. Untung saja bantuan datang dari teman-teman terdekat dan kami bisa mendapatkan akun kami kembali. Rasanya lega bukan main. Karena hal ini pula, minggu lalu kami terpaksa menghentikan beberapa kegiatan rutin kami seperti Sindikasi Tobucil dan On Day Monday. Namun sepertinya waktu beristirahat sudah cukup, minggu ini kami kembali lagi dengan On Day Monday, menghadirkan cerita dari seorang crafter sekaligus seniman, bernama Nurify.

-------------


Merelakan Pasar, Memilih Idealisme

Cinta pertama terkadang memang susah untuk dilupakan. Walaupun sudah ditinggalkan sekian tahun, ketika rasa penasaran menjadi bumbunya, tidak terlalu sulit untuk memanggilnya kembali. Kurang lebihnya inilah yang saya bayangkan terjadi pada Nurify. Bukan cinta pertama dalam konsep hubungan percintaan pria dan wanita, tapi cinta pertama pada bakat dan hobi yang telah lama ditinggalkannya.


Sejak kecil Nurify suka menggambar. Dia memiliki bakat itu. Lalu distraksi demi distraksi mengalihkan perhatiannya, hingga akhirnya dia bertemu kembali dengan dunia seni yang membuatnya kembali menggambar. Kemampuannya ini digunakannya untuk mentransformasi ide-ide yang ada di kepalanya. Tidak puas dengan bentuk-bentuk dua dimensi, Nurify lalu mencoba mengolah bentuk seni yang lain yaitu bentuk-bentuk tiga dimensi. Dari bisnis Keluarga, Nurify akrab dengan bahan-bahan tepung dan adonan kue. terpikir olehnya bahwa bahan-bahan ini dapat diolah menjadi sesuatu yang lain, yaitu asesoris.


Pips kemudian lahir. Asesoris berupa kalung dan anting-anting yang terbuat dari bahan dasar clay. Awalnya Nurify mencari tau melalui media internet. Setelah mencoba dan mengulik bahan-bahan seperti tepung dan lem putih, akhirnya dia menemukan resep claynya sendiri. Resep inilah yang selalu digunakannya dalam menciptakan berbagai bentuk asesoris di bawah payung Pips. Untuk waktu yang cukup lama, Pips telah memiliki pasar dan penggemar. Yang menjadi kekuatannya adalah selera pasar. Nurify mengakui, ketika menjalankan Pips, selera pasar adalah nomer satu. Dia bahkan menyambut semua pesanan dan mengikuti keinginan pelanggannya. Ternyata hal ini dirasa cukup melelahkan, apalagi setelah kegiatan baru mulai digelutinya.




Selama tiga bulan lamanya, Nurify disibukkan dengan kegiatan barunya sebagai seorang seniman. Dia mengikuti program Artist In Residence di Tembi Rumah Budaya, Yogyakarta. Mungkin dari sinilah Nurify mulai disusupi oleh idealisme. Karena setelahnya, dia memutuskan untuk meninggalkan Pips, dan memulai sesuatu yang lebih konseptual bernama Ledidak. Masih bermain-main dengan adonan clay buatannya, menurut Nurify asesoris a la Ledidak lebih memiliki karakter dibandingkan dengan Pips. Pada Ledidak, Nurify murni bermain-main dengan ide terliarnya dalam membuat asesoris. Dia tidak lagi berpatokan pada selera pasar, pun juga tidak lagi menerima orderan sesui permintaan pelanggan, sebuah keputusan yang ternyata masih sulit diterima oleh penggemar Pips. Nurify mengakui, Pips memang mendatangkan keuntungan yang lumayan. Namun dia tidak menyesal, karena dengan Ledidak, dia dapat menikmati apa yang dia kerjakan. Selanjutnya baca di sini.

14.8.11

On Day Monday - Natura Kusumadewi, Owlie Lolie

Peluang Bisnis Burung Hantu


Berawal dari tempat pensil owl buatan tangannya sendiri, Natura yang akrab disapa Nana memulai Owlie Lolie. Buatan tangan Nana ini ditaksir banyak temannya. Pada saat itulah Nana mulai menerima pesanan custom berbagai macam produk dari bahan flanel, katun dan kanvas. Tadinya, produk-produk yang dihasilkan Nana hanya dijual dengan harga Rp 10.000,-. Lama kelamaan, ketika dirasa tuntutannya semakin banyak, Nana mulai mencari cara untuk menaikkan nilai produknya. Misalnya saja dengan menambah berbagai fitur seperti busa dan furing.


Dalam produksi Owlie Lolie, Nana masih melakukan semua prosesnya sendiri. Mulai dari mencari bahan, membuat pola, menjahit, sampai foto produk. Bisa dikatakan Nana adalah single fighter dalam hal ini. Karena ini jugalah Nana membuat produk by order. Artinya Nana membuat contoh produknya dulu untuk nantinya akan diperbanyak sesuai dengan pesanan. Produk-produk yang sudah dihasilkannya sampai saat ini adalah tempat pensil, tempat hp, keset handuk, tas, dan lain-lain. Saya sempat bertanya kepadanya, terpikirkah untuk keluar dari sistem made by order ini dan memproduksi produk dengan kuantitas yang lebih banyak.Ternyata Nana sedikit menolak ide ini. Dia ingin tetap menjaga esensi dari setiap produknya, yaitu personal dan eksklusif. Bahkan beberapa tawaran re-seller yang datang padanya juga sempat ditolak. Seperti inilah idealisme Nana dalam Owlie Lolie.



Jika berbicara mengenai Idealisme, burung hantu yang menjadi ikon Owlie Lolie saat ini sangat mewabah. Hal ini ternyata pernah mengusik idealismenya. Nana mengaku, dia sempat terpikir untuk meninggalkan burung hantu karena ini. Namun ternyata dia terlalu sayang dengan burung hantu untuk meninggalkannya. Kata Nana, burung hantu adalah ikon yang membuatnya terjun ke dunia ini. Burung hantu pula yang menjadi peluang bisnis baginya, dengan keuntungan yang lumayan. Lagipula, walaupun bentuknya serupa, Nana tetap yakin bahwa barang-barang handmade akan berbeda jika dikerjakan oleh dua orang yang berbeda. Berdasar keyakinan itulah, Nana tetap yakin dengan image burung hantu yang ada pada Owlie Lolie. Lebih lanjut baca di sini.

5.8.11

On Day Monday - Forget Me Not

ubrik On Day Monday merupakan sindikasi Tobucil Handmade dan Nest of Ojantountuk bertukar kabar dari Bandung dan Yogjakarta.
 
Asesoris Si Gadis Aneh

Perkenalkan, namanya Ida Ayu Melati, biasa dipanggil Ley. Dari luar dia seperti mahasiswi biasa yang sederhana. Celana jeans, t-shirt dengan rambut dikuncir seadanya. Namun begitu melihat asesoris-asesoris bikinannya, ataupun membaca blog pribadinya, baru terlihat betapa banyak hal-hal ajaib berseliweran di kepalanya.


Kebanyakan orang menganggapnya aneh dengan membuat desain asesoris yang tidak biasa. Pada saat yang bersamaan, asesoris bikinan Ley juga terlihat cute dengan perpaduan warna-warni feminin.Ley mulai membuat asesoris di tahun 2010. Asesoris bikinannya diberi nama Forget Me Not. Ada cerita menarik di balik nama ini. Ley cerita, Forget Me Not adalah nama bunga kecil yang biasa tumbuh di daerah pegunungan. walaupun bungannya kecil dan sederhana, tapi banyak orang yang mengenali dan menyukai bunga ini. Begitu pulalah harapan yang terselip pada nama ini. Ley berharap asesoris-asesoris ciptaannya bisa dikenal banyak orang, walaupun ukurannya kecil dan bentuknya sederhana.



Menurut Ley, yang terpenting dalam sebuah produk adalah idenya, bukan material atau teknik membuatnya. Itulah yang menjadi pegangannya ketika menciptakan sebuah desain asesoris. Dia mencoba bermain-main sejauh-jauhnya dengan sebuah material, dan membawanya keluar dari pola-pola mayoritas asesoris yang dijual di toko-toko. Menurut Ley juga, orang-orang akan menganggap sesuatu aneh karena tidak terbiasa dengannya. Karena itu penting baginya untuk memakai sendiri asesoris-asesoris buatannya. Hal ini dianggap Ley sebagai semacam presentasi untuk asesorisnya. "asesoris yang aku bikin itu beda, orang-orang gak akan kepikiran make asesorisku kalau gak pernah liat dipake orang" begitu kata Ley. Lebih lanjut baca di sini

25.7.11

On Day Monday - Dimaspas

Rubrik On Day Monday merupakan sindikasi Tobucil Handmade dan Nest of Ojantountuk bertukar kabar dari Bandung dan Yogjakarta.

Desain grafis memang bukan lagi hal baru bagi banyak orang. Kira-kira 10 tahun belakangan, desain grafis menjadi jurusan yang cukup hip di kalangan mahasiswa baru. Pilihan untuk masuk ke dunia desain grafis biasanya berawal dari hobi menggambar sedari kecil. Hal juga dialami oleh Pradana Adhi Saputra, atau yang lebih dikenal dengan panggilan Dimaspas.


Sejak kecil buku pelajaran Dimas lebih banyak diisi dengan gambar ketimbang tulisan. Sang ibu yang menyadari ini kemudian mempersilakan Dimas untuk mengikuti bakatnya untuk melanjutkan sekolah di SMSR (Sekolah Menengan Seni Rupa) jurusan garis komunikasi. Dari sinilah Dimas mulai merambah ranah baru selain gambar. Dia mulai jatuh cinta dengan digital imaging. Namun walaupun begitu, Dimas tidak meninggalkan hobi gambarnya. Dia pernah aktif membuat komik sepak bola, pernah juga membuatkan komik untuk almarhum sahabatnya, yang mana komik ini ditujukan untuk kembali pada sang mantan pacar. Hasilnya? sukses! lewat komik yang digambar Dimas, sang sahabat dan mantan pacarnya bisa balikan. Hehe..cerita ini terlalu manis untuk tidak saya sematkan di tulisan ini.


Mungkin dari sinilah awalnya Dimas mulai mengerjakan desain sesuai dengan permintaan klien. Semasa kuliah, Dimas sudah malang melintang di beberapa perusahaan desain dan animasi. Baik itu bekerja secara fulltime, maupun sebagai freelancer. Terkadang ada omongan tak sedap ketika seorang desainer yang mendedikasikan talentanya untuk melayani klien akhirnya disebut sebagai tukang desain. saya sempat menanyakan pendapat Dimas mengenai hal ini, dan ternyata dia sama sekali tidak keberatan dengan anggapan tersebut. Bagi Dimas, ada kesulitan yang mengasikkan ketika harus menuruti permintaan klien. Baginya pekerjaan desain yang dilakukannya adalah memberikan solusi untuk klien dengan visual, dan yang terpenting hal ini memiliki efek bagi audiens.



Bertahun-tahun melakukan pekerjaan desain untuk klien ternyata membuat Dimas rindu berkarya sendiri. Dulu, Dimas masih sering  membuat komik, street art, atau grafitti. Kesibukan lalu menelan kegiatan-kegiatan itu, dan sekarang dia harus mengakui kecanggungannya ketika mulai membuat karya lagi. Untuk mengatasinya, Dimas sekarang sedang mulai menggambar lagi, mengunjungi pameran dan banyak melihat referensi di internet. Untuk soal desain-mendesain, ada satu karya Dimas yang jadi favorit saya. Buku ensiklopedi dolanan bocah yang dijadikan tugas akhirnya di Institut Seni Indonesia, jurusan Diskomvis. Selanjutnya baca di sini

19.7.11

On Day Monday - Ben Fox and Kate Fielding from Wilurarra Creative, Australia

Rubrik On Day Monday merupakan sindikasi Tobucil Handmade dan Nest of Ojantountuk bertukar kabar dari Bandung dan Yogjakarta.
 
Membangun Komunitas Kreatif di Daerah Terpencil Australia

Perkenalkan dua teman baru saya, jauh-jauh datang dari negeri kangguru untuk mempelajari kebudayaan Jawa di Jogjakarta. Saya berkenalan dengan mereka dalam sebuah workshop yang mereka adakan di Lir Shop. Mereka mengadakan workshop menggambar mata dengan metode yang sangat menarik. Namun sebelum saya menceritakaan tentang workshopnya, marilah kita berkenalan dulu dengan dua orang luar biasa ini, penggagas Wilurarra Creative, Ben Fox dan Kate Fielding.

Ben Fox dan Kate Fielding adalah dua orang asal Australia yang mendedikasikan talenta mereka pada pengembangan komunitas. Community development mereka lakukan melalui berbagai kegiatan kreatif dibawah bendera Willurarra Creative. Ini adalah sebuah art studio yang dalam official website mereka dijelaskan sebagai Part arts space, part library, part internet café, part hair salon, part music studio: All creativity, all community. Kegiatan yang mereka lakukan di sini salah satunya adalah memberikan workshop kreativitas kepada penduduk lokal, seperti workshop menulis, membuat musik, hair-styling, memahat, dan banyak lagi.


Wilurarra sendiri merupakan bahasa setempat yang artinya western atau from west. Wilurarra berlokasi di Warburton, sebuah daerah yang cukup terpencil di Ngaanyatjarra Lands region, Australia. Sengaja dipilih lokasi ini karena pada dasarnya Ben dan Kate adalah petualang sejati. Kate bercerita pada saya, bahwa Warburton adalah daerah yang sangat indah, sebagian besar daerahnya merupakan padang luas dengan pemandangan yang luar biasa. Ditambah dengan penduduk lokalnya yang memang adalah suku asli Australia yaitu Aborigin, menjadi tantangan bagi mereka untuk bisa menggali potensi kreatifitas penduduk lokalnya. Hingga sekarang Wilurarra Creative sudah berdiri selama 8 tahun lamanya, waktu yang menurut saya cukup matang hingga akhirnya Ben dan Kate tidak lagi khwatir untuk meninggalkan studio mereka beberapa saat untuk datang ke Jogja.

Mengenai kunjungan mereka ke Jogja, Kate mengaku bahwa mereka dibuat jatuh cinta oleh kota ini. Agenda mereka di sini adalah mempelajari budaya Indonesia khususnya budaya Jawa. Beberapa agenda dadakan juga akhirnya terlakoni, seperti workshop kemarin salah satunya. 


Ben dan Kate mengadakan workshop menggambar mata di Lir Shop. Menurut saya, mereka memiliki metode workshop yang sangat menarik. Sebelum workshop dimulai, peserta melakukan senam sederhana, semacam gerakan-gerakan joget untuk peregangan. menarik bukan, belum mulai saja sudah menyenangkan begini hehe. Dalam workshop ini, kami tidak hanya semata-mata menggambar mata. Namun Ben dan kate juga menunjukkan kepada kami berbagai bentuk mata. Mulai dari mata manusia lengkap dengan strukturnya, hingga bentuk-bentuk unik mata hewan. Mereka juga menunjukkan cara yang dapat membantu kita untuk menggambar mata dengan baik. Ben mengatakan bahwa permukaan mata itu hampir seperti tetesan air yang dapat memantulkan cahaya. Ben meneteskan air ke bagian bawah gelas plastik, lalu meminta kami untuk memperhatikan dengan seksama dan mencoba menggambarkan tetesan air tersebut lengkap dengan pantulan-pantulan cahayanya. lebih lanjut baca di sini

12.7.11

On Day Monday - Okus Project by Abim Saptanugraha

Rubrik On Day Monday merupakan sindikasi Tobucil Handmade dan Nest of Ojantountuk bertukar kabar dari Bandung dan Yogjakarta.

Halo dari Bali. Liburan singkat ini tidak saya sia-siakan begitu saja. Ada seorang teman di pulau ini yang memproduksi sepatu-sepatu keren untuk cowok-cowok. Dia adalah Abim Saptanugraha, owner dan founder dari Okus Project.


Saya mengenal Abim sudah sejak lama. Ketika itu dia masih kuliah di salah satu universitas swasta di Jogjakarta. Selama mengenalnya, jujur saja saya tidak pernah tau betapa tergila-gilanya Abim akan sepatu. Baru setelah dia pindah ke Bali dan memulai Okus Project, saya mulai tau apa yang jadi passionnya selama ini.


"Kelas cowok itu dilihat dari sepatunya" ini adalah ungkapan yang diyakini Abim sampai sekarang. Menurut Abim, sepatu adalah barang yang letaknya dibawah dan digunakan untuk diinjak. Jadi ketika seseorang memilih sepatu yang tepat untuk digunakan, maka seluruh penampilannya akan terlihat bagus. Abim sendiri adalah orang yang cukup memperhatikan penampilan. Dan menurutnya, sepatu merupakan item yang penting dalam sebuah penampilan. Bukan tidak mungkin, percaya diri dapat berasal dari barang yang paling sering kita injak.

Memulai Okus Project bukanlah hal yang mudah bagi Abim. Sekian lama project ini hanya berdiam di dalam pikirannya. Semuanya dimulai dengan pertemuannya dengan seorang pembuat sepatu di Jogjakarta. Ada cerita yang cukup menarik disini. Ketika itu Abim kebetulan bertemu dengan Pak Mujiono di sebuah toko bahan-bahan di daerah Malioboro. Sang bapak membawa-bawa molding sepatu untuk dicocokkan dengan bahan-bahan yang di sana. Abim kemudian mendekatinya dan memberanikan diri untuk minta diajarkan cara membuat sepatu. Awalnya di Pak Mujiono menolak, "saya gak ngajarin orang bikin sepatu" begitu kata beliau. Namun Abim tidak menyerah, sepanjang minggu Abim mengontaknya agar beliau mau mengajarkannya cara membuat sepatu. Akhirnya Pak Mujiono menyerah juga. Abim diundang ke rumahnya dan diajarkan cara membuat sepatu dengan satu syarat, bahwa dia harus benar-benar belajar. Dari sini Abim mengetahui banyak hal mengenai pembuatan sepatu. Mulai dari membuat mal, lalu mencetak pola, menjahit, kemudian molding dan memasang sol sepatu. Sayang pelajaran Abim terhenti karena harus pindah ke Bali. Lebih lanjut baca di sini.

5.7.11

On Day Monday - Jussy Rizal “Lurik”

Rubrik On Day Monday merupakan sindikasi Tobucil Handmade dan Nest of Ojantountuk bertukar kabar dari Bandung dan Yogjakarta.

Melirik Lurik sebagai Simbol Perjuangan

Kata lurik merujuk pada sebuah nama kain. Pembuatannya melalui proses tenun. Tentu saja ini tradisional dan handmade.  Kata lurik berasal dari bahasa Jawa, yaitu lorek, yang artinya garis-garis. Dari bahan yang saya baca, corak motif garis-garis pada kain lurik itu menjadi lambang kesederhanaan. Sederhana dalam penampilan maupun dalam pembuatan namun sarat dengan makna (Djoemena, Nian S., 2000). Nah, On Day Monday kali ini kita akan bersama-sama melirik lurik dari Jogjakarta. 

kain lurik

Mari berkenalan dengan Mas Jussy Rizal. Dia adalah pengelola dari perusahaan tenun lurik KURNIA di kawasan Jogjakarta bagian selatan. Perusahaan ini berdiri hampir setengah abad yang lalu (1962). Adalah Sang Kakek dari Mas Jussy yang memprakarsainya. Dulunya beliau adalah penenun juga, lalu bersama teman-temannya membangun usaha ini. 

Tenun Lurik Kurnia

Melewati berbagai era, usaha ini menjadi satu-satunya perusahaan kain tenun lurik di kawasan tersebut.  Mas Jussy mulai mengelola usaha ini dari tahun 2008 lalu. Lulusan Psikologi UGM ini memaparkan bahwa yang membuatnya termotivasi untuk menjalankan usaha ini adalah kecintaannya pada kain lurik itu sendiri. Kain lurik dianggap sebagai simbol perjuangan keluarganya. Selain itu, menjadi simbol perjuangan juga untuk mempertahankan kain lurik sebagai kekayaan budaya Jawa. 

Saat ini, KURNIA Lurik mempunyai 55 orang (30 diantaranya adalah penenun) yang senantiasa semangat bekerja untuk mempertahankan eksistensi kain lurik. Dalam sehari, seorang penenun mampu menghasilkan 8 meter kain lurik dengan lebar 70cm. 

salah satu ruang tenun

Adaptasi dengan zaman membuat Mas Jussy melakukan inovasi di berbagai sisi usaha ini. Dia mengembangkan beberapa motif baru untuk kain lurik (baik warna atau corak). Kain lurik yang sudah jadi, dia coba juga gabungkan dengan proses sablon dan batik. Selain itu, dia mencoba membuat kain lurik menjadi barang jadi yang lebih fungsional. Selain memenuhi permintaan pasar lokal, Mas Jussy juga membuat jalur pemasaran yang lebih luas, antara lain dengan mengikuti berbagai pameran dan juga website yang bisa ditengok di www.kurnialurik.com. Terlepas dari itu semua, Mas Jussy tetap mempertahankan kain tenun lurik yang punya rasa personal karena tradisional dan handmade. 

kreasi kain tenun

Persaingan juga tak lepas dijumpai. Muncullah teknologi mesin penenun otomatis yang mampu menghasilkan kain tenun lurik dengan kapasitas jauh lebih besar. Selain itu, muncul juga kain lurik printing. Tapi Mas Jussy menolak untuk menggunakan alat-alat tersebut. Lalu bagaimana membedakan antara kain tenun lurik tradisional, kain lurik dari mesin penenun otomatis, dan kain lurik printing? Mas Jussy punya tips, kalau printing jelas satu sisi saja motifnya, kalau tradisional di kedua sisinnya ada motif. Sedangkan kain lurik dari mesin otomatis punya kerapatan yang konstan, sedangkan yang tradisional kadang kurang konstan. Selanjutnya baca di sini

28.6.11

On Day Monday - Dito Yuwono

Rubrik On Day Monday merupakan sindikasi Tobucil Handmade dan Nest of Ojantountuk bertukar kabar dari Bandung dan Yogjakarta.

Have You Met Dito Yuwono?
 
Jujur saja, sepak terjang seorang Dito Yuwono baru saya ikuti setelah berkenalan dengannya sekitar sebulan yang lalu. Sebelumnya, saya hanya sempat mencuri-curi dengar tentangnya dari obrolan beberapa teman. Katanya sih Dito Yuwono ini adalah seorang fotografer gigs yang andal. Katanya juga, dia punya beberapa project foto personal yang merekam detail-detail wajah banyak orang. Benarkah begitu? mari kita langsung saja berkenalan dengannya, Dito Yuwono.
 

On Day Monday kali ini memang sedikit berbeda dari edisi-edisi sebelumnya. Dito Yuwono bukan seorang crafter yang lincah memainkah tangan-tangan ajaibnya dan membuat sesuatu. Tapi bukan berarti dia tidak memiliki tangan ajaib itu. Justru dari tangan ajaib inilah lahir banyak jepretan mengagumkan, yaitu karya-karya fotonya.


Seperti kebanyakan fotografer lainnya, Dito mempelajari fotografi dari bangku perkuliahan dan beberapa short-course yang diikutinya. Dia mulai serius dengan dunia ini ketika menjadi reporter untuk sebuah media, sampai akhirnya kemampuan fotografinya banyak dikenal melalui hasil jepretan dari banyak gigs atau acara musik di Jogjakarta. Sebenarnya sampai sekarang Dito lebih dikenal sebagai fotografer gigs, tapi ternyata di balik itu dia lebih ingin dikenal sebagai fotografer yang memiliki karya-karya foto personal melalui project-project fotonya.


Jika berkunjung ke website pribadinya, kita akan melihat beberapa project foto yang pernah dan sedang dilakukannya. Project terakhir yang masih berlangsung sampai dengan saat ini adalah project foto "Have We Met" dimana dia mendokumentasikan wajah orang-orang yang ditemuinya. Idenya sesederhana berkenalan. Jika biasanya kita berkenalan dengan saling berjabat tangan dan menyebutkan nama, melalui project ini Dito mengajak berkenalan melalui wajah. Terkadang ketika kita berkenalan dengan seseorang, memori kita yang terbatas membuat kita sulit mengingat nama dan identitas sosial seseorang. Namun wajah, dengan detail yang spesifik dan berbeda antara satu orang dengan yang lainnya, menjadi identitas yang sulit terlupa. Mungkin inilah contoh konkrit dari alasan kecintaannya dengan fotografi. Menurutnya karya fotografi adalah karya yang personal, dan jelas saya bisa melihat ini melalui project-project fotonya. Selanjutnya baca di sini

20.6.11

On Day Monday - Youthdew

 Rubrik On Day Monday merupakan sindikasi Tobucil Handmade dan Nest of Ojantountuk bertukar kabar dari Bandung dan Yogjakarta.
 
 
Pompom a la Embun Muda
Dari sekian banyak kreasi kerajinan tangan yang ada, menurut saya pompom adalah salah satu yang paling simpel namun tetap memiliki keunikan. Simpel karena memang cukup mudah membuatnya. Hanya dengan gulungan benang wool yang padat, ikatan yang kencang dan sedikit mencukur benang di sana-sini maka jadilah sebuah bulatan pompom yang sempurna. Unik, karena kita bisa secara random mencampur banyak jenis benang dengan berbagai warna, dan hasil akhirnya selalau saja mengejutkan. Namun bagi saya, tidak mudah untuk menciptakan sesuatu yang lain dari sebuah pompom. Sesuatu yang tidak biasa, namun hasilnya tetap bisa dinikmati.

Dalam hal kreasi pompom, saya pernah dibuat terkagum-kagum oleh Moel The Mogus yang membuat boneka Monster Gurita dari bulatan-bulatan pompom yang dirangkai. Coba saja lihat di sini, pompom bisa berubah menjadi boneka Mogu yang solid. Lalu kemarin, saya sekali lagi dibuat terkagum-kagum oleh seorang perempuan yang juga bisa menyulap pompom menjadi sesuatu yang sangat manis. Mari berkenalan dengan Made Primaswari W, si Embun Muda yang merangkai pompom menjadi kalung cantik a la Youthdew.

Sebenarnya Youthdew lahir sudah sejak lama. Kira-kira di tahun 2006, Mbak Prima yang memang menggemari barang-barang vintage ini mulai membuat sesuatu dengan bahan baku baju-baju secondhand. Dia memanfaatkan motif-motif unik dari baju-baju ini untuk dijadikan aplikasi pada tas tangan buatannya. Karena banyak yang meminati, akhirnya bisnis inipun menjadi lebih serius. Produk yang cukup melegenda dari Youthdew adalah Travelling Bag yang memiliki banyak aplikasi di dalamnya, namun tampilannya tetap cute dengan kesan vintage. Setelah berjalan sekitar dua tahun, Youthdew kemudian vakum sejenak karena kesibukan Mbak Prima bekerja di sebuah LSM. Setelah itu Mbak Prima menikah, re-sign dari pekerjaannya dan memutuskan menjadi ibu rumah tangga :D
Jangan salah, menjadi ibu rumah tangga tidak menghentikan Mbak Prima untuk tetap berkarya. Justru ini menjadi tiket baginya untuk kembali menghidupkan Youthdew. Mulai tahun 2010 akhirnya Youthdew kembali berproduksi. Travelling Bag andalannya hadir lagi, plus kali ini Mbak Prima mulai menciptakan sesuatu yang baru yaitu kalung pompom.


Ah, saya baru sekali ini melihat pompom dalam bentuk yang sangat manis. Apalagi pompom buatan Mbak Prima hadir dalam berbagai campuran warna benang. Ada yang warnanya random, ada yang menjadi seperti semburat-semburat, ada yang belang-belang, dan zigzag! Tidak heran kalo Mbak Prima mengakui betapa dia dibuat jatuh cinta oleh pompom. Menurut Mbak Prima, pompom itu tak terbatas kemungkinannya untuk diolah. Dengan kreativitas dan banyak referensi tentu saja, pompom bisa berubah menjadi sesuatu yang lebih unik. Lebih lanjut baca di sini

31.5.11

On Day Monday - Papermoon Puppet Theatre

Rubrik On Day Monday merupakan sindikasi Tobucil Handmade dan Nest of Ojantountuk bertukar kabar dari Bandung dan Yogjakarta.

Sudah tiga kali hari senin terlewat begitu saja tanpa cerita dari orang-orang hebat dari Jogja di On Day Monday. Keadaan hiatus yang cukup lama ini membuat kami rindu bertukar cerita dengan mereka. Sesuai dengan janji kami, On Day Monday kembali kami "on"-kan dan dibuka dengan sebuah cerita dari pemain dan pencipta boneka, Papermoon Puppet Theatre.


Menceritakan tentang Papermoon Puppet Theatre artinya bercerita tentang dua orang hebat di dalamnya, Ria dan Iwan. Sebenarnya saya mengenal Ria sudah cukup lama. Kalau dihitung-hitung, hampir enam tahun kami saling kenal. Namun obrolan kemarin sore di rumahnya terasa seperti berkenalan kembali dengannya. Sosoknya masih sama seperti yang terakhir kali saya ingat, mungil, ceriwis dan penuh semangat. Dan kemarin sore, untuk pertama kalinya saya mengetahui apa yang menjadi passionnya, kecintaannya dan juga pekerjaannya bersama dengan suami sekaligus partner kerjanya, Mas Iwan. 


Papermoon yang sekarang adalah anak yang dilahirkan oleh Ria dan Iwan. Sudah tumbuh besar dan aktif bergerak, bermain, belajar, menyebarkan virus-virus teater boneka kepada banyak orang. Papermoon yang sekarang, sudah terbang ke banyak tempat, dan mementaskan banyak judul. Papermoon yang sekarang, jelas tidak akan ada jika saja Ria dan temannya tidak memulainya dulu di tahun 2006. Dimulai dari sebuah perpustakaan dan studio workshop kecil untuk anak-anak, Papermoon kecil hanya dapat berjalan sebulan lamanya. Gempa yang mengguncang Jogja di bulan Mei 2006 otomatis menghentikan semua kegiatan perpustakaan dan workshop. Kegiatan kemudian dialihkan pada program trauma healing bagi anak-anak korban gempa ketika itu. Bekerjasama dengan beberapa NGO, Papermoon kecil mulai dikenal dan menjadi magnet bagi banyak volunteer untuk ikut bergabung. Kegiatan workshop menggabungkan antara seni rupa dan seni pertunjukan. Ria mengajak teman-teman volunteer untuk membuat boneka dari barang-barang bekas, dan kemudian mementaskannya untuk menghibur para korban gempa.Inilah yang merupakan embrio dari Papermoon Puppet Theatre.


Selama kurang lebih setahun berjalan, Ria akhirnya harus menentukan identitas Papermoon. Apakah akan terus berkonsentrasi pada perpustakaan dan workshop untuk anak-anak, atau mengikuti passionnya dalam seni pertunjukan boneka, yang tentu saja tidak melulu diperuntukkan bagi anak-anak. Dari proses ini, Ria akhirnya memutuskan fokus pada teater boneka, dimana dia bertindak sebagai sutradara dan penulis naskah, dan Iwan yang bertindak sebagai visual artist. Lahirlah Papermoon Puppet Theatre yang kemudian menjadi magnet bagi kesempatan-kesempatan luar biasa bagi Ria dan Iwan. Salah satunya adalah beasiswa yang mereka dapatkan untuk belajar mengenai puppet theatre dari 70 seniman di New York selama 6 bulan lamanya. Selain itu, Papermoon Puppet Theatre juga telah membawa Ria dan Iwan untuk melakukan pementasan dan mengikuti berbagai festival di luar dan dalam negeri. Proses kreatif Papermoon Puppet Theater menurut saya sangat D.I.Y. Ide cerita, Naskah, hingga boneka dan properti panggung semuanya dilakukan dan dibikin sendiri. Semuanya lahir dari tangan-tangan ajaib milik Ria, Iwan dan dibantu oleh beberapa teman-teman Papermoon. Salah satu karyanya yang membuat saya terpukau (sekaligus berkaca-kaca) adalah Mwathirika, yang ceritanya sarat akan sejarah Bangsa Indonesia. Menurut Ria dan Iwan, inilah kelokalan yang dibawa Papermoon. Cerita yang dipentaskan Papermoon adalah cerita yang sangat dekat dengan kehidupan orang-orang di Indonesia. Lebih lanjut baca di sini
 

9.5.11

On Day Monday - Elia Nurvista

Rubrik On Day Monday merupakan sindikasi Tobucil Handmade dan Nest of Ojantountuk bertukar kabar dari Bandung dan Yogjakarta.

Si Penyulap Awul-Awul
Saya selalu kagum dengan orang-orang yang mampu menyulap barang bekas menjadi sesuatu yang memiliki daya guna lebih. Ditambah lagi dengan hasil sulapan yang ciamik membuat mata termanjakan oleh bentuknya yang unik. Elia Nurvista, adalah salah satu orang yang memiliki kemampuan itu. Ditangannya, baju-baju bekas berubah menjadi dompet-dompet cantik berwarna-warni.


Berawal dari hobinya berburu baju-baju seconhand (di Jogja populer dengan istilah awul-awul), Elia bersama dengan temannya, Dina, memulai usaha membuat dompet-dompet yang diberi label Simalakamma. Baju-baju bekas ini memiliki motif dan corak yang luar biasa indah, namun tidak sedikit dari baju-baju itu yang tidak dapat digunakan. Entah karena bentuknya yang tidak sesuai, ukurannya yang tidak pas, atau beberapa bagian yang rusak karena usia. "ketoke ki mendingan diganti dadi liane malah karuan le faedah" (kayaknya tuh lebih baik diganti jadi barang lain malah lebih berfaedah) ujar Elia mengenai baju-baju bekas yang dibelinya. Dari sinilah Elia mulai membuat barang-barang baru seperti tas, pouch dan dompet menggunakan bahan dari baju awul-awul.

Melihat produk-produk yang dihasilkan Elia rasanya seperti melihat sebuah karya seni. Menurutnya, latar belakang pendidikannya di Institut Seni Indonesia jurusan desain interior banyak memberikan pengaruh dalam proses kreatifnya. Tidak hanya menciptakan sebuah desain dan perpaduan motif yang unik, Elia juga menggabungkan beberapa teknik untuk menciptakan produknya. Saat ini, Elia banyak menggunakan teknik hand-stitching dan sablon pada setiap produk yang dihasilkannya. Tapi tentu saja dia tidak akan berhenti sampai disitu, Elia berencana utnuk terus mengeksplor teknik-teknik lain untuk memperkaya produk-produk Simalakamma. Lebih lanjut baca di sini.
 

1.5.11

On Day Monday - Paulus Mica Work

Rubrik On Day Monday merupakan sindikasi Tobucil Handmade dan Nest of Ojantountuk bertukar kabar dari Bandung dan Yogjakarta.

Berselingkuh Dengan Crafting

Beberapa waktu yang lalu, saya ditemani oleh Brinalloy menyempatkan diri bertandang ke kota Solo untuk hunting kain-kain cantik dan murah. Perjalanannya boleh singkat, tapi oleh-oleh yang saya bawa pulang kembali ke Jogja ternyata cukup padat. Selain seplastik besar kain-kain hasil buruan, saya juga membawa oleh-oleh cerita dari seorang crafter asal Solo yaitu Paulus. Pertemanan yang terjalin di dunia maya akhirnya bisa juga mempertemukan kami di dunia nyata. Saya janjian dengan Paulus di Beteng Trade Center, dimana dia berjanji untuk menemani saya menyusuri toko demi toko untuk berburu kain. Sambil sesekali terdistraksi oleh gulungan-gulungan kain warna warni, obrolan kami terus mengalir. Ah ternyata memang susah sekali berkonsentrasi pada banyak hal dalam satu waktu. Maka ketika tumpukan kain di tangan sudah mulai terasa berat, saya mengakhiri perburuan saya dan melanjutkan obrolan dengan Paulus sambil makan siang.

Kalimat pertama yang keluar dari Paulus ketika saya bertanya tentang hobi craft-nya adalah "membicarakan ini saya merasa seperti selingkuh". Kalimat ini mau tidak mau mengundang tanya yang lebih banyak. Selingkuh dari apa? dan apa yang membuatnya merasa seperti itu? Obrolan ini akan mengantarkan kita pada curahan hati Paulus, tentang hobinya yang dirasa tabu.

Background pendidikan Mas Paulus adalah arsitektur. Setelah lulus dari Teknik Arsitektur UGM, Paulus sempat menjadi seorang profesional dalam bidang ini selama 10 tahun di Jakarta. Lalu karena kepentingan yang berhubungan dengan keluarga, akhirnya dia kembali ke kampung halamannya, Solo. Saat ini kegiatan sehari-harinya adalah meneruskan usaha keluarga yaitu toko elektronik dan toko boneka. Kesibukannya dengan kedua toko ini membuatnya terpaksa menyingkirkan passionnya dalam bidang arsitektur. Sampai ketika banyak pesanan boneka dan bantal custom yang berdatangan, Paulus mulai menemukan kembali passionnya. Apa yang paling dicintainya tentang dunia arsitektur adalah gabungan warna-warna, tekstur dan bahan, dan kesemua itu dapat dia temukan ketika crafting. Kemudian dari sini lahirlah Mica Work, label yang diberikan Paulus untuk setiap karyanya.



Selain membuat bantal custom, Paulus juga memiliki karya lain yang merupakan perwujudan dari idealismenya. Paulus mengakui lebih tertarik dengan barang-barang interior seperti lamp shade, dan inilah yang sedang diuliknya sampai sekarang. Selain lamp shade, paulus juga menuangkan idealismenya dalam sebuah totebag dan syal. lebih lanjut baca di sini.

25.4.11

On Day Monday - PURNOMO

Rubrik On Day Monday merupakan sindikasi Tobucil Handmade dan Nest of Ojantountuk bertukar kabar dari Bandung dan Yogjakarta.
Mengenal lelaki yang satu ini adalah suatu keberuntungan besar bagi saya. Dia akan menyambutmu hangat ketika kakimu menginjak halamannya. Hasil karyanya akan membuatmu terkesima dan betah untuk sejenak melihat-lihat. Nah, siapakah dia? Mari kita simak saja cerita tentang Purnomo berikut ini dalam On Day Monday. (-:
percayalah, sepatu ini keramik
Ketertarikan terhadap benda 3 dimensi adalah awal dari apa yang dia lakukan sampai sekarang. Purnomo sudah menggeluti dunia keramik sejak SMA. Mengawali jejaknya di SMIK (Sekolah Menengah Industri Kerajinan), Purnomo melanjutkan studinya ke ISI Yogyakarta Kriya Keramik. Atas ketekunannya dalam dunia ini, Purnomo berhasil membuat sebuah inovasi menarik dalam membuat keramik. Karya yang bisa dibilang paling 'hits' yang pernah dibuatnya adalah sepatu-sepatu keramik. Ondee.. mandee.... :D

 sepatu roda keramik

Apa pula sepatu keramik itu? Purnomo benar-benar membuat keramik dengan bentuk sepatu apa adanya. Detail dan perbandingan ukuran dengan benda aslinya hampir 100 % sama. Dia mengaku menggunakan teknik cetak dalam membuat sepatu keramik. Tapi apalah daya, hanya dia yang tahu rumusnya bagaimana membuat cetakan sepatu itu. Itulah nilai lebih lelaki ini. hehe.. Lebih lanjut baca di sini.

18.4.11

On Day Monday - Hello Bleu

Rubrik On Day Monday merupakan sindikasi Tobucil Handmade dan Nest of Ojantountuk bertukar kabar dari Bandung dan Yogjakarta.


Hello Bleu : Kolaborasi Harmonis dari Dua Nona Manis

Jika hobi direnggangkan sejauh-jauhnya, kemungkinannya memang bisa jadi tidak terbatas. Seperti yang dialami dua nona manis ini, Kiki dan Iid. Kolaborasi keduanya lahir dari kesamaan hobi juga karakter. Dimulai sekitar dua bulan yang lalu, berdua mereka berdiri di bawah payung Hello Bleu dan melahirkan karakter-karakter unik berbentuk boneka.



Tidak ada pembagian tugas, juga tidak ada jabatan. Hello Bleu seperti duet maut dua biduan yang menyanyikan lirik lagu dengan porsi yang sama. Kiki dan Iid sama-sama menciptakan ide, mempersiapkan bahan-bahan dan memproduksi sendiri produk-produk mereka. Inilah yang menjadi keunikannya. Dua karakter tidak dilebur menjadi satu, namun sengaja ditampilkan secara bersamaan. Perbedaannya memang jelas terlihat, namun harmonisasinya tetap bisa dirasakan.

Kiki dan Iid adalah dua orang yang sangat menyenangi warna, motif dan bentuk. Dari sinilah harmonisasi itu berasal. Motif dan warna kain yang saling bertabrakan, dipadukan dengan karakter-karakter unik hasil imajinasi keduanya. Hasilnya? surprisingly cute! Melihat hasil karya mereka langsung melunturkan bayangan saya akan boneka berbulu nan lucu yang dulu setia menemani tidur saya. Karakter-karakter unik ini muncul dari corat-coret Kiki dan Iid yang memang memiliki hobi gambar. Kiki mengaku sejak SMA suka membuat doodle, dan tanpa disadarinya muncul karakter-karakter aneh yang akhirnya dijadikan inspirasi membuat boneka. Begitu juga dengan Iid, menurutnya inspirasi bisa datang dari mana saja. Bisa dari hal-hal sekitar, film yang ditontonnya, bahkan dari udara kosong di depannya. "Kuncinya adalah berusaha untuk think out of the box" begitu kata Iid.




Menyenangkan sekali jika kita bisa menghasilkan sesuatu dari hal-hal yang kita senangi. Inilah yang juga berusaha diraih oleh Hello Bleu. Keinginan mereka adalah mereka dapat dikenal luas, supaya bisa terus berkarya. Mereka juga mengharapkan pemasukan tambahan dari apa yang mereka lakukan dan bisa menabung untuk membeli mesin jahit. Yap, mereka sangat ingin memiliki mesin jahit agar lebih leluasa dalam menciptakan karya-karya baru. Lebih lanjut baca di sini.

8.4.11

On Day Monday – Minggu Pagi Menggambar Pagi

Rubrik On Day Monday merupakan sindikasi Tobucil Handmade dan Nest of Ojantountuk bertukar kabar dari Bandung dan Yogjakarta.
 
“Elektrifikasi Semangat Menggambar di Minggu Pagi”
 
Sandang, pangan, dan papan adalah kebutuhan primer sebagian besar manusia. Bagi Desta, menggambar menjadi hal yang layak disandingkan dengan kebutuhan primer. Inilah cerita tentang aktivitas yang diprakarsai oleh Desta – Minggu Pagi Menggambar Pagi.


Membuka lembaran lalu, pemuda asal Jakarta ini mengaku telah menyia-nyiakan kesempatan les menggambar di masa kecilnya. Percayalah titik itu benar-benar membalik. Dia ingin balas dendam atas penyesalannya itu. Sekarang, menggambar sudah menjadi kbutuhan dan sontak dia menggagas aktivitas Minggu Pagi Menggambar Pagi.

Aktivitas ini sudah berjalan sejak Agustus 2009. Biasanya dilakukan setiap jam 8 pagi. Tempatnya tidak tentu. Biasanya di sekitaran UGM. Siapa saja yang ikut serta? Siapa saja bisa ikutan. Desta menegaskan, ini bukan komunitas, tapi aktivitas.

Niatnya orang yang ikutan bisa menggambar tanpa paksaan. Orang bebas menggambar apa saja. Media dan tekniknya juga bebas. Serunya, Desta berhasil memantik semangat menggambar orang yang mengikuti aktivitas ini. atmosfernya akan membuatmu bebas untuk menggambar. Saya sudah mengalaminya. Oleh karena itu, aktivitas ini saya anggap telah melakukan elektrifikasi pada semangat menggambar manusia. Hehe.

semuanya terpacu semangat untuk menggambar

Kendala yang dihadapi Minggu Pagi Menggambar Pagi ini tidak lain adalah karena pagi hari. Minggu pagi adalah waktu yang sangat nyaman untuk beristirahat setelah malam minggu bersenang-senang. Tapi hal itu tidak menjadi masalah baginya. Bahkan pernah tidak ada peserta sama sekali. Desta akan menggambar sendiri, berpindah dari satu tempat ke tempat lain dengan sepeda lipatnya.

Ada opini menarik dari lelaki bernama lengkap Tampan Destawan Subagyo ini. “Gambar itu relatif bagus enggaknya. Ya.. kayak liat cowo ganteng atau cewe cantik aja gitu.” Dengan begitu, rasa tidak percaya diri untuk mulai menggambar pun lenyap seketika. Lebih lanjut baca di sini

29.3.11

On Day Monday – Block Note Astrini

Rubrik On Day Monday merupakan sindikasi Tobucil Handmade dan Nest of Ojantountuk bertukar kabar dari Bandung dan Yogjakarta. 



Mengasah Kreasi, Melukis Pelangi

Berasa kepedean bagi saya untuk menuliskannya. Tapi Astrini mengakui bahwa dia terinspirasi darinotebook-notebook yang pernah saya buat. Seingat saya, dia juga pernah membeli salah satu notebook itu. Inilah segumpal cerita On Day Monday minggu ini, tentang seorang perempuan sederhana pecinta pelangi yang mendulang rupiah dari karya block note-nya.


Malam tahun baru 2011 menjadi momen bagi Astrini untuk menuliskan banyak harapan dalambucket list-nya. Salah satunya adalah penetapan minimal penghasilan bersih dari hasil usahanya sendiri sejumlah 500 ribu rupiah. Hal itu memancing hasratnya untuk melakukan sesuatu supaya targetnya terpenuhi.


Terpikirlah olehnya untuk melayani pesanan block note dengan desain cover, material, dan ukuran yang bisa di-costum sesuai keinginan pemesan. Pecinta pelangi ini begitu menikmati aktivitasnya. Pesanan datang dari teman-temannya, kemudian teman dari teman-temannya, dan seterusnya. Ternyata promosi mulut ke mulut berjalan lancar baginya. selanjutnya baca di sini.



LinkWithin

Related Posts with Thumbnails