Deretan patung perunggu berwarna cokelat terpatri di Galeri Soemardja. Ada manusia bersayap, ada pula lelaki berbadan kuda. Pada mulanya saya berpikir bahwa sang pematung hendak menawarkan kisah-kisah mitos dalam karyanya. Namun, tatkala melihat patung-patung lainnya, pendapat tersebut sontak terpaksa diruntuhkan. Sebagian lainnya memperlihatkan beragam bentuk manusia yang memperlihatkan gerak yang tak biasa dilihat dalam keseharian, mulai dari manusia yang berdiri dengan satu tangan di atas kubus sampai peselancar yang merentangkan kedua tangannya dengan begitu bebas.
Eksplorasi tubuh. demikian kemudian saya mencoba memahami deretan-deretan patung tersebut. Dalam artian positif tentunya. Karya-karya pematung Jorge Maris yang berasal dari Meksiko ini memang mengangkat tajuk Body as a landscape, tubuh sebagai pemandangan.
Pematung yang telah malang melintang selama 25 tahun dalam dunia seni ini terlihat hendak memperlihatkan bentuk-bentuk artistik yang dapat disampaikan oleh tubuh manusia. Saking kentalnya keinginan untuk mengesplorasi tubuh tersebut, semua patung karyanya bahkan mengenakan topeng. Terlalu berlebihan dan klasik memang, ketika berbicara tubuh maka wajah dihilangkan atau di anaktirikan untuk menekan supremasi yang mungkin dapat lahir dari citraan wajah tersebut.
Lepas dari itu semua, karya-karya Jorge Maris seolah hendak memperlihatkan citraan ideal dari tubuh manusia. Semua berotot indah, sempurna, nyaris tanpa cela. Dengan kata lain, pemandangan yang ingin disampaikan oleh sang pematung adalah pemandangan yang indah, ibarat tubuh Cristiano Ronaldo tanpa busana.
Konvensional, demikian akhirnya kesimpulan yang didapat saat memperhatikan Body as a landscape. Keindahan yang kekal yang justru tak menyisakan jejak apa-apa di kepala usai menyaksikannya. Tak ada penawaran baru secara visual meski secara teknik seni dapat dibilang Jorge Maris menawarkan teknik kelas yahud.
(Nugraha Sugiarta)
Tampilkan postingan dengan label Pajang karya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pajang karya. Tampilkan semua postingan
20.6.14
6.9.13
Membaca Bandung Zine Fest 2013
Sore sudah hampir habis ketika saya dengan susah payah memarkirkan motor di kitaran Gedung Indonesia Menggugat (GIM). Bersama seorang sahabat dari ibukota, akhirnya tibalah saya di depan pintu masuk, Bandung Zine Fest. Well, ini adalah event langka. Siapa yang tidak penasaran ingin sejenak mengintip beragam majalah yang tidak mainstream a.k.a jarang dilihat di antara ratusan majalah beroplah besar dan berwarna cerah yang setiap hari mengepung kita.
Setelah menyapa sana-sini beberapa wajah kenalan yang menyemut di depan pintu masuk, saya berhasil menyelinap. Ratusan majalah dengan segera memanjakan mata. Jikalah saya memiliki seribu mata, mungkin tanpa kenal lelah akan saya baca semua majalah yang ada di sana. Tiap meja saya datangi, ada yang menawarkan dengan harga terjangkau dan tentu saja ada pula yang free. Ini yang saya suka!
Dipojok ruangan, terpajang sebuah mesin fotocopy yang tengah ngos-ngosan melayani animo pengunjung. Yap, sebagian besar majalah tersebut memang dengan penuh sukarela memperbolehkan para pengunjung untuk memfotocopy majalah-majalah yang diinginkan. Adapun di pojok ruangan lain, segala macam diskusi dan workshop tanpa kenal henti terus meramai.
Ajang ini, tentu selain menawarkan berbagai pilihan media lain di samping yang telah kita kenal, menjadi ajang pertemuan yang menyenangkan antara para pembaca majalah indie yang selama ini terkesan menjadi minoritas serta antar zinemaker.
Sebagai sebuah gerakan alternatif, Bandung Zine Fest 2013 berhasil menampilkan sebentuk ephoria yang selama ini bersembunyi di tengah kehidupan kota nan sibuk. Ruang yang tak lagi menyisakan waktu untuk menampilkan sesuatu yang berbeda. Lebih lanjut lagi, event ini setidaknya menyadarkan kita bahwa selalu ada pilihan. Seperti para pembuat majalah yang berpartisipasi di sini. Memilih untuk mewujudkan apa yang diinginkan tanpa perlu sungkan dan tanpa perlu merasa rikuh karena menolak bentukan pasar yang selama ini telah mapan.
(Nugraha Sugiarta)
Setelah menyapa sana-sini beberapa wajah kenalan yang menyemut di depan pintu masuk, saya berhasil menyelinap. Ratusan majalah dengan segera memanjakan mata. Jikalah saya memiliki seribu mata, mungkin tanpa kenal lelah akan saya baca semua majalah yang ada di sana. Tiap meja saya datangi, ada yang menawarkan dengan harga terjangkau dan tentu saja ada pula yang free. Ini yang saya suka!
Dipojok ruangan, terpajang sebuah mesin fotocopy yang tengah ngos-ngosan melayani animo pengunjung. Yap, sebagian besar majalah tersebut memang dengan penuh sukarela memperbolehkan para pengunjung untuk memfotocopy majalah-majalah yang diinginkan. Adapun di pojok ruangan lain, segala macam diskusi dan workshop tanpa kenal henti terus meramai.
Ajang ini, tentu selain menawarkan berbagai pilihan media lain di samping yang telah kita kenal, menjadi ajang pertemuan yang menyenangkan antara para pembaca majalah indie yang selama ini terkesan menjadi minoritas serta antar zinemaker.
Sebagai sebuah gerakan alternatif, Bandung Zine Fest 2013 berhasil menampilkan sebentuk ephoria yang selama ini bersembunyi di tengah kehidupan kota nan sibuk. Ruang yang tak lagi menyisakan waktu untuk menampilkan sesuatu yang berbeda. Lebih lanjut lagi, event ini setidaknya menyadarkan kita bahwa selalu ada pilihan. Seperti para pembuat majalah yang berpartisipasi di sini. Memilih untuk mewujudkan apa yang diinginkan tanpa perlu sungkan dan tanpa perlu merasa rikuh karena menolak bentukan pasar yang selama ini telah mapan.
(Nugraha Sugiarta)
2.8.13
Ketika Tobucil Ber-Stop Motion
Sore sudah nyaris habis
ketika beberapa hari yang lalu saya tiba di Tobucil. Apa lacur, hasrat
mengikuti workshop singkat tentang stop motion sambil ngabuburit tak sepenuhnya
terpenuhi. Tentu, tak semuanya gagal total. Meski tak sempat mendapat materi, kedatangan
saya disambut oleh kesibukan para peserta yang tengah asyik bersiap membuat
stop motion. Ada upi yang tengah menyusun tumpukan rajutan, Tarlen dengan
boneka matrioska, sampai Arum yang sibuk menyusun tangga nada dari meteran demi
membuat stop motion untuk kepentingan band super hebring Tetangga Pak Gesang.
Plus beberapa kawan lainnya yang dengan setia rela antri menanti giliran
membuat stop motion.
Sudah barang tentu,
dari kesemuanya, Tile dan Ambon sebagai mentor paling trengginas hari itu tampak
sibuk di depan kamera dan laptop. Kamera tiada henti menjepret, gambar demi
gambar diambil sambil terus mengamati hasil jepretan di layar laptop. Beberapa
kepala yang tidak bisa menyembunyikan rasa penasaran turut pula ramai
berkerumun menyaksikan. Pun demikian pula halnya dengan saya yang memang
sedikit udik untuk urusan pembuatan stop motion.
Lalu, apa sebenarnya stop motion itu sendiri? Secara ringkas, stop motion adalah sebuah teknik animasi yang memanipulasi gambar atau objek diam dengan sedemikian rupa sehingga terlihat bergerak. Dengan mengandalkan frame demi frame yang diambil melalui kamera foto, stop motion lalu menggabungkan kesemua gambar tersebut sehingga menghasilkan film yang terlihat unik,bergerak kasar, dan tidak terlihat mulus. Di sinilah kemudian letak dari perbedaan antara stop motion dibandingkan video bergerak lainnya. Tentu saja, dalam pengerjaannya, penggunaan tripod sangat dianjurkan agar sudut pengambilan gambar stabil pada tempatnya.
Lalu, apa sebenarnya stop motion itu sendiri? Secara ringkas, stop motion adalah sebuah teknik animasi yang memanipulasi gambar atau objek diam dengan sedemikian rupa sehingga terlihat bergerak. Dengan mengandalkan frame demi frame yang diambil melalui kamera foto, stop motion lalu menggabungkan kesemua gambar tersebut sehingga menghasilkan film yang terlihat unik,bergerak kasar, dan tidak terlihat mulus. Di sinilah kemudian letak dari perbedaan antara stop motion dibandingkan video bergerak lainnya. Tentu saja, dalam pengerjaannya, penggunaan tripod sangat dianjurkan agar sudut pengambilan gambar stabil pada tempatnya.
Satu demi satu video
itu selesai dibuat. Beberapa masih sibuk dengan menerjemahkan ide stop motion
di kepala. Hari itu, Tobucil sedikit melemburkan diri. Tekun dan khusyu menyusun
gambar diam yang mencoba bercerita.(NugrahaSugiarta)
26.4.13
Menata Ruang Kerja di Rumah
Pernah
mendengar istilah SOHO alias Small Office
Home Office? Pengertian bekerja di era modern memang tak melulu berkutat di
kantor. Hal ini sendiri berjalan seiring dengan semakin majunya perkembangan
teknologi dan informasi yang memungkinkan segala sesuatunya bisa diperoleh
sekaligus disampaikan melalui berbagai gadget
seperti telepon selular maupun jaringan internet. Di samping itu,
adakalanya pula, pekerjaan yang terlalu menumpuk membuat semuanya tak
terselesaikan di kantor sehingga rumah pun menjadi pilihan tempat untuk
membereskan semua tenggat yang tertinggal.
Salah
satu cara mengoptimalkan jam kerja di rumah adalah dengan membuat ruang kerja
khusus tempat melakukan semua aktivitas pekerjaan. Bagi yang tidak mempunyai
ukuran rumah yang cukup besar untuk membuat ruang kerja khusus. Jangan kecewa,
karena ruang kerja bisa memanfaatkan lahan di mana saja dan tidak membutuhkan
area yang luas, yang penting bagaimana cara menatanya supaya rumah tetap
terlihat cantik dan tidak berantakan seperti kapal pecah.Area kerja di dalam
rumah biasanya dibuat untuk memudahkan kita menyelesaikan suatu pekerjaan, baik
yang dibawa dari kantor maupun pekerjaan rumah. Karena itu, sebaiknya area
kerja ini diletakkan di tempat yang terpisah dari fungsi lain agar kegiatan
kerja yang memerlukan konsentrasi tinggi itu tidak terganggu. Namun,
keterbatasan lahan membuat pemilik rumah sulit membuat ruang kerja tersendiri.
Meskipun demikian, ini bisa menyiasatinya dengan menciptakan area kerja di
sudut rumah dengan cara memanfaatkan salah satu pojok ruang duduk, ruang makan,
atau di sisi rumah lainnya. Sedangkan untuk ukurannya, standar minimal ruang
kerja adalah 3x3 meter persegi. Ruang ini bisa menjadi bagian dari ruang
terusan atau tata bagian ruang keluarga yang di dalamnya dilengkapi ruang
hiburan atau ruang makan.
Kenyamanan
adalah pertimbangan utama ketika membicarakan ruang kerja. Perlengkapan dasar
seperti meja dan kursi harus mendapat prioritas utama. Pilihlah kursi dengan
dudukan dan sandaran empuk. Agar punggung tidak pegal jika harus berlama-lama
duduk. Bedakan penataan meja kerja di rumah dengan di kantor agar suasana tidak
terasa monoton sehingga rasa bosan dapat tersingkirkan. Furnitur lainnya
seperti lemari atau rak buku dibutuhkan dalam ruang kerja. Sejumlah furnitur
ini sebaiknya dipilih yang betul-betul memenuhi kebutuhan kita dalam bekerja
dan disusun secara kompak agar kerja dapat semakin efisien. Jangan lupa pula
untuk menyediakan papan kecil, jam, kalender, tempat sampah, tempat untuk
meletakkan perlengkapan ATK, dan juga tempat untuk menempel pesan. Kita juga
bisa menempatkan sebuah pohon hias berwarna hijau untuk memberi sentuhan di
ruang kerja. Kesejukan yang timbul pada warna hijau pohon bisa menimbulkan
semangat dan gairah kerja. Untuk membuat suasana semakin menyenangkan, dapat
pula meletakkan foto-foto kesayangan dan pernak-pernik lucu.
Jenis
penerangan yang digunakan juga harus dapat memenuhi kebutuhan cahaya untuk
ruang ini. Pastikan ruang kerja mendapat cahaya cukup. Jenis pertama, yaitu
yang menerangi seluruh ruang, fungsinya agar cahaya menyebar secara merata.
Berikutnya penerangan setempat untuk mendukung kegiatan-kegiatan khusus,
seperti menulis, membaca, menggambar, dan lain-lain. Bentuknya bisa berupa
lampu meja atau lampu sorot. Ruang kerja juga perlu diberi sentuhan warna
tersendiri. Ini untuk mengurangi kebosanan dan rasa tidak mood untuk
bekerja. Namun, untuk memilih warna tergantung pada karakter individunya
masing-masing karena bila pilihan warna tidak sesuai dengan karakter
pemakainya, ia bisa memengaruhi kinerja penggunanya. Misalnya saja, untuk orang
yang energik, sebaiknya menggunakan warna terang seperti merah, oranye, kuning,
dan ungu. Namun, untuk golongan orang yang serius, warna dingin seperti biru,
hijau, dan cokelat tua dapat menjadi pilihan. Apabila ingin memberi kesan luas
atau lapang, Cat dinding dengan warna pucat dan netral dapat digunakan.
Koneksi
ke dunia luar adalah hal terakhir yang juga harus mendapat perhatian. Oleh
karenanya, jangan lupa, ruang kerja di rumah sebaiknya dekat dengan koneksi
internet serta telepon atau mesin fax. Selamat bekerja!
19.4.13
Mengenang Guevara dalam Komik
Rintik hujan merinai
buas pada malam 12 April lalu. Tapi niat saya tak mengendur. Di samping memang
sedang ingin iseng berkunjung, mengamati keramaian sepertinya sedang menjadi
tema hari itu. Terdamparlah saya kemudian di IFI Bandung yang tengah penuh
sesak oleh kepala-kepala manusia. Kopi, rokok, dan pergosipan tergelar. Tentu,
bukan hanya itu semata yang membuat saya bersusah-susah menembus hujan.
Perayaan tahun ke lima Forum Komik Indonesia-Perancis yang sedang menyajikan
pameran bertajuk “Ngagambar Sareng Kang Simon Geliot” adalah satu hal yang
ingin saya hadiri betul sejak jauh-jauh hari.
Sekilas saya membaca
tentang sang komikus. Simon Géliot lahir di Paris pada tahun 1982 dan menjadi
salah satu lulusan École Nationale Supérieure des Arts Décoratifs de Paris
(Sekolah Tinggi Negeri Grafis dan Seni Terapan) yang merupakan sekolah terbaik
Prancis di bidang grafis dan desain. Sejak kecil ia gemar menekuni hobinya,
yaitu membuat komik dan gambar ilustrasi. Berkat bakat menggambarnya, ia
dipercaya oleh sebuah merk prêt à porter Prancis terkenal untuk mendesain
beberapa produknya. Sepertinya menarik. Saya melangkah. Ruangan pameran masih
ramai meski sebenarnya saya sedikit terlambat. Beberapa karya komik hitam putih
tertempel tegas di dinding. Berbahasa Perancis, membuat saya mengerutkan
kening. Pribumi macam saya tidak pernah sedetik pun mempelajari bahasa yang
satu ini. Tapi baiklah, toh, jurang bahasa selalu dapat dirapatkan ketika
tampilan-tampilan visual berbicara.
Tema yang diangkat
cukup sederhana. Mengangkat kisah hidup tokoh yang paling banyak disablon
mukanya pada kaus: Che Guevara. Kisah sendiri diambil dari kacamata salah
seorang pejuang yang selamat pada perang gerilya Kuba medio 1966-1967. Mengamati
kotak demi kotak cerita itu, saya menangkap nuansa revolusioner yang cukup
kental. Entah karena garis-garis tegas yang ditampilkan di dalamnya atau justru
karena kekuatan hitam putih yang menjadi pilihan warnanya. Namun, jujur saja,
agak susah menangkap bilamana mencoba menjiwai sosok yang digambarkan oleh
Simon Geliot. Menyelami Che Guevara di tengah pusaran kota yang semakin
kapitalistik di sebuah lembaga budaya negara liberal? Oh, baiklah, ini semacam
romansa tak tentu arah yang sepertinya ada di kepala sang seniman. Romansa, ya
romansa. Di mana lagi harus menampilkan Che Guevara jika bukan di tengah
romansa. Di mana lagi mengingat gaya revolusi rakyat bersenjata jika bukan di
kilas masa lalu.
Dunia berubah. Revolusi
ala Che Guevara masih menjadi pujaan. Lebih jauh lagi, bahkan pengkultusan
sikap yang terlalu mendewa dan terbang di langit antah berantah. Melihat
pameran ini, saya seperti diingatkan sesaat pada sosok kepahlawanan sekaligus
kekirian Che Guevara. Setelah itu, harga BBM yang hendak melambung plus
berpikir keras menjalani hari-hari yang kian mahal terasa menari di kepala.
Langit masih mendung, di motor seorang teman yang menumpang berkisah tentang
segala keperluan dapur. Selamat tinggal, Che Guevara!
3.3.13
Menyusuri Perjalanan Hidup di Natamorta
Gedung Perusahaan Gas Negara yang terletak di Jalan Braga riuh ramai malam itu, saya berkesempatan untuk menghadiri pembukaan sebuah pameran bertajuk "Natamorta - Spread the Fragments of Life and Demise". Pameran ini diadakan oleh mahasiswa-mahasiswi dari Desain Komunikasi Visual ITB itu berlangsung selama 3 hari, mulai dari tanggal 21 hingga 23 Februari 2013 kemarin. Animo masyarakat terhadap pameran ini cukup besar, karena publikasi sudah dilakukan semenjak jauh hari dan diadakan pula beberapa seminar dan workshop yang diadakan sebagai pre-event rangkaian acara Natamorta ini.
Tema yang diusung dalam pameran ini cukup menarik, para 'calon desainer' ini mencoba mengajak kita menelusuri kehidupan, dari masa pra natal hingga menuju ke kematian; dan bahkan, kita juga bisa mencoba menelusurinya terbalik; berjalan mundur dari kematian sampai menuju titik awal kelahiran kembali. Meskipun karya-karya yang kita lihat akan sama (hanya urutannya terbalik), namun dengan skema seperti ini, kita bisa merasakan esensi yang berbeda saat menikmati pameran ini melalui jalur yang berbeda, sungguh cara yang menarik untuk menyuguhkan sebuah eksebisi!
Mahasiswa yang berpartisipasi dalam pameran ini jumlahnya cukup banyak; lebih dari 100 orang; selain itu ada juga karya delegasi dari alumni DKV ITB, dari mahasiswa jurusan lain di FSRD (Fakultas Seni Rupa dan Desain) ITB, dan bahkan karya dari mahasiswa universitas lain. Karena ini adalah pameran DKV, karya yang ditampilkan pun sangat variatif karena 'range' dari dunia Desain Komunikasi Visual sangatlah luas, apapun yang bisa 'menyampaikan' makna tertentu bisa menjadi karya, apapun media dan caranya; jadi di sini Anda bisa melihat bermacam-macam instalasi, karya tipografi, ilustrasi, buku, video, game interaktif, dan banyak lagi.
Yang luar biasa adalah kekompakan para peserta pameran ini. Beberapa hari sebelum pameran dimulai, sudah beredar 'skema kuning hitam' foto teaser para peserta pameran yang menggunakan template yang sejenis; dan bahkan saat hari pameran, mereka memakai kostum yang seragam.
Selain pameran, terdapat juga spot kafe yang menjual aneka makanan dan minuman yang dirangkai secara apik dan disesuaikan dengan ambience Gedung PGN yang jadul tapi romantis.
Natamorta membuka tahun 2013 dengan suguhan karya-karya visual yang menarik, segar, dan berani. Dengan persiapan yang matang, mereka berhasil membawa karya dan nama mereka ke masyarakat luas sebagai bekal menjadi 'desainer sungguhan' kelak. Selamat atas kesuksesan kalian, Natamorta! Terus berkarya dan semoga akan muncul pameran-pameran DKV selanjutnya yang lebih luar biasa!
(Livia "Lily" Meilani)
![]() |
| disediakan 2 jalur untuk menikmati pameran ini; 'maju' atau 'mundur' |
Mahasiswa yang berpartisipasi dalam pameran ini jumlahnya cukup banyak; lebih dari 100 orang; selain itu ada juga karya delegasi dari alumni DKV ITB, dari mahasiswa jurusan lain di FSRD (Fakultas Seni Rupa dan Desain) ITB, dan bahkan karya dari mahasiswa universitas lain. Karena ini adalah pameran DKV, karya yang ditampilkan pun sangat variatif karena 'range' dari dunia Desain Komunikasi Visual sangatlah luas, apapun yang bisa 'menyampaikan' makna tertentu bisa menjadi karya, apapun media dan caranya; jadi di sini Anda bisa melihat bermacam-macam instalasi, karya tipografi, ilustrasi, buku, video, game interaktif, dan banyak lagi.![]() |
| beberapa peserta pameran |
Selain pameran, terdapat juga spot kafe yang menjual aneka makanan dan minuman yang dirangkai secara apik dan disesuaikan dengan ambience Gedung PGN yang jadul tapi romantis.
Natamorta membuka tahun 2013 dengan suguhan karya-karya visual yang menarik, segar, dan berani. Dengan persiapan yang matang, mereka berhasil membawa karya dan nama mereka ke masyarakat luas sebagai bekal menjadi 'desainer sungguhan' kelak. Selamat atas kesuksesan kalian, Natamorta! Terus berkarya dan semoga akan muncul pameran-pameran DKV selanjutnya yang lebih luar biasa!
(Livia "Lily" Meilani)
19.1.13
The Second Jakarta Contemporary Ceramics Biennale
The Second Jakarta Contemporary Ceramics Biennale (JCCB #2) merupakan sekuel dari JCCB pertama "In Between" yang diadakan 2010 silam. Bertempat di Museum Seni Rupa dan Keramik serta di North Art Space Gallery yang bertempat di Pasar Seni Ancol, rangkaian kegiatan pameran ini berlangsung selama satu bulan penuh, dimulai pada tanggal 21 Desember 2012 kemarin hingga tanggal 20 Januari 2013 besok. Pameran ini terbuka dan gratis untuk umum, namun untuk memasuki Museum Seni Rupa dan Keramik, diwajibkan membayar sebesar Rp 5.000,- untuk umum dan Rp 3.000,- untuk mahasiswa dan pelajar, sementara untuk memasuki kawasan Taman Impian Jaya Ancol, diwajibkan untuk membayar Rp 15.000,- perorang dan juga biaya masuk kendaraan.
Mengusung tagline "Crafting Identity", 46 seniman keramik dalam negeri maupun internasional memamerkan kemampuan craftmanshipnya dalam mengolah tanah liat hingga menjadi karya seni yang menunjukkan jati diri dan identitas mereka. Dikuratori oleh Sudjud Dartanto, pameran ini sekali lagi berusaha menunjukkan keeksisan material keramik khususnya di bidang seni kontemporer.
Saya mengawali perjalanan menuju pameran ini dari Bandung bersama rombongan teman-teman dari jurusan Kriya Keramik ITB. Tiba di Jakarta sekitar pukul 11, kami segera menuju kawasan Museum Seni Rupa dan Keramik (MSRK) yang berlokasi di daerah Kota, Jakarta Barat. Beberapa karya dipamerkan di hall utama museum ini, tidak terlalu banyak namun selain itu kita juga dapat melihat koleksi lain milik Museum Seni Rupa dan Keramik seperti lukisan-lukisan dan keramik kuno.
Setelah menghabiskan kurang lebih satu jam di Museum Seni Rupa dan Keramik, kami segera menuju kawasan Taman Impian Jaya Ancol dan langsung menyambangi North Art Space Gallery yang berlokasi di Pasar Seni Ancol. Dua lantai North Art Space Gallery penuh terisi karya-karya terbaik dari tangan ke-46 seniman ini. Kualitas pameran ini tak perlu diragukan, karena Jakarta Contemporary Ceramics Biennale bisa dibilang merupakan pameran keramik paling 'bergengsi' yang diadakan di tanah air.
Selain pameran, pada tanggal 13 kemarin juga diadakan seminar bertajuk "Keramik Kontemporer dalam Kacamata Arkeologi" yang dibawakan oleh Ibu Nani Wibisono dan Pak Adi Wicaksono. Selain itu pada tanggal 13 juga diadakan workshop Ocarina-clay whistle (sejenis alat musik tiup sederhana dari keramik) oleh Geoffrey Tjakra dan workshop pembakaran keramik dengan metode Raku oleh Pak Haryo Soenggono. Kami tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, sayapun turut berpartisipasi dalam workshop pembakaran raku. Raku ini sangat menarik, karena glasir yang dihasilkan akan memunculkan efek karat atau metalik. Hal ini dikarenakan, saat barang-barang yang masih membara panas di dalam tungku diambil secara paksa dan direduksi dengan cara dimasukkan ke dalam tumpukkan sekam atau koran.
Usai menghabiskan seharian penuh menikmati karya-karya yang luar biasa, sayapun berkesimpulan, keramik memang tidak bisa dipisahkan jauh dari kata 'craft' dan 'seni' namun seringkali masyarakat umum hanya mengenal keramik sebagai genteng atau ubin saja. Padahal, di tangan-tangan terampil para seniman, keramik bisa menjelma menjadi karya seni yang luar biasa bahkan tak terhingga nilainya. Dan itulah salah satu tujuan utama diadakannya pameran ini, untuk memperkenalkan bahwa keramik bukan cuma kendi atau celengan, bukan cuma artefak masa silam dan barang-barang tradisional saja, keramik juga bisa mengikuti jaman dan bersifat kekinian. Ya, selamat datang di era keramik kontemporer.
Lebih lengkap silakan klik http://jakartacontemporaryceramic.wordpress.com/
(Lily Meilani)
Mengusung tagline "Crafting Identity", 46 seniman keramik dalam negeri maupun internasional memamerkan kemampuan craftmanshipnya dalam mengolah tanah liat hingga menjadi karya seni yang menunjukkan jati diri dan identitas mereka. Dikuratori oleh Sudjud Dartanto, pameran ini sekali lagi berusaha menunjukkan keeksisan material keramik khususnya di bidang seni kontemporer.
![]() |
| Salah satu karya instalasi di MSRK berjudul "Where are We?" oleh Herra Pahlasari |
Setelah menghabiskan kurang lebih satu jam di Museum Seni Rupa dan Keramik, kami segera menuju kawasan Taman Impian Jaya Ancol dan langsung menyambangi North Art Space Gallery yang berlokasi di Pasar Seni Ancol. Dua lantai North Art Space Gallery penuh terisi karya-karya terbaik dari tangan ke-46 seniman ini. Kualitas pameran ini tak perlu diragukan, karena Jakarta Contemporary Ceramics Biennale bisa dibilang merupakan pameran keramik paling 'bergengsi' yang diadakan di tanah air.
| Landscape #2+1 karya Natas Setiabudhi, Indonesia |
| Karya Michael J. Doolan, Australia |
| Karya Antonio S. Sinaga, Indonesia |
![]() |
| Contoh hasil pembakaran raku yang kami lakukan kemarin |
Usai menghabiskan seharian penuh menikmati karya-karya yang luar biasa, sayapun berkesimpulan, keramik memang tidak bisa dipisahkan jauh dari kata 'craft' dan 'seni' namun seringkali masyarakat umum hanya mengenal keramik sebagai genteng atau ubin saja. Padahal, di tangan-tangan terampil para seniman, keramik bisa menjelma menjadi karya seni yang luar biasa bahkan tak terhingga nilainya. Dan itulah salah satu tujuan utama diadakannya pameran ini, untuk memperkenalkan bahwa keramik bukan cuma kendi atau celengan, bukan cuma artefak masa silam dan barang-barang tradisional saja, keramik juga bisa mengikuti jaman dan bersifat kekinian. Ya, selamat datang di era keramik kontemporer.
Lebih lengkap silakan klik http://jakartacontemporaryceramic.wordpress.com/
(Lily Meilani)
18.1.13
Sekonyong Kolase yang (Tidak) Sekonyong-Konyong
Rusuh. Inilah yang
tengah melanda hari saya. Setelah sesiangan berkejaran dengan mendung demi
berfoto-foto asoy dengan Arum sang fotografer hebring, tujuan berikutnya adalah
mengunjungi penutupan Pameran Sekonyong
Kolase B//A yang telah seminggu
terakhir memajang karya-karya memabukkan dari Billy Anjing. Ah, ya. Maafkan
saya yang tidak sempat menemui pembukaan pameran. Namun, tentu saja di
penutupan ini saya harus datang. Harus, karena konon, penutupan ini kali
menyampaikan ajakan untuk berkolase bersama.
Pukul tiga sore.
Setelah sempat sedikit ngebut di jalanan, sampailah saya di ruangan berdinding
kayu yang telah dipenuhi dengan kolase. Bahan-bahan untuk
berkolase bersama terlambat datang, beberapa kepala menunggu pasrah. Saya masih
bersemangat. Maklum, seumur hidup belum pernah sekalipun berkreasi dengan
potongan-potongan gambar maupun tulisan. Dalam penantian, saya amat-amati
sedikit cermat pajangan karya itu satu persatu.
Lupakan masalah
komposisi maupun teknik, toh saya memang tidak ahli di bidang itu. Akan tetapi,
mengamati karya-karya Billy adalah pula mengamati mata seorang manusia yang tengah
bercumbu dengan ketidakpastian kondisi. Sentilan-sentilan khas pemberontak muda
yang gamang dalam kehidupannya jelas terbaca pada karya-karya tersebut. Tengok
saja karya berjudul Buang Gitar Kalian yang
mengungkit tentang buruknya industri hiburan yang telah terlalu mengkomersilkan
segala sesuatunya atau karya berjudul Jangan
Pakai Esia yang berupaya mengkritisi para korporat dan bersolidaritas
bersama para korban.
Apa yang disampaikan
oleh Sekonyong Kolase A//B bukanlah
hal-hal baru. Lebih jauh lagi, ini adalah hal umum yang telah menjadi rahasia
publik. Namun, di sini justru terletak kekuatan karya-karya Billy.
Pendokumentasiannya terhadap peristiwa-peristiwa sosial tidak hanya sekadar
menjadi obat lupa. Dalam karya-karyanya, yang dalam pameran ini merupakan
kumpulan karya semenjak tahun 2005, ia berusaha menjadi pemicu (kembali) untuk
bersikap terhadap beragam carut-marut kondisi sosial budaya yang seolah tak pernah
bisa berhenti berduka cita. Dalam kemampatan yang terjadi, Billy pada akhirnya sekonyong
berteriak dalam ketidaksekonyong-konyongan.
Ah, sudah terlalu
panjang saya sekonyong bicara. Pembawa bahan-bahan berkolase sudah tiba. Muncul
tergopoh-gopoh di tengah guyur hujan. Ini sudah waktunya saya dan kawan-kawan
lainnya berkolase. Sekonyong ikut-ikutan berbicara melalui cabik dan potong
kertas. “Memotret” sesuatu yang mungkin akan pula membuat kamu bersikap!
Langganan:
Postingan (Atom)













