Seumur hidup saya,
hanya tiga kali saya sempat mendatangi keramaian pasar malam tradisional.
Pertama adalah ketika saya masih bau kencur. Masih lugu nan polos. Hanya
sekelebat dan samar-samar ingatan saya tentang kenangan itu. Di satu malam,
entah dalam rangka apa, kami sekeluarga mendatangi sebuah pasar malam. Rumah
hantu adalah wahana yang saya ingat jelas ketika itu. Seru, meski beberapa jam
kemudian mata saya urung terpejam dan kepala dipenuhi imajinasi-imajinasi
menyeramkan.
Pengalaman kedua lalu
terjadi secara tak disengaja. Di sebuah malam minggu paling durjana yang pernah
saya miliki ketika berstatus mahasiswa baru dan tentulah mahasiswa, dimanapun
ia berada, dilegalkan barkantung tipis serta tanpa sebiji pun kekasih. Raungan
motor pinjaman menjadi hal paling realistis untuk membunuh malam dan -seperti
yang telah saya bilang- tanpa sengaja saya menemukan pasar malam. Kali ini tak
hanya rumah hantu yang saya ingat. Tong setan, komidi putar, sampai roda gila
saya jelajahi dengan biasa-biasa saja. Maklum, ketika itu galau memang tengah
membumi di hati.
Dan, perjumpaan
terakhir saya dengan pasar malam terjadi beberapa minggu yang lalu. Sama-sama
tak disengaja, hanya saja kali ini saya tak sedang galau. Seusai mengunjungi seorang
kawan, sebuah pasar malam dengan semena-mena hadir begitu saja di tengah lapang
di daerah Geger kalong. Pun kini saya khatamkan dan resapi betul semua wahana
yang ada. Jadilah saya bergerilya kian kemari seolah melewati lorong waktu dan
menembus masa kanak-kanak.
Tentu semua sepemahaman
dengan saya. Pasar malam, apapun itu bentuknya, tak bisa sama sekali disamakan
dengan Dufan atau Trans Studio Bandung yang tarif masuknya super mahal itu. Namun,
inilah sesungguh-sungguhnya pesta rakyat. Pengunjung, sampai dengan penghibur,
semua menjadi bagian dalam pesta ini. Dalam imajinasi paling melankolis yang
saya miliki, pasar malam adalah penyelamat hiburan sebagian besar manusia yang
biasa-biasa saja, common people. Manusia-manusia
yang tak bisa seenaknya saja setiap hari mengunjungi mall yang kian hari kian
kapitalis itu. Ini adalah penyakit kota besar yang memang sulit dihindari.
Semakin besar ia, semakin besar pula pundi-pundi rupiah yang harus dimiliki,
apalagi jika ia berkaitan dengan hiburan. Ya, dalam kondisi sosial seperti itu,
masyarakat kerah biru pun semakin kesulitan untuk menemui sesuatu yang dapat dinikmati
untuk membunuh penat.
Jadi, di lapangan yang
tak terlalu luas ini, semua berpesta-pora. Bayang-bayang ketakutan setidaknya
sirna untuk beberapa saat, meski ia terkadang hinggap tak disengaja melalui
percakapan-percakapan yang hinggap sekelebat di telinga saya.
“ Isuk mah tiasa yeuh
urang dahar, teuing bulan hareup mah, da asa beuki sepi beuki kadieu mah. Bosen
meureun batur, leuwih resep ka BIP (Bandung Indah Plaza, salah satu Mall di
Bandung)".
(Besok sih masih bisa
minum, enggak tahu kalau bulan depan. Makin kesini makin sepi. Mungkin
orang-orang sudah bosan dan lebih senang mengunjungi BIP).
Sang pemain tong setan
itu berujar sambil menghisap dalam-dalam rokok kereteknya seolah-olah itu
adalah batang terakhir yang ia miliki di sisa hidupnya. Tak sampai 10 menit
kemudian lelaki muda itu menuju motor yang mungkin telah bertahun-tahun menjadi
sahabatnya. Matanya berubah. Menyala. Kobaran api itu lalu melesat di tengah
teriakan-teriakan bocah yang demikian kagum pada aksinya, meski mungkin hanya
sedikit yang mampu memahami bahwa aksi hidupnya lambat laun mulai meredup
tergilas modernitas kejam yang tak mengenal lelah mencari mangsa. Mengubah warna menjadi hitam putih. Abu-abu.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar