Sandal gunung berwarna hitam, kemeja
flanel dengan kancing yang dibuka sebagian dipadu dengan celana gunung berwarna
coklat mengiringi langkah beratnya sore itu. Di pundaknya, sebuah ransel hitam
dikenakan. Jangan bayangkan bahwa pemandangan di atas tengah terjadi di sebuah
puncak gunung. Hal itu tersaji di sebuah mall yang cukup terkenal di Bandung.
Memang, saat ini, pakaian yang jika dahulu hanya dikenakan oleh manusia-manusia
pendaki gunung atau yang kerap dikenal
dengan sapaan para pecinta alam ketika hendak melakukan ekspedisi, telah
menjadi trend di tengah masyarakat luas. Hal ini pula sebenarnya yang kemudian
membuat toko-toko penjual pernak-pernik kegiatan alam bebas tak pernah sepi
dari pengunjung. Pengunjung yang datang pun kini sangat beragam, mulai dari usia
dewasa bahkan remaja.
Sebenarnya, sisi fungsi dari busana
itu sendiri menjadi nomor sekian bagi para pecinta gaya busana khas pecinta
alam. Hal ini pula yang diamini oleh Trihasdianto, seorang desainer muda yang
juga jebolan sebuah kampus negeri yang cukup terkemuka di Bandung. Ditemui di
sebuah café di bilangan Hasanuddin, sarjana kriya tekstil yang telah cukup lama
berkecimpung di dunia fashion dan desain ini mengakui bahwa busana ala pecinta
alam saat ini sudah mengikuti pangsa pasar.
“Tengok saja dari desainnya. Sandal
gunung, misalnya. Dari segi warna dan desain motifnya, mengikuti selera
masyarakat luas walaupun masih ada kekhasan yang mencirikan bahwa sandal
tersebut adalah sandal gunung. Tak hanya sandal, begitu juga dengan yang
lainnya. Contohnya saja backpack yang mengikuti model-model sesuai
kebutuhan orang kota. Merk-merk yang selama ini dikenal sebagai penyedia backpack
untuk ekspedisi ke gunung bahkan telah ada pula yang membuat produk backpack
dengan spesifikasi yang disesuaikan untuk keperluan sehari-hari para penghuni
kota, seperti ransel khusus pengguna laptop atau para fotografer, dan lain
sebagainya,’ jabar Tri dengan panjang lebar, “tentu saja bukan hanya sekadar
sandal dan ransel, tapi juga termasuk produk-produk outdoor lainnya
seperti celana atau baju. Semuanya sudah tidak ada lagi batasan,” tambahnya
sejurus kemudian.
Apa yang membuat ia begitu
digemari? Lelaki lajang ini kemudian mengatakan bahwa peralatan tersebut
menjadi trend dan cukup digemari karena selain desainnya yang tetap menonjolkan
segi kenyaman, terdapat pula unsur praktis dan tetap bisa dipakai untuk
pergaulan alias hangout bersama rekan atau sahabat.
“Tentu saja, ada kelebihan lain
dari cara berpakaian outdoor seperti ini, yakni ia bisa dipakai oleh
siapa saja tanpa ada batasan yang berkenaan dengan bentukan fisik pemakainya.
Meskipun demikian, tak bisa dipungkiri, selain kaum muda, pakaian jenis ini,
jika kita berbicara dalam konteks penggunanya di perkotaan, lebih banyak
dikenakan oleh orang-orang yang memang kesehariannya lebih banyak dihabiskan di
lapangan, seperti para reporter, teknisi yang mengurusi jaringan, atau aktivis
lingkungan hidup. Hal ini karena kenyamanan dan juga unsur fungsional yang
dimiliki oleh ciri berbusana tersebut,” ujar Tri.
Yang jelas, jika dilihat dari segi
bisnis, Tri perbendapat bahwa bisnis outdoor equipment adalah bisnis
yang tak ada matinya karena selain segmentasi penggunanya yang cukup jelas, ia
juga tidak masuk dalam kancah trend yang hanya sesaat. Apalagi ditunjang dari
segi ekonomi, produk-produk outdoor ini telah pula merambah ke berbagai
lapisan masyarakat.
“Yang pasti, busana ini terlihat
sangat casual dan fleksibel
karena ia tidak menganut
sistem mix ‘n’ match sebagaimana layaknya model-model fashion lainnya. Sangat
bebas dan plural,” ungkap Tri di akhir pembicaraan sambil menikmati segelas
kopi hangat di hadapannya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar