Mengarungi karya-karya
Ledidak adalah bersentuhan dengan karya-karya yang menyadarkan tentang hidup.
Ada kedamaian, kematian, dan kehidupan. Dibalut dengan konsep etnik serta
konsumerisme masyarakat modern saat sekarang, Ledidak mungkin satu dari sedikit
crafter yang mampu menerjemahkan idealisme ke dalam gejolak budaya pop yang
berkembang di tengah kehidupan manusia di muka muka bumi. Siap menemui sisi
lain dari kehidupanmu? Mari simak Ledidak!
Karya-karyanya
tampak beraura mistis hihihi… Aksesoris-aksesoris seperti apa, nih, yang dibuat
oleh Nuri dengan Ledidaknya?
Tahun 2008 saya membuat
aksesoris untuk memenuhi hasrat anak muda yg segmentasinya SMP dan SMA. Saya
jual di distro-distro, kemudian saya kelelahan untuk mengadopsi keinginan pasar
dan saya lelah dengan pasar yang menuntut saya. Belajar dari pelajaran“ buatlah
pasarmu sendiri”, saya membuat jati diri baru. Tahun 2009 aksesoris yang saya
buat lebih memenuhi hasrat dan keinginan saya, memasukkan beberapa unsur etnik,
gypsy, hippie dan beberapa elemen kultur budaya yg ada di dunia luar. Kenapa
terlihat mistis itu persepsi masing-masing customer dan orang yg melihat produk
ini. Kadang mereka bahagia dengan beberapa desain yang saya buat karena memenuhi
keinginan jiwa mereka tentang kematian dan kehidupan, kadang mereka takut “ ih
sereem “, tapi saya tetap bahagia karena persepsi mereka yang bebas.
Baca
di blognya ada kata-kata “postmodern gypsy”. Apa sebenarnya yang menarik dari
gypsy itu sendiri sampai Nuri menjadikannya trademark dari Ledidak?
Sebetulnya saya
mengerucutkan desain, etnik dan gypsy, tribal dan lain-lain. Kedamaian, kehidupan,
kematian dijadikan satu ide dalam membuat desain saya. Kultur gypsy, misalnya.
mereka hidup dengan mistis dan magis, sedang postmodern lebih pada pembaharuan
dari pola perpikir dan pola berbelanja konsumsi pada kaum modern.
Nuri
sendiri semenjak kapan, nih, tertarik dengan dunia handmade? Kok, bisa
tertarik?
Sejak kecil saya
mencintai dunia seni. Dulu saya memualainya dari 2008, membuat sesuatu untuk
hadiah dari clay diunduh diblog dan beberapa social media. Kemudian saya
mengelutinya terus menerus. Kadang vakum karena kesibukan saya, tapi pada
akhirnya saya tetep menjalankan Ledidak.
Ngomongin
handmade berarti ngomongin tentang ketekunan. Menurut Nuri, gimana cara paling
manjur untuk menjaga intensitas berkarya biar terus cespleng dan enggak mandek?
Ini pola budaya
Indonesia. Kadang kita dituntut untuk maju semaju mungkin dengan segala aspek
strategi yang dibangun, baik atau buruk , originalitas, dan sebagainya. Pada
akhirnya, tuntutan pasar membuat kita lelah walaupun kebutuhan pasar tidak
dipungkuri menjadi keharusan untuk memenuhi finansial. Hal yang paling relevan
bagi saya adalah menghidupi bisnis kecil saya sefleksibel mungkin. Pasar Ledidak
tidak menuntut banyak. Mereka hanya menunggu desain apa yang saya buat. Itu
yang dapat memacu pikiran saya untuk membuat hal yang baru.
Nah,
terus terpikir bikin Ledidak gimana, tuh, kisah serunya, hihihi…
Dulu saya punya nama di
deviantartm nama saya gadisgelap. Saya sedikit narsis untuk menaruh GADISGELAP
didalam nama produk , kemudian saya plesetkan menjadi LADY DARK dengan spelling
Indonesia LEDIDAK.
Sebutin
lima kata yang paling mewakili Ledidak…
Bebas, brutal,
kehidupan, absurd, aneh.
Tanggapan
paling maknyus dari Nuri tentang Crafty Days?
Saya senang sekali dan
curious soal crafty days. Saya baru submit craftday ke 7 ini dan terimakasih
untuk tobucil. kami di Yogyakarta dua
tahun lalu membuat komunitas Magic Finger Syndicate dan masih jalan sampai sekarang.
Jadi apa pun sebetulnya yang berhubungan dengan pernik-pernik dan dibuat
festival bazar atau apa pun itu saya sangat senang.
FB Fan Page: Ledidak



Tidak ada komentar:
Posting Komentar