Sebuah berita cukup
hangat meskipun tak terlalu panas hadir dari tokoh yang kerap memakai blangkon
dan menggunakan kumis palsu nan baplang dalam setiap penampilannya. Ya, lelaki
tua bernama Suyadi atau yang lebih akrab disapa Pak Raden menuntut hak-haknya
terhadap 11 boneka Unyil yang sangat populer dalam sebuah serial boneka yang
dahulu saban minggu menyapa di TVRI.
Apa dan siapa Unyil
sebenarnya? Mengapa ia menjadi begitu maha penting untuk diperebutkan? Semua
bermula Semenjak 5 April 1981. Ketika itu, minggu pagi selalu dinanti oleh
ribuan anak Indonesia meski cerita drama boneka-boneka itu terkadang memiliki
alur cerita yang membosankan. Film produksi PPFN ini memang cukup fenomenal di
masanya, dengan teknologi yang dapat dikatakan sangat sederhana dan hanya
berupa boneka tangan, Unyil menelusupkan pesan-pesannya, baik pesan untuk
anak-anak maupun pesan yang dititipkan oleh pemerintah berkuasa di masa itu,
sesuatu yang tak bisa dimungkiri.
![]() |
| Foto diambil dari id.wikipedia.org |
Desa Sukamaju dengan
“isinya” yang begitu beragam, baik perbedaan ras maupun agama sampai perbedaan
sifat rajin dan pemalas seolah menjadi Indonesia mini, gambaran dari sebuah
negara yang kala itu memang membutuhkan tokoh panutan bagi para generasi
penerusnya. Satu gambaran ideal yang mungkin terlihat naïf namun justru
memiliki nilai jual tinggi di tengah krisis identitas yang selalu menyerang
semua lini kehidupan manusia-manusia yang tinggal di negara kepulauan ini. Melalui
Unyil, kesantunan, keramahan, gemah ripah loh jinawi seolah menjadi gambaran
nyata dari kondisi masyarakat Indonesia.
Jika beberapa waktu
lalu serangan Upin Ipin merajalela menelusup ke kampung-kampung dan pasar-pasar
becek, atau Doraemon tetap bertahan dengan baling-baling bambunya, Unyil justru
jauh lebih hebat dari itu semua. Jika dikaitkan dengan kultur, Unyil bukanlah
sekadar budaya pop semata. Ia mewakili kelompok masyarakat kecil sekaligus pula
menjadi perwakilan dari kelompok penguasa dalam melakukan doktrinasi mengenai
susunan ideal, tatanan kelas-kelas dari
struktur yang seharusnya ada di tengah masyarakat.
Tepikan sejenak
mengenai Unyil dan tangan-tangan otoritas kala itu. Lupakan pula ucapan Harmoko,
menteri paling nyentrik dengan kata-kata khas “atas petunjuk bapak presiden”, yang
mengaitkan kepopuleran si Unyil dengan adanya kenyataan bahwa perilaku
Unyil "sangat dekat dengan identitas dan martabat kebangsaan kita"
yang begitu bermakna ambigu sekaligus sangat tendensius tersebut. Unyil dengan
kesederhanaan yang dimilikinya adalah histeria paling hip yang mungkin hanya
kalah dari gelaran Piala Dunia atau piala Uber Thomas.
Lokalitas yang
diangkatnya begitu cult sekaligus
menjadi tren bahkan hingga bertahun-tahun setelah awal kemunculannya. Unyil
kemudian tak hanya menjadi sekadar drama boneka 30 menit semata. Ia dengan
gilang-gemilang menjelma menjadi sebentuk kultur yang secara sadar maupun tidak
sadar merasuk dan menghadirkan pandangan hidup dari masyarakat pada periode
tertentu, bahkan dalam sebuah periodisasi yang sangat panjang jauh dari
ekspektasi para penciptanya, tanpa peduli pada sisi mana ia berdiri.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar