Tampilkan postingan dengan label Pajang karya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pajang karya. Tampilkan semua postingan

20.6.14

Patung dalam Pemandangan

Deretan patung perunggu berwarna cokelat terpatri di Galeri Soemardja. Ada manusia bersayap, ada pula lelaki berbadan kuda. Pada mulanya saya berpikir bahwa sang pematung hendak menawarkan kisah-kisah mitos dalam karyanya. Namun, tatkala melihat patung-patung lainnya, pendapat tersebut sontak terpaksa diruntuhkan. Sebagian lainnya memperlihatkan beragam bentuk manusia yang memperlihatkan gerak yang tak biasa dilihat dalam keseharian, mulai dari manusia yang berdiri dengan satu tangan di atas kubus sampai peselancar yang merentangkan kedua tangannya dengan begitu bebas.


Eksplorasi tubuh. demikian kemudian saya mencoba memahami deretan-deretan patung tersebut. Dalam artian positif tentunya. Karya-karya pematung Jorge Maris yang berasal dari Meksiko ini memang mengangkat tajuk Body as a landscape, tubuh sebagai pemandangan. 

Pematung yang telah malang melintang selama 25 tahun dalam dunia seni ini terlihat hendak memperlihatkan bentuk-bentuk artistik yang dapat disampaikan oleh tubuh manusia. Saking kentalnya keinginan untuk mengesplorasi tubuh tersebut, semua patung karyanya bahkan mengenakan topeng. Terlalu berlebihan dan klasik memang, ketika berbicara tubuh maka wajah dihilangkan atau di anaktirikan untuk menekan supremasi yang mungkin dapat lahir dari citraan wajah tersebut.

Lepas dari itu semua, karya-karya Jorge Maris seolah hendak memperlihatkan citraan ideal dari tubuh manusia. Semua berotot indah, sempurna, nyaris tanpa cela. Dengan kata lain, pemandangan yang ingin disampaikan oleh sang pematung adalah pemandangan yang indah, ibarat tubuh Cristiano Ronaldo tanpa busana.

Konvensional, demikian akhirnya kesimpulan yang didapat saat memperhatikan Body as a landscape. Keindahan yang kekal yang justru tak menyisakan jejak apa-apa di kepala usai menyaksikannya. Tak ada penawaran baru secara visual meski secara teknik seni dapat dibilang Jorge Maris menawarkan teknik kelas yahud.
(Nugraha Sugiarta)


6.9.13

Membaca Bandung Zine Fest 2013

Sore sudah hampir habis ketika saya dengan susah payah memarkirkan motor di kitaran Gedung Indonesia Menggugat (GIM). Bersama seorang sahabat dari ibukota, akhirnya tibalah saya di depan pintu masuk, Bandung Zine Fest. Well, ini adalah event langka. Siapa yang tidak penasaran ingin sejenak mengintip beragam majalah yang tidak mainstream a.k.a jarang dilihat di antara ratusan majalah beroplah besar dan berwarna cerah yang setiap hari mengepung kita.

 
Setelah menyapa sana-sini beberapa wajah kenalan yang menyemut di depan pintu masuk, saya berhasil menyelinap. Ratusan majalah dengan segera memanjakan mata. Jikalah saya memiliki seribu mata, mungkin tanpa kenal lelah akan saya baca semua majalah yang ada di sana. Tiap meja saya datangi, ada yang menawarkan dengan harga terjangkau dan tentu saja ada pula yang free. Ini yang saya suka! 

Dipojok ruangan, terpajang sebuah mesin fotocopy yang tengah ngos-ngosan melayani animo pengunjung. Yap, sebagian besar majalah tersebut memang dengan penuh sukarela memperbolehkan para pengunjung untuk memfotocopy majalah-majalah yang diinginkan. Adapun di pojok ruangan lain, segala macam diskusi dan workshop tanpa kenal henti terus meramai. 

 
Ajang ini, tentu selain menawarkan berbagai pilihan media lain di samping yang telah kita kenal, menjadi ajang pertemuan yang menyenangkan antara para pembaca majalah indie yang selama ini terkesan menjadi minoritas serta antar zinemaker. 

Sebagai sebuah gerakan alternatif, Bandung Zine Fest 2013 berhasil menampilkan sebentuk ephoria yang selama ini bersembunyi di tengah kehidupan kota nan sibuk. Ruang yang tak lagi menyisakan waktu untuk menampilkan sesuatu yang berbeda. Lebih lanjut lagi, event ini setidaknya menyadarkan kita bahwa selalu ada pilihan. Seperti para pembuat majalah yang berpartisipasi di sini. Memilih untuk mewujudkan apa yang diinginkan tanpa perlu sungkan dan tanpa perlu merasa rikuh karena menolak bentukan pasar yang selama ini telah mapan.
(Nugraha Sugiarta)

2.8.13

Ketika Tobucil Ber-Stop Motion



Sore sudah nyaris habis ketika beberapa hari yang lalu saya tiba di Tobucil. Apa lacur, hasrat mengikuti workshop singkat tentang stop motion sambil ngabuburit tak sepenuhnya terpenuhi. Tentu, tak semuanya gagal total. Meski tak sempat mendapat materi, kedatangan saya disambut oleh kesibukan para peserta yang tengah asyik bersiap membuat stop motion. Ada upi yang tengah menyusun tumpukan rajutan, Tarlen dengan boneka matrioska, sampai Arum yang sibuk menyusun tangga nada dari meteran demi membuat stop motion untuk kepentingan band super hebring Tetangga Pak Gesang. Plus beberapa kawan lainnya yang dengan setia rela antri menanti giliran membuat stop motion.





Sudah barang tentu, dari kesemuanya, Tile dan Ambon sebagai mentor paling trengginas hari itu tampak sibuk di depan kamera dan laptop. Kamera tiada henti menjepret, gambar demi gambar diambil sambil terus mengamati hasil jepretan di layar laptop. Beberapa kepala yang tidak bisa menyembunyikan rasa penasaran turut pula ramai berkerumun menyaksikan. Pun demikian pula halnya dengan saya yang memang sedikit udik untuk urusan pembuatan stop motion.

Lalu, apa sebenarnya stop motion itu sendiri? Secara ringkas, stop motion adalah sebuah teknik animasi yang memanipulasi gambar atau objek diam dengan sedemikian rupa sehingga terlihat bergerak. Dengan mengandalkan frame demi frame yang diambil melalui kamera foto, stop motion lalu menggabungkan kesemua gambar tersebut sehingga menghasilkan film yang terlihat unik,bergerak kasar, dan tidak terlihat mulus. Di sinilah kemudian letak dari perbedaan antara stop motion dibandingkan video bergerak lainnya. Tentu saja, dalam pengerjaannya, penggunaan tripod sangat dianjurkan agar sudut pengambilan gambar stabil pada tempatnya.



Satu demi satu video itu selesai dibuat. Beberapa masih sibuk dengan menerjemahkan ide stop motion di kepala. Hari itu, Tobucil sedikit melemburkan diri. Tekun dan khusyu menyusun gambar diam yang mencoba bercerita.(NugrahaSugiarta)




26.4.13

Menata Ruang Kerja di Rumah

Pernah mendengar istilah SOHO alias Small Office Home Office? Pengertian bekerja di era modern memang tak melulu berkutat di kantor. Hal ini sendiri berjalan seiring dengan semakin majunya perkembangan teknologi dan informasi yang memungkinkan segala sesuatunya bisa diperoleh sekaligus disampaikan melalui berbagai gadget seperti telepon selular maupun jaringan internet. Di samping itu, adakalanya pula, pekerjaan yang terlalu menumpuk membuat semuanya tak terselesaikan di kantor sehingga rumah pun menjadi pilihan tempat untuk membereskan semua tenggat yang tertinggal.

Salah satu cara mengoptimalkan jam kerja di rumah adalah dengan membuat ruang kerja khusus tempat melakukan semua aktivitas pekerjaan. Bagi yang tidak mempunyai ukuran rumah yang cukup besar untuk membuat ruang kerja khusus. Jangan kecewa, karena ruang kerja bisa memanfaatkan lahan di mana saja dan tidak membutuhkan area yang luas, yang penting bagaimana cara menatanya supaya rumah tetap terlihat cantik dan tidak berantakan seperti kapal pecah.Area kerja di dalam rumah biasanya dibuat untuk memudahkan kita menyelesaikan suatu pekerjaan, baik yang dibawa dari kantor maupun pekerjaan rumah. Karena itu, sebaiknya area kerja ini diletakkan di tempat yang terpisah dari fungsi lain agar kegiatan kerja yang memerlukan konsentrasi tinggi itu tidak terganggu. Namun, keterbatasan lahan membuat pemilik rumah sulit membuat ruang kerja tersendiri. Meskipun demikian, ini bisa menyiasatinya dengan menciptakan area kerja di sudut rumah dengan cara memanfaatkan salah satu pojok ruang duduk, ruang makan, atau di sisi rumah lainnya. Sedangkan untuk ukurannya, standar minimal ruang kerja adalah 3x3 meter persegi. Ruang ini bisa menjadi bagian dari ruang terusan atau tata bagian ruang keluarga yang di dalamnya dilengkapi ruang hiburan atau ruang makan.

Kenyamanan adalah pertimbangan utama ketika membicarakan ruang kerja. Perlengkapan dasar seperti meja dan kursi harus mendapat prioritas utama. Pilihlah kursi dengan dudukan dan sandaran empuk. Agar punggung tidak pegal jika harus berlama-lama duduk. Bedakan penataan meja kerja di rumah dengan di kantor agar suasana tidak terasa monoton sehingga rasa bosan dapat tersingkirkan. Furnitur lainnya seperti lemari atau rak buku dibutuhkan dalam ruang kerja. Sejumlah furnitur ini sebaiknya dipilih yang betul-betul memenuhi kebutuhan kita dalam bekerja dan disusun secara kompak agar kerja dapat semakin efisien. Jangan lupa pula untuk menyediakan papan kecil, jam, kalender, tempat sampah, tempat untuk meletakkan perlengkapan ATK, dan juga tempat untuk menempel pesan. Kita juga bisa menempatkan sebuah pohon hias berwarna hijau untuk memberi sentuhan di ruang kerja. Kesejukan yang timbul pada warna hijau pohon bisa menimbulkan semangat dan gairah kerja. Untuk membuat suasana semakin menyenangkan, dapat pula meletakkan foto-foto kesayangan dan pernak-pernik lucu.

Jenis penerangan yang digunakan juga harus dapat memenuhi kebutuhan cahaya untuk ruang ini. Pastikan ruang kerja mendapat cahaya cukup. Jenis pertama, yaitu yang menerangi seluruh ruang, fungsinya agar cahaya menyebar secara merata. Berikutnya penerangan setempat untuk mendukung kegiatan-kegiatan khusus, seperti menulis, membaca, menggambar, dan lain-lain. Bentuknya bisa berupa lampu meja atau lampu sorot. Ruang kerja juga perlu diberi sentuhan warna tersendiri. Ini untuk mengurangi kebosanan dan rasa tidak mood untuk bekerja. Namun, untuk memilih warna tergantung pada karakter individunya masing-masing karena bila pilihan warna tidak sesuai dengan karakter pemakainya, ia bisa memengaruhi kinerja penggunanya. Misalnya saja, untuk orang yang energik, sebaiknya menggunakan warna terang seperti merah, oranye, kuning, dan ungu. Namun, untuk golongan orang yang serius, warna dingin seperti biru, hijau, dan cokelat tua dapat menjadi pilihan. Apabila ingin memberi kesan luas atau lapang, Cat dinding dengan warna pucat dan netral dapat digunakan.

Koneksi ke dunia luar adalah hal terakhir yang juga harus mendapat perhatian. Oleh karenanya, jangan lupa, ruang kerja di rumah sebaiknya dekat dengan koneksi internet serta telepon atau mesin fax. Selamat bekerja!

19.4.13

Mengenang Guevara dalam Komik

Rintik hujan merinai buas pada malam 12 April lalu. Tapi niat saya tak mengendur. Di samping memang sedang ingin iseng berkunjung, mengamati keramaian sepertinya sedang menjadi tema hari itu. Terdamparlah saya kemudian di IFI Bandung yang tengah penuh sesak oleh kepala-kepala manusia. Kopi, rokok, dan pergosipan tergelar. Tentu, bukan hanya itu semata yang membuat saya bersusah-susah menembus hujan. Perayaan tahun ke lima Forum Komik Indonesia-Perancis yang sedang menyajikan pameran bertajuk “Ngagambar Sareng Kang Simon Geliot” adalah satu hal yang ingin saya hadiri betul sejak jauh-jauh hari.

Sekilas saya membaca tentang sang komikus. Simon Géliot lahir di Paris pada tahun 1982 dan menjadi salah satu lulusan École Nationale Supérieure des Arts Décoratifs de Paris (Sekolah Tinggi Negeri Grafis dan Seni Terapan) yang merupakan sekolah terbaik Prancis di bidang grafis dan desain. Sejak kecil ia gemar menekuni hobinya, yaitu membuat komik dan gambar ilustrasi. Berkat bakat menggambarnya, ia dipercaya oleh sebuah merk prêt à porter Prancis terkenal untuk mendesain beberapa produknya. Sepertinya menarik. Saya melangkah. Ruangan pameran masih ramai meski sebenarnya saya sedikit terlambat. Beberapa karya komik hitam putih tertempel tegas di dinding. Berbahasa Perancis, membuat saya mengerutkan kening. Pribumi macam saya tidak pernah sedetik pun mempelajari bahasa yang satu ini. Tapi baiklah, toh, jurang bahasa selalu dapat dirapatkan ketika tampilan-tampilan visual berbicara.  

Tema yang diangkat cukup sederhana. Mengangkat kisah hidup tokoh yang paling banyak disablon mukanya pada kaus: Che Guevara. Kisah sendiri diambil dari kacamata salah seorang pejuang yang selamat pada perang gerilya Kuba medio 1966-1967. Mengamati kotak demi kotak cerita itu, saya menangkap nuansa revolusioner yang cukup kental. Entah karena garis-garis tegas yang ditampilkan di dalamnya atau justru karena kekuatan hitam putih yang menjadi pilihan warnanya. Namun, jujur saja, agak susah menangkap bilamana mencoba menjiwai sosok yang digambarkan oleh Simon Geliot. Menyelami Che Guevara di tengah pusaran kota yang semakin kapitalistik di sebuah lembaga budaya negara liberal? Oh, baiklah, ini semacam romansa tak tentu arah yang sepertinya ada di kepala sang seniman. Romansa, ya romansa. Di mana lagi harus menampilkan Che Guevara jika bukan di tengah romansa. Di mana lagi mengingat gaya revolusi rakyat bersenjata jika bukan di kilas masa lalu.

Dunia berubah. Revolusi ala Che Guevara masih menjadi pujaan. Lebih jauh lagi, bahkan pengkultusan sikap yang terlalu mendewa dan terbang di langit antah berantah. Melihat pameran ini, saya seperti diingatkan sesaat pada sosok kepahlawanan sekaligus kekirian Che Guevara. Setelah itu, harga BBM yang hendak melambung plus berpikir keras menjalani hari-hari yang kian mahal terasa menari di kepala. Langit masih mendung, di motor seorang teman yang menumpang berkisah tentang segala keperluan dapur. Selamat tinggal, Che Guevara!

3.3.13

Menyusuri Perjalanan Hidup di Natamorta

Gedung Perusahaan Gas Negara yang terletak di Jalan Braga riuh ramai malam itu, saya berkesempatan untuk menghadiri pembukaan sebuah pameran bertajuk "Natamorta - Spread the Fragments of Life and Demise". Pameran ini diadakan oleh mahasiswa-mahasiswi dari Desain Komunikasi Visual ITB itu berlangsung selama 3 hari, mulai dari tanggal 21 hingga 23 Februari 2013 kemarin. Animo masyarakat terhadap pameran ini cukup besar, karena publikasi sudah dilakukan semenjak jauh hari dan diadakan pula beberapa seminar dan workshop yang diadakan sebagai pre-event rangkaian acara Natamorta ini.

disediakan 2 jalur untuk menikmati pameran ini;
'maju' atau 'mundur'
Tema yang diusung dalam pameran ini cukup menarik, para 'calon desainer' ini mencoba mengajak kita menelusuri kehidupan, dari masa pra natal hingga menuju ke kematian; dan bahkan, kita juga bisa mencoba menelusurinya terbalik; berjalan mundur dari kematian sampai menuju titik awal kelahiran kembali. Meskipun karya-karya yang kita lihat akan sama (hanya urutannya terbalik), namun dengan skema seperti ini, kita bisa merasakan esensi yang berbeda saat menikmati pameran ini melalui jalur yang berbeda, sungguh cara yang menarik untuk menyuguhkan sebuah eksebisi!

Mahasiswa yang berpartisipasi dalam pameran ini jumlahnya cukup banyak; lebih dari 100 orang; selain itu ada juga karya delegasi dari alumni DKV ITB, dari mahasiswa jurusan lain di FSRD (Fakultas Seni Rupa dan Desain) ITB, dan bahkan karya dari mahasiswa universitas lain. Karena ini adalah pameran DKV, karya yang ditampilkan pun sangat variatif karena 'range' dari dunia Desain Komunikasi Visual sangatlah luas, apapun yang bisa 'menyampaikan' makna tertentu bisa menjadi karya, apapun media dan caranya; jadi di sini Anda bisa melihat bermacam-macam instalasi, karya tipografi, ilustrasi, buku, video, game interaktif, dan banyak lagi.

beberapa peserta pameran
Yang luar biasa adalah kekompakan para peserta pameran ini. Beberapa hari sebelum pameran dimulai, sudah beredar 'skema kuning hitam' foto teaser para peserta pameran yang menggunakan template yang sejenis; dan bahkan saat hari pameran, mereka memakai kostum yang seragam.

Selain pameran, terdapat juga spot kafe yang menjual aneka makanan dan minuman yang dirangkai secara apik dan disesuaikan dengan ambience Gedung PGN yang jadul tapi romantis.

Natamorta membuka tahun 2013 dengan suguhan karya-karya visual yang menarik, segar, dan berani. Dengan persiapan yang matang, mereka berhasil membawa karya dan nama mereka ke masyarakat luas sebagai bekal menjadi 'desainer sungguhan' kelak. Selamat atas kesuksesan kalian, Natamorta! Terus berkarya dan semoga akan muncul pameran-pameran DKV selanjutnya yang lebih luar biasa!


(Livia "Lily" Meilani)

19.1.13

The Second Jakarta Contemporary Ceramics Biennale

The Second Jakarta Contemporary Ceramics Biennale (JCCB #2) merupakan sekuel dari JCCB pertama "In Between" yang diadakan 2010 silam. Bertempat di  Museum Seni Rupa dan Keramik serta di North Art Space Gallery yang bertempat di Pasar Seni Ancol, rangkaian kegiatan pameran ini berlangsung selama satu bulan penuh, dimulai pada tanggal 21 Desember 2012 kemarin hingga tanggal 20 Januari 2013 besok. Pameran ini terbuka dan gratis untuk umum, namun untuk memasuki Museum Seni Rupa dan Keramik, diwajibkan membayar sebesar Rp 5.000,- untuk umum dan Rp 3.000,- untuk mahasiswa dan pelajar, sementara untuk memasuki kawasan Taman Impian Jaya Ancol, diwajibkan untuk membayar Rp 15.000,- perorang dan juga biaya masuk kendaraan.

Mengusung tagline "Crafting Identity", 46 seniman keramik dalam negeri maupun internasional memamerkan kemampuan craftmanshipnya dalam mengolah tanah liat hingga menjadi karya seni yang menunjukkan jati diri dan identitas mereka. Dikuratori oleh Sudjud Dartanto, pameran ini sekali lagi berusaha menunjukkan keeksisan material keramik khususnya di bidang seni kontemporer.

Salah satu karya instalasi di MSRK berjudul "Where are We?"
oleh Herra Pahlasari
Saya mengawali perjalanan menuju pameran ini dari Bandung bersama rombongan teman-teman dari jurusan Kriya Keramik ITB. Tiba di Jakarta sekitar pukul 11, kami segera menuju kawasan Museum Seni Rupa dan Keramik  (MSRK) yang berlokasi di daerah Kota, Jakarta Barat. Beberapa karya dipamerkan di hall utama museum ini, tidak terlalu banyak namun selain itu kita juga dapat melihat koleksi lain milik Museum Seni Rupa dan Keramik seperti lukisan-lukisan dan keramik kuno.

Setelah menghabiskan kurang lebih satu jam di Museum Seni Rupa dan Keramik, kami segera menuju kawasan Taman Impian Jaya Ancol dan langsung menyambangi North Art Space Gallery yang berlokasi di Pasar Seni Ancol. Dua lantai North Art Space Gallery penuh terisi karya-karya terbaik dari tangan ke-46 seniman ini. Kualitas pameran ini tak perlu diragukan, karena Jakarta Contemporary Ceramics Biennale bisa dibilang merupakan pameran keramik paling 'bergengsi' yang diadakan di tanah air.
Landscape #2+1 karya Natas Setiabudhi, Indonesia

Karya Michael J. Doolan, Australia
Karya Antonio S. Sinaga, Indonesia

Contoh hasil pembakaran raku yang kami lakukan kemarin
Selain pameran, pada tanggal 13 kemarin juga diadakan seminar bertajuk "Keramik Kontemporer dalam Kacamata Arkeologi" yang dibawakan oleh Ibu Nani Wibisono dan Pak Adi Wicaksono. Selain itu pada tanggal 13 juga diadakan workshop Ocarina-clay whistle (sejenis alat musik tiup sederhana dari keramik) oleh Geoffrey Tjakra dan workshop pembakaran keramik dengan metode Raku oleh Pak Haryo Soenggono. Kami tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, sayapun turut berpartisipasi dalam workshop pembakaran raku. Raku ini sangat menarik, karena glasir yang dihasilkan akan memunculkan efek karat atau metalik. Hal ini dikarenakan, saat barang-barang yang masih membara panas di dalam tungku diambil secara paksa dan direduksi dengan cara dimasukkan ke dalam tumpukkan sekam atau koran.

Usai menghabiskan seharian penuh menikmati karya-karya yang luar biasa, sayapun berkesimpulan, keramik memang tidak bisa dipisahkan jauh dari kata 'craft' dan 'seni' namun seringkali masyarakat umum hanya mengenal keramik sebagai genteng atau ubin saja. Padahal, di tangan-tangan terampil para seniman, keramik bisa menjelma menjadi karya seni yang luar biasa bahkan tak terhingga nilainya. Dan itulah salah satu tujuan utama diadakannya pameran ini, untuk memperkenalkan bahwa keramik bukan cuma kendi atau celengan, bukan cuma artefak masa silam dan barang-barang tradisional saja, keramik juga bisa mengikuti jaman dan bersifat kekinian. Ya, selamat datang di era keramik kontemporer.


Lebih lengkap silakan klik http://jakartacontemporaryceramic.wordpress.com/


(Lily Meilani)

18.1.13

Sekonyong Kolase yang (Tidak) Sekonyong-Konyong



Rusuh. Inilah yang tengah melanda hari saya. Setelah sesiangan berkejaran dengan mendung demi berfoto-foto asoy dengan Arum sang fotografer hebring, tujuan berikutnya adalah mengunjungi penutupan Pameran Sekonyong Kolase B//A yang telah seminggu terakhir memajang karya-karya memabukkan dari Billy Anjing. Ah, ya. Maafkan saya yang tidak sempat menemui pembukaan pameran. Namun, tentu saja di penutupan ini saya harus datang. Harus, karena konon, penutupan ini kali menyampaikan ajakan untuk berkolase bersama.  

Pukul tiga sore. Setelah sempat sedikit ngebut di jalanan, sampailah saya di ruangan berdinding kayu yang telah dipenuhi dengan kolase. Bahan-bahan untuk berkolase bersama terlambat datang, beberapa kepala menunggu pasrah. Saya masih bersemangat. Maklum, seumur hidup belum pernah sekalipun berkreasi dengan potongan-potongan gambar maupun tulisan. Dalam penantian, saya amat-amati sedikit cermat pajangan karya itu satu persatu.

Lupakan masalah komposisi maupun teknik, toh saya memang tidak ahli di bidang itu. Akan tetapi, mengamati karya-karya Billy adalah pula mengamati mata seorang manusia yang tengah bercumbu dengan ketidakpastian kondisi. Sentilan-sentilan khas pemberontak muda yang gamang dalam kehidupannya jelas terbaca pada karya-karya tersebut. Tengok saja karya berjudul Buang Gitar Kalian yang mengungkit tentang buruknya industri hiburan yang telah terlalu mengkomersilkan segala sesuatunya atau karya berjudul Jangan Pakai Esia yang berupaya mengkritisi para korporat dan bersolidaritas bersama para korban.

Apa yang disampaikan oleh Sekonyong Kolase A//B bukanlah hal-hal baru. Lebih jauh lagi, ini adalah hal umum yang telah menjadi rahasia publik. Namun, di sini justru terletak kekuatan karya-karya Billy. Pendokumentasiannya terhadap peristiwa-peristiwa sosial tidak hanya sekadar menjadi obat lupa. Dalam karya-karyanya, yang dalam pameran ini merupakan kumpulan karya semenjak tahun 2005, ia berusaha menjadi pemicu (kembali) untuk bersikap terhadap beragam carut-marut kondisi sosial budaya yang seolah tak pernah bisa berhenti berduka cita. Dalam kemampatan yang terjadi, Billy pada akhirnya sekonyong berteriak dalam ketidaksekonyong-konyongan.

Ah, sudah terlalu panjang saya sekonyong bicara. Pembawa bahan-bahan berkolase sudah tiba. Muncul tergopoh-gopoh di tengah guyur hujan. Ini sudah waktunya saya dan kawan-kawan lainnya berkolase. Sekonyong ikut-ikutan berbicara melalui cabik dan potong kertas. “Memotret” sesuatu yang mungkin akan pula membuat kamu bersikap!

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails