Rintik hujan merinai
buas pada malam 12 April lalu. Tapi niat saya tak mengendur. Di samping memang
sedang ingin iseng berkunjung, mengamati keramaian sepertinya sedang menjadi
tema hari itu. Terdamparlah saya kemudian di IFI Bandung yang tengah penuh
sesak oleh kepala-kepala manusia. Kopi, rokok, dan pergosipan tergelar. Tentu,
bukan hanya itu semata yang membuat saya bersusah-susah menembus hujan.
Perayaan tahun ke lima Forum Komik Indonesia-Perancis yang sedang menyajikan
pameran bertajuk “Ngagambar Sareng Kang Simon Geliot” adalah satu hal yang
ingin saya hadiri betul sejak jauh-jauh hari.
Sekilas saya membaca
tentang sang komikus. Simon Géliot lahir di Paris pada tahun 1982 dan menjadi
salah satu lulusan École Nationale Supérieure des Arts Décoratifs de Paris
(Sekolah Tinggi Negeri Grafis dan Seni Terapan) yang merupakan sekolah terbaik
Prancis di bidang grafis dan desain. Sejak kecil ia gemar menekuni hobinya,
yaitu membuat komik dan gambar ilustrasi. Berkat bakat menggambarnya, ia
dipercaya oleh sebuah merk prêt à porter Prancis terkenal untuk mendesain
beberapa produknya. Sepertinya menarik. Saya melangkah. Ruangan pameran masih
ramai meski sebenarnya saya sedikit terlambat. Beberapa karya komik hitam putih
tertempel tegas di dinding. Berbahasa Perancis, membuat saya mengerutkan
kening. Pribumi macam saya tidak pernah sedetik pun mempelajari bahasa yang
satu ini. Tapi baiklah, toh, jurang bahasa selalu dapat dirapatkan ketika
tampilan-tampilan visual berbicara.
Tema yang diangkat
cukup sederhana. Mengangkat kisah hidup tokoh yang paling banyak disablon
mukanya pada kaus: Che Guevara. Kisah sendiri diambil dari kacamata salah
seorang pejuang yang selamat pada perang gerilya Kuba medio 1966-1967. Mengamati
kotak demi kotak cerita itu, saya menangkap nuansa revolusioner yang cukup
kental. Entah karena garis-garis tegas yang ditampilkan di dalamnya atau justru
karena kekuatan hitam putih yang menjadi pilihan warnanya. Namun, jujur saja,
agak susah menangkap bilamana mencoba menjiwai sosok yang digambarkan oleh
Simon Geliot. Menyelami Che Guevara di tengah pusaran kota yang semakin
kapitalistik di sebuah lembaga budaya negara liberal? Oh, baiklah, ini semacam
romansa tak tentu arah yang sepertinya ada di kepala sang seniman. Romansa, ya
romansa. Di mana lagi harus menampilkan Che Guevara jika bukan di tengah
romansa. Di mana lagi mengingat gaya revolusi rakyat bersenjata jika bukan di
kilas masa lalu.
Dunia berubah. Revolusi
ala Che Guevara masih menjadi pujaan. Lebih jauh lagi, bahkan pengkultusan
sikap yang terlalu mendewa dan terbang di langit antah berantah. Melihat
pameran ini, saya seperti diingatkan sesaat pada sosok kepahlawanan sekaligus
kekirian Che Guevara. Setelah itu, harga BBM yang hendak melambung plus
berpikir keras menjalani hari-hari yang kian mahal terasa menari di kepala.
Langit masih mendung, di motor seorang teman yang menumpang berkisah tentang
segala keperluan dapur. Selamat tinggal, Che Guevara!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar