Tampilkan postingan dengan label Craftivism. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Craftivism. Tampilkan semua postingan

2.6.15

Lebih Artistik Dengan Teknik Cetak Manual


Empat belas orang berkumpul di meja Tobucil, terbagi menjadi dua kelompok. Masing-masing kelompok duduk berhimpitan, sementara pandangan mata tertuju pada dua mesin yang mirip dengan mesin giling kue. Bukan kue yang mereka giling melainkan kertas.

Para peserta workshop letter press di Tobucil itu dengan sabar menunggu giliran untuk mencoba mencetak kertas dengan cara kuno. Sambil menunggu, mereka ikut memperhatikan peserta lain menggunakan berbagai plat yang disediakan oleh Tarlen Handayani dan Suryanti sebagai fasilitator.

Saat kertas mulai terbentuk sesuai dengan plat yang mereka gunakan, antusiasme peserta pun makin meningkat. Mereka kembali mencoba mencetak dengan plat lain. Mereka juga berimprovisasi dengan tinta yang digunakan. Beberapa peserta bahkan mencoba mencetak kertas tanpa tinta (emboss).

Mencetak kertas dengan mesin letter press ini cukup membantu para crafter. Terutama para penyuka paper crafting. Bagi Suryanti yang akrab dipanggil Isur, mencetak kertas dengan cara kuno itu membawa kepuasan tersendiri. Terlebih hasilnya pun lebih artistik ketimbang mesin cetak digital.

“ Dengan letter press ini, kita juga bisa berkreasi sendiri sesuai dengan selera,” katanya.
Pada awal kemunculannya, mesin letter press ini berupa rangkaian dari besi kokoh. Ukurannya sedikit lebih besar dari mesih jahit antik. Selain kurang praktis, butuh tenaga ekstra untuk menggunakannya. 

Kelebihannya, mesin letter press besar ini lebih mudah digunakan untuk mencetak dalam jumlah banyak.
Seiring dengan perkembangan jaman, mesin letter press pun ikut bertransformasi. Bentuknya terlihat lebih manis sesuai dengan ukurannya yang mini. Tentunya hal tersebut membuat para crafter lebih gembira karena mereka bisa membawanya dengan mudah dan menyalurkan ide-idenya di manapun mereka suka. Meskipun begitu, mesin portable yang juga bisa digunakan untuk membuat berbagai jenis kartu itu tidak bisa digunakan untuk mencetak dalam jumlah banyak.

Berkreasi dengan mesin cetak mini ini membutuhkan berbagai alat pendukung. Pendukung utamanya tentu saja kertas. Isur menyarankan untuk menggunakan kertas yang beratnya di atas 200  gram. Alat lain yang dibutuhkan untuk mencetak adalah tinta dengan aneka warna serta plat dengan berbagai bentuk.
“Biasanya toko yang menyediakan peralatan membuat scarpbook juga menyediakan plat-plat dari rubber. Tapi kalau mau yang berbeda, kita bisa memesannya di tempat percetakan,” ujarnya.

Isur yang semula membeli mesin letter press portable hanya untuk kebutuhan pribadi, kini ikut memasarkannya di toko Scrappetizer Craft & Craft miliknya di Jalan Ciumbuleuit. Dia berharap, teman-teman yang memiliki hobi serupa dengannya bisa berkreasi lebih banyak dengan teknik cetak kuno dari tempatnya.

Salah satu peserta workshop yang terpikat dengan teknik cetak kuno ini adalah Sirom. Ketertarikan mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Pembangunan Nasional itu pada letter press sudah terjadi sejak dirinya membeli note book Vitarlenology.

“Awalnya saya beli note book yang di print. Waktu itu saya beli di Kineruku, kemudian saya ke Tobucil dan makin tertarik setelah melihat note book yang menggunakan letter press,” ujarnya.
Saat Tobucil membuka workshop letter press, Sirom pun langsung mendaftar. Hasilnya, dia terpikir untuk membuat kartu undangan sendiri. (megha)


21.1.15

Locavore: Jika Bisa Makan Yang Lokal, Kenapa Harus Makan Yang Impor?

Tanggal 4 Januari 2015 lalu, Aliansi Untuk Desa Sejahtera bekerjasama dengan Tobucil & Klab menyelenggarakan pameran, workshop dan diskusi dengan tema Pangan Lokal. Acara ini bertujuan meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap persoalan pangan lokal.


Siapa yang mengira 'Mocav' adalah nama jenis tepung singkong. Dari namanya, orang bisa dengan mudah mengira ini sejenis nama makanan impor. Selama ini, tidak banyak orang menggunakan jenis tepung lokal ini untuk bahan olahan makanan.  Padahal mokav adalah bahan olahan pangan asli Indonesia selain tepung sukun, gayong atau sagu.

Selama ini tepung sebagai bahan pangan, di dominasi oleh tepung terigu yang berbahan gandum yang di impor dari luar negeri.  “Banyak kuliner yang booming di Indonesia, tetapi bahan dasarnya impor. Bahan-bahan pangan lokal kini harus bersaing ketat dengan bahan import, padahal negara ini kaya. Isu pangan ini sudah menjadi bagian dari hak asasi manusia yang harus diperjuangkan,” jelas Tejo Wahyu Jatmiko, Koordinator Nasional Indonesia Berseru dan juga penggiat Aliansi Untuk Desa Sejahtera. 

Berdasarkan data BPS pada 2003 hingga 2013, pemerintah mengeluarkan anggaran sebesar 10 persen atau sekitar 130 triliun rupiah dari APBN hanya untuk mengimport kebutuhan pangan seperti terigu, beras, gandum, jagung. Tejo Wahyu Jatmiko berpendapat isu pangan menjadi satu masalah yang perlu dipecahkan. Menurutnya,  jika tidak segera bertindak, maka Indonesia akan berubah dari negara penghasil menjadi negara pengimpor.

Mengubah pola makan seperti inilah yang terus dikumandangkan oleh Indonesia Berseru. Tujuannya hanya satu, supaya Indonesia tidak berubah menjadi negara kaya yang kerap mengimpor kebutuhan pokok. Misalkan, mokav bisa menjadi bahan dasar untuk membuat brownie, bakpao, dan cake roll. Bahkan tepung sukun bisa menjadi pengganti untuk membuat kroket. Meskipun  dibuat dari bahan tepung lokal, cemilan-cemilan ini tidak kalah lezat di banding ketika dibuat dari bahan terigu.



“Produk lokal kita tidak kalah dengan produk import, tepung-tepung lokal kita juga bisa digunakan untuk membuat panganan kelas internasional. Tapi kenapa kita harus selalu bergantung pada produk import?” ujar Program Manager Indonesia Berseru, Ida Ronauli dalam acara Bincang Sore, Locavore 100% Local Food yang diselenggarakan di Tobucil & Klabs, awal Januari lalu.

Ida juga berpandangan, berbagai macam tepung asli Indonesia juga lebih memiliki keunggulan, yakni  ramah terhadap tubuh. Artinya, kandungan karbohidratnya lebih rendah ketimbang terigu lantaran terbuat dari umbi-umbian.

Sumber: Materi Presentasi Tejo W.J. - Aliansi Untuk Desa Sejahtera - Perkumpulan Indonesia Berseru dari data BPS
Bukan hanya terigu saja yang memungkinkan untuk diganti dengan tepung lokal. Makanan pokok masyarakat Indonesia juga perlu diubah, dari nasi ke umbi-umbian.  Selain lebih menyehatkan, umbi-umbian juga tahan dengan kondisi iklim di Indonesia. “Iklim di Indonesia kan mulai berubah drastis. Kemaraunya lebih panjang dan sangat panas, sementara ketika hujan, curahnya makin tinggi. Dan hanya umbi-umbian yang mampu bertahan dalam kondisi cuaca seperti itu,” tambah Ida.

Sumber: Materi Presentasi Tejo W.J. - Aliansi Untuk Desa Sejahtera - Perkumpulan Indonesia Berseru dari data BPS
Hanya saja mengubah cita rasa impor ke cita rasa lokal, bukanlah hal yang mudah. Pola pikir masyarakat Indonesia sudah terlanjur dimanjakan dengan berbagai prodak import demi tujuan kepraktisan. Masyarakat kekinian juga kerap mengganggap, makanan dari umbi-umbian berada pada kasta terendah. “Anak-anak sekarang memiliki pemikiran sendiri, bahwa umbi-umbian adalah makanan kelas rendah yang biasa dimakan supir dan pembantu di rumahnya. Nah, ini juga jadi tantangan untuk mengubah pola pikir mereka, bahwa sebenarnya umbi lebih baik ketimbang kentang goreng,” tegas Ida. (Mega/TH)


Locavore = orang yang mengkonsumsi produk-produk lokal.

Baca tulisan terkait lainnya:

Locavore: Workshop Buku Resep Kolektif 'Menjaga Pengetahuan, Mewariskan Rasa'

Tanggal 4 Januari 2015 lalu, Aliansi Untuk Desa Sejahtera bekerjasama dengan Tobucil & Klab menyelenggarakan pameran, workshop dan diskusi dengan tema Pangan Lokal. Salah satu yang menjadi kegiatan di acara ini adalah workshop book binding membuat buku kumpulan resep bersama vitarlenology.  

Setiap peserta membawa minimal satu resep masakan favoritnya dan menuliskannya kembali dengan tulisan tangan mereka masing-masing dalam secarik kertas. Kemudian lembaran-lembaran resep tulisan tangan ini dipindai, di susun lalu di cetak dengan mesin printer dan setelah itu di jilid dengan teknik 'jahit sederhana'. Setiap peserta  yang berpartisipasi dalam workshop ini, membawa satu salinan buku kumpulan resep.

Selama ini, kita seringkali menerima begitu saja makanan yang tersaji di atas meja, tanpa berpikir bagaimana makanan itu tersaji. Dan seringkali pengalaman rasa itu hilang ketika orang yang memasaknya sudah tidak ada lagi. Dengan mencatat resepnya dan pengetahuan rasa itu bisa terjaga dan di teruskan  dari generasi ke generasi.

Kembali ke bahan pangan lokal juga berarti kembali mengumpulkan dan mencatat kembali rasa dan ingatan yang 'lokal' itu, mengumpulkan dan mencatat pengetahuannya. Dan itu bisa dimulai dari apa yang biasa dimakan di rumah, bisa dimulai dari mengumpulkan dan mencatat resep-resep masakan rumah. Yuk..! (TH)

Baca tulisan terkait lainnya:

Locavore: Fakta-fakta Seputar Tempe


16.9.11

@wawbaw Day 1.0 di @tobucil 17-18 September 2011


WAWBAW day 1.0

Sabtu, 17-18 September 2011
@Tobucil & Klabs Jl. Aceh No. 56 Bandung
Pembukaan: Sabtu, 17 September 2011, Pk. 16.00 WIB

EXHIBITION
WAWBAWavatarbook
WAWBAWarchivalproducts
WAWBAWcolaboration
WAWBAWartefak

FREE WAWBAWavatar
WAWBAWauctionproducts
VITAMINart: WAWBAWseries

EXHIBITION &WAWBAWauctionproducts: 17-18 September 2011
FREE WAWBAWavatar: 18 September 2011 Pk. 11.00 s.d 14.00 WIB
VITAMINart 18 September 2011 Pk. 16.30 s.d 19.00 WIB

Acara ini hasil kolaborasi:

28.10.10

Yuk, Merajut Bersama untuk Kemanusiaan

Klab Merajut dan The Men Who Knit (http://themanwhoknit.blogspot.com/) mengundang teman-teman untuk merajut bersama,

Minggu, 31 Oktober 2010Mulai Pk. 12.00 WIBtempat: Tobucil & Klabs Jl. Ace No. 56 Bandung Telp/ 022 4261548

Benang disediakan gratis. Bagi yang belum bergabung dikegiatan ini namun tidak bisa merajut, akan diberikan workshop singkat merajut dengan cara Yubiami (merajut dengan jari).

Hasil rajutan dari kegiatan ini akan disumbangkan kepada korban bencana Mentawai dan Merapi.

salam hangat,tobucil & klabs
http://tobucil.blogspot.com/
http://tobucilhandmade.blogspot.com/

18.10.10

Blogojan Alias Blognya Ojan

Setiap minggu, tobucil handmade akan menampilkan blog para crafter yang karyanya sungguh segar, menyenangkan dan menginspirasi. Rubrik ini bertujuan mengapresiasi sekaligus mendukung crafter lokal untuk terus berkarya. 

Ketika bertemu orangnya, kamu ga akan menyangka bahwa dia super duper kreatif. Cowo yang tinggal dan sekolah Yogjakarta ini, memang terlihat pendiam dan seperti sulit diajak ngobrol. Namun anggapan itu berubah total ketika kamu mengunjungi blognya. Dengan murah hati dan kesenangan untuk berbagi cerita akan kamu temukan pada postingan-postingannya. Ya, cowo ini bernama Fauzan Riza atau akrab dipanggil Ojan. Kreativitas Ojan mengalir, menjawab kebutuhan dan tantangan kesehariannya: membuat merchandise untuk kegiatan-kegiatan di kampusnya, membuat hadiah-hadiah spesial untuk teman-temannya, pokoknya buka langsung saja blognya: www.blogojan.blogspot.com buka blognya yang lain: www.nestofojanto.blogspot.com

8.10.10

Mari Merajut Bersama Dydy

Dunia Rajut Merajut dalam Komik
Setiap minggu, tobucil handmade akan menampilkan blog para crafter yang karyanya sungguh segar, menyenangkan dan menginspirasi. Rubrik ini bertujuan mengapresiasi sekaligus mendukung crafter lokal untuk terus berkarya.

Rajutan bermotif Batik
 Sebut saja Dydy. Nama aslinya Dyah Dyanita. Jika pembaca tobucil handmade memperhatikan, namanya tidak asing lagi karena Dydy termasuk salah satu kontributor aktif rubrik 'Knitting 101' dan juga penggagas perpustakaan Art & Craft yang ada di salah satu sudut Tobucil. Kecintaannya yang sedemikian dalam pada dunia rajut merajut tidak hanya dibuktikan lewat karya-karyanya saja, namun juga aktivitasnya di dunia online. Pendiri milis mari_merajut@yahoogroups.com dan situs www.merajut.com ini sedemikian bermurah hati membagikan ilmu dan passionnya dalam dunia rajut merajut lewat blog pribadinya, milis juga situs komunitas merajut Indonesia.

Kebaya yang dibuat Dydy dengan teknik rajut
Mengunjungi blog Dydy dijamin mendapatkan segudang inspirasi dan semangat untuk berekplorasi tiada henti. Motif-motif batik yang ia pindahkan pada pola rajutan, kebaya yang dibuat dengan teknik rajut, mencerminkan semangatnya untuk selalu mencoba hal baru, membuka kemungkinan-kemungkinan yang memperkaya khasanah dunia rajut merajut. 

Silahkan kunjungi blognya http://dydy.multiply.com


2.10.10

Bermain Bersama Ideku Handmade


 Mulai edisi kali ini, tobucil handmade akan menampilkan blog para crafter yang karyanya sungguh segar, menyenangkan dan menginspirasi. Rubrik ini bertujuan mengapresiasi sekaligus mendukung crafter lokal untuk terus berkarya. 


Namanya Martha Puri Natasande. Menemukan blognya, seperti masuk ke dalam toko mainan yang dijamin kamu ga mau keluar dari dalamnya. Begitu banyak ide segar di dalamnya. Sebagai crafter, Puri, begitu ia biasa dipanggil, penuh kesabaran dan berdedikasi untuk melayani ide-ide lain yang butuh realisasi. Puri juga bisa mengerjakan pesanan sesuai dengan keinginanmu.Penasaran ingin mengenal lebih jauh Puri dan karya-karyanya, silahkan kunjungi blognya: http://idekuhandmade.blogspot.com/

19.10.09

Manifesto The Men Who Knit



 Foto Dokumentasi Tobucil & Klabs

Siapa bilang merajut hanya monopoli kaum perempuan? Laki-laki juga ternyata memiliki sejarah panjang yang berhubungan erat dengan kebiasaan merajut. Dalam banyak tradisi, laki-laki melakukan kegiatan merajut ini sebagai aktivitas ekonomi yang lazim di lakukan. Misalnya dalam kebudayaan Timur Tengah, Peru, mereka membuat karpet, penutup kepala. Merujuk pada The Complete Encyclopedia of Stitchery yang ditulis oleh Mildred Graves Ryan, banyak sejarawan setuju bahwa tradisi merajut ini disebarkan oleh para pelaut Arab yang adalah laki-laki. Hanya saja, di dunia yang patriarkal ini dimana kerja domestik (termasuk juga aktivitas merajut), menyebabkan merajut menjadi identik dengan aktivitas para perempuan.

"The Men Who Knit" merupakan komunitas para laki-laki yang menekuni hobi merajut, mencoba mengembalikan kembali semangat merajut itu sebagai aktivitas yang lintas gender. Siapapun bisa melakukannya tanpa di batasi oleh jenis kelamin dan tentunya bagi para laki-laki ini, merajut selalu menjadi kegiatan yang menyenangkan.

 

Manifesto The Men Who Knit

pasal 1: cuci tangan sebelum merajut. jenis sabun untuk mencuci tangan tergantung dari pihak sponsor, usahakan tidak membeli sendiri.

pasal 2: kumpulkan keberanian dan percaya diri.

pasal 3: harus ikhlas, sabar. jika anda masih ragu-ragu maka kembali pada pasal 2.

pasal 4: siapkanlah suasana mendukung. bisa minum kopi atau teh atau dengankan musik.

pasal 5: harus riang kalau tidak nanti meriang.

pasal 6: pilih benang yang sesuai dengan selera. jika selera anda belum muncul atau berubah-ubah, berarti anda belum ikhlas. kembalilah pada pasal 3.


pasal 7: pilih stik rajut yang sesuai dengan selera. kalau masih belum selera juga, cobalah meminta maaf pada orang tua, keluarga anda, pacar anda, mantan-mantan anda, bahkan selingkuhan anda. barang kali masih ada dosa-dosa masa lampau yang disadari atau tidak belum dimaafkan.

pasal 8: mulailah merajut dengan pengetahuan yang dimiliki secara maksimal dan let's go CAST ON !!!!

pasal 9: perbanyak jaringan terutama yang jago merajut, jadi kalau menemukan kesulitan atau tidak bisa menutup alias cast away, bisa minta tolong.

pasal 10: perhatikan dengan sangat baik, tempat dimana anda akan merajut. usahakan di tempat terbuka, akan lebih baik bila banyak orang, karena ini akan membuka peluang anda untuk diliput media. sudah terbukti dengan sangat sukses!!


pasal 11: jika rajutan telah selesai, jangan lupa untuk pamer. fotolah karya anda, up load di internet atau minimal beritahu teman-teman anda. biar tambah eksis!!


pasal 12: dan tips paling utama dan terpenting adalah: JANGAN TAKUT NYANGKUT !!!

selamat merajut!!
para jeger the man who knit:
erie -si jangan takut nyangkut-
sam -yang sangat sambas-
moel -si mogu sigarantang-
rudi -si perajut ababil-
wiku -si penggembira-
adhi -si motoris rajuter-
syaraf maulini – si musikus galau-

26.9.07

Kliping: Belia Pikiran Rakyat, 11 September 2007

Crafty Days
Berkreasi Lewat Tangan

Weekend sebelum puasa, publik Bandung banyak disuguhi gelaran menarik. Dari mulai acara musik sampai sebuah kegiatan yang bikin Belia bisa tambah kreatif. Nah, kalau yang terakhir ini, kamu semua bisa dapetin di gelaran Crafty Days yang dibikin sama Tobucil. Yeps, Sabtu-Minggu (8-9/9), temen-temen di Tobucil yang sekarang bermarkas di Jalan Aceh No. 56 Bandung ini, mengundang semua orang untuk ikutan berkarya di gelaran ini.

Berbagai kegiatan yang berhubungan dengan keterampilan tangan digelar dalam sebuah workshop. ”Ini gelaran kami yang pertama. Insya Allah, Crafty Days ini akan terus kami bikin,” ucap Tarlen Handayani. Memanfaatkan klab hobi yang sudah dirintis Tobucil sejak 2004, Crafty Days ini lumayan dapet perhatian dari para pengunjung. Untuk memeriahkan Crafty Days ini, Tobucil pun bikin bazar kecil yang menjual aneka produk kerajinan tangan dan tentunya buku-buku murah dari Tobucil, Omuniuum, Lawang Buku, dan Reading Lights. Ini yang belia tunggu juga, hehehehe ....

Untuk kegiatan workshopnya, ada beberapa macam yang bisa diikuti. Bahkan enggak hanya satu, tapi beberapa sekaligus juga enggak masalah tuh. Ada workshop merajut, manik-manik, melipat kertas, membuat crochet, dan workshop desain. “Masing-masing workshop punya instrukturnya sendiri. Tapi, kalau ditanya mana yang paling banyak pesertanya, workshop merajut yang jadi favorit,” kata Tarlen.

Belia pasti ngebayangin kalau merajut itu adalah kegiatan yang membosankan dan buang waktu percuma saja. Eits, salah besar lho. Sekarang, merajut bukan kegiatan yang didominasi nenek-nenek aja. ”Malah kegiatan merajut sekarang lagi ngetren, lho. Itu pun enggak hanya dilakukan cewek, tapi cowok juga udah banyak yang tertarik dengan needle works ini,” jelas si pemerhati literasi ini.

Hmm, pantesan belia melihat sekumpulan cowok yang duduk di sebuah meja, asyik mengobrol sambil tangannya sibuk menautkan benang dengan jarum rajut. ”Gampang sih, tapi tergantung juga pengen bikin apa. Saya juga belum tau ini mau dibikin apa,” kata Wiku. Lazimnya, sebelum mulai merajut, si orang itu harus udah tau pengen bikin apa, tapi cara yang dilakukan Wiku ini juga enggak salah. Mulai aja dulu, urusan bentuk yang dipengenin sih gimana entar aja ....

Peserta Crafty Days ini ada juga yang berasal dari Jakarta. Kayak Audy dan Karin yang sengaja meluangkan weekend untuk berpartisipasi dalam acara ini. ”Saya sih sebenernya senang gambar, trus gambar yang saya bikin itu diaplikasikan di kaus. Nah, tinggal saya sulam aja,” katanya. Kalau Belia sempat dateng ke Tobucil, bukan hanya hasil rajutan aja yang dijual, juga aneka kaus yang desainnya lucu-lucu. Ada yang disulam atau dijahit memakai benang warna-warni menuruti gambar yang tertera. ”Saya lebih tertarik pada desain yang dua dimensi. Ini juga lagi belajar bikin desain untuk pin dan kaus,” sebut Karin.

Kreativitas yang enggak terbatas ternyata bisa bikin seseorang jadi punya nilai tambah dan tentunya juga bisa menghasilkan sesuatu. Dengan ikutan gelaran ini, pastinya bulan Puasa nanti, enggak bakal ada waktu yang terbuang percuma. Sambil nunggu beduk Magrib, tangan Belia bisa berkreasi menciptakan sesuatu. Tertarik? Tungguin gelaran yang bakal belia bikin di Bulan Puasa ini! *** tisha@yahoo.com

Pikiran Rakyat, 11 September 2007

6.9.07

Ketika Hal Terbaik dalam Hidup Bisa dibuat Oleh Tanganku Sendiri



Oleh: Andre Purnomo, sukarelawan klabs

Beberapa bulan yang lalu, Kansha, keponakan saya yang berusia 5 tahun dengan antusias memamerkan kalung dari sedotan yang baru dibuatnya di TK. Kalung model tasbih yang terdiri dari plastik sedotan aneka warna berbentuk piramida. Langsung terbayang kenangan pribadi saya waktu masih di TK. Sama seperti dia, saya pun diajarkan membuat kalung dari sedotan oleh ibu guru, dan juga aneka keterampilan tangan sederhana lainnya, seperti membentuk patung dari lilin malam, melipat perahu dari kertas, dan membuat stempel dari kentang. Ketika hal ini saya ceritakan kepada Kansha, dia langsung minta diajarkan cara melipat perahu dari kertas. Setelah saya mengambil koran bekas dan bersiap untuk mengajarkan dia, saya baru menyadari satu hal: saya lupa cara membuat perahu dari kertas.

Malam harinya, saya cari diagram origami (seni melipat kertas asal jepang) perahu lewat internet. Ternyata tak sulit menemukannya, karena banyak sekali situs tentang origami di internet yang menawarkan ratusan diagram cara melipat aneka wujud. Selain diagram perahu, saya simpan juga berbagai diagram bentuk lain di hard drive untuk saya pelajari nanti dan saya ajarkan kepada Kansha. Setelah beres, mata saya tertuju pada link-link lain yang muncul yang berhubungan dengan hasta karya. Iseng-iseng saya klik link tersebut satu persatu dan muncullah macam-macam hasil kreasi keterampilan tangan yang lucu dan menarik. Ada tas dari rajutan benang wol, boneka binatang dan monster imut dari kain felt, stationary yang dihiasi aneka gambar hasil cetak sederhana, ada juga sarung bantal dan kain sprei dengan sablon berbagai motif yang keren. Benar-benar kagum saya dibuatnya. Ternyata masih banyak orang yang senang membuat macam-macam kreasi keterampilan tangan yang tak hanya bagus, tapi juga fungsional.

Terbersit sedikit kesedihan dalam diri saya. Sudah lama sekali rasanya saya tidak menggunakan tangan saya untuk melakukan kegiatan semacam itu. Padahal ketika saya kecil, saya gemar membuat aneka hasta karya: mobil-mobilan dari kulit jeruk bali, rumah boneka dari kardus bekas untuk kakak, atau vas bunga dari lempung yang saya cat warna-warni dan saya hadiahkan untuk ibu di hari ulang tahunnya. Malam itu, saya bahkan sudah tidak ingat kapan terakhir kali saya membungkus kado sendiri karena rekan-rekan saya yang menikah lebih suka diberi 'mentahnya' saja. Tangan saya sudah terlalu terbiasa mengetik diatas keyboard dan menekan tombol ponsel. Tubuh saya sudah terlalu sering mengkonsumsi makanan instan dari restoran siap saji. Otak saya sudah terlalu dimanjakan oleh barang-barang hasil produksi bikinan pabrik memang tidak dapat dipungkiri sangat membantu dan mempermudah hidup saya, namun disisi lain membuat saya tidak mandiri dan menimbulkan tingkat ketergantungan yang tinggi. Dan ada satu hal yang saya rasakan mereka tidak miliki: sentuhan manusia. Ketidakadaan sentuhan manusia ini menciptakan kesan bahwa hidup saya semakin terasing dan diseragamkan dengan manusia-manusia lain. Ciri khas saya sebagai individu mulai luntur. Tiba-tiba muncul kerinduan untuk mandiri, keinginan untuk berkreasi dengan tangan saya sendiri.

3 bulan telah berlalu dan saat ini saya sudah bergabung dengan klub merajut di kota saya.
Awalnya, sebagai seorang laki-laki, saya agak minder ikut kelompok merajut yang selama ini hampir selalu dikonotasikan dengan kegiatan perempuan. Tapi tak disangka ada juga beberapa anggota laki-laki lain dalam klub merajut kami. Ternyata laki-laki juga tidak mau ketinggalan. Wah, senang rasanya! Sekarang saya sudah berhasil membuat sebuah syal dan kantong mp3 player, dan saat ini saya sedang merajut sarung dari benang wol untuk laptop. Senang rasanya bisa kembali berkarya dengan kemampuan sendiri. Ada kenikmatan pribadi yang saya rasakan ketika sedang merajut, hati serasa tenang dan dingin. Saya pun merasa jadi lebih teratur dalam menjalani hidup. Apalagi ketika melihat hasil karya saya selesai dibuat. Bangga bercampur tak percaya karena bisa membuat sesuatu yang tidak pernah bayangkan sebelumnya. Yang pasti, saya bisa membuat sesuatu yang berbeda dan tidak ada di pasaran. Kansha pun kini sudah bisa melipat perahu dari kertas dan juga aneka bentuk sederhana lainnya. Ingin saya ajarkan kepada Kansha dan keponakan-keponakan saya yang lain berbagai keterampilan tangan lain yang bisa mereka kerjakan di waktu senggang. Supaya, sama seperti pamannya, mereka bisa merasakan bahwa ada kegiatan lain yang mereka bisa lakukan yang tak kalah menyenangkan dibanding bermain Play Station atau boneka Barbie. Dan mudah-mudahan suatu hari nanti mereka bisa menyadari bahwa, “Sometimes, the best things in life are still made by hand”.

Tulisan ini untuk publikasi di halaman tentang Media Indonesia

5.9.07

Laki-laki Merajut? Kenapa tidak!



Oleh : Wiku Baskoro, kordinator klabs tobucil

Kalau Anda berpendapat bahwa merajut adalah dunia perempuan, atau setidaknya Anda melihat aneh jika laki-laki merajut, sepertinya sekarang saatnya Anda benar-benar bercermin dan bertanya, apakah masih pantas Anda disebut sebagai manusia abad 21.
Dunia, dimana kreatifitas menjadi sandaran utama kini sedang berkembang. Dan tentu, pelaku utama dunia ini adalah anak muda. Kreatifitas semakin dihargai dan menjadi dasar dalam semua aktivitas anak muda. Salah satunya merajut. Kenapa?

Begini ceritanya :
Dalam konteks di Indonesia sebagai Negara berkembang, tentu perkembangan dunia global akan mempengaruhi perkembangan dunia muda lokal. Industri kreatif disini pun berkembang pesat. Band bermunculan bagai jamur di musim hujan, produk fashion lokal pun bermunculan tanpa kita ketahui, tau-tau produknya sudah nongol di TV, dipakai oleh presenter terkenal, dan gerakan DIY semakin merajalela. Bila pada perkembangannya gerakan yang menghasilkan produk dari usaha sendiri ini menjadi sebuah perusahan yang berorientasi bisnis, saya pikir ini hanya perkembangan yang wajar, ini tergantung dari ideaslisme si pemilik usaha itu sendiri. Ada yang bertahan di jalur indie, ada yang mengembangkan diri menjadi korporat yang lebih besar. Namun pada intinya semangat yang meraka usung adalah kepercayaan diri dalah membuat sebuah brand dan produk yang bisa dijual dan menghasilkan.

Di tobucil sendiri, semangat DIY sangat didukung dan dijaga agar tetap menjadi semangat utama yang mengerakan berbagai kegiatan yang diselengarakan disini, yang kami sebut sebagai klabs. Salah satunya adalah klabs merajut, yang isinya tentu, tidak melulu perempuan.
Di klabs ini kami diajarkan cara-cara merajut, perkenalan terhadap alat-alatnya sampai bahannya berupa benang, sebagai bahan utamanya. Semuanya dikemas dengan semangat anak muda, mulai dari pembuatan produk yang bertema anak muda, seperti kupluk, syal, tas laptop, sampai dompet mungil. Semua dikemas dalam sebuah forum yang santai, sambil ditemani oleh suasana sore Bandung yang segar dan secangkir kopi atau teh.

Di klabs merajut tobucil anggotanya tentu tidak hanya diikuti oleh kaum perempuan, ingat ini bukan klabs biasa, maka di klabs ini sebagian anggotanya adalah laki-laki, yang kadang berjenggot (termasuk saya), berbadan tegap, dan bersetelan metal. Kami berkumpul, belajar merajut bersama, mengembangkan motif-motif rajut baru, dan membuat kegiatan yang khas anak muda seperti Crafty Day’s –Let’s Get Crafty- yang akan diadakan tanggal 8-9 september 2007 ini.

Di era dimana kreativitas di hargai lebih, klabs ini memberikan saya ruang berimajinasi yang sangat luas, bagi saya merajut adalah sebuah medium dimana saya bisa mengembangkan pola pikir kreatif sambil tetap produktif. Dan tentunya, bisa memproduksi produk yang bisa dijual dan menghasilkan.

Yang di utamakan dalam era sekarang adalah bagaimana kita menjadi manusia yang kreatif, bagaimana kita mengolah hal disekitar kita, dengan usaha mandiri, menjadi sebuah produk yang berguna, baik bagi diri sendiri (dipakai sehari-hari), atau bagi orang lain (dijual).
Saya sangat setuju dengan Pramoedya Ananta Toer, beliau pernah bilang bahwa bangsa kita hanya kurang satu hal, yaitu kurang produktif, kita bisa menjadi bangsa yang besar, jika kita berproduksi. Bukan hanya menjadi masyarakat yang mengkonsumsi namun menjadi masyarakat yang membuat produk. Masyarakat yang menghasilkan. Apa lagi yang kurang dari bumi Indonesia? Tinggal kita sebagai penghuninya yang mengolahnya agar berguna.
Nah, sentimen gender tentu tidak punya tempat di ranah ini. Laki-laki atau perempuan akan berbaur saling bertukar ide, saling berdiskusi mengenai barang rajutan apa yang di buat selanjutnya serta pola apa yang cocok pakai dengan bahan itu.

Merajut kemudian membawa saya pada level berikutnya dari perjalanan hidup, disana saya belajar bersabar, tekun dan fokus pada hal yang sedang kita kerjakan. Mencoba tusukan yang pas untuk membuat sebuah pola mengajarkan saya bahwa, jika kita berpikir kreatif maka semua hal bisa kita hadapi. Jalan menuju mimpi yang ingin kita capai tidak hanya satu, kreatifitas bisa membuka jalan-jalan baru dan menyenangkan yang belum pernah kita lewati untuk menggapai mimpi itu.

Klabs merajut mungkin jauh dari isme merubah dunia, namun klabs ini berkembang di ranah mikro, dimana pola pikir kreatif dan produktif individu dengan semangat DIY-nya yang ingin dikembangakan. Dan disinilah, kami laki-laki berjenggot, berbadan tegap, berstelan metal berkumpul merangkai benang dengan jarum rajut menjadi sebuah produk, yang mungkin sekarang Anda pakai. Jadi, jika Anda melihat atau sebagai laki-laki tertarik untuk merajut? Kenapa tidak!

Nah, cerita selanjutnya dilanjutkan sambil merajut.

Tulisan ini untuk publikasi di Media Indonesia

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails