Pagi masih menyisakan kesegarannya, beberapa pejalan kaki terlihat lalu-lalang berseliweran menikmati hari yang baru saja dimulai itu. Saya berjalan sendiri saja menikmati sejuknya kota Bandung. Melintas jalan Sunda untuk kemudian masuk ke jalan Bangka dan langkah saya tiba-tiba saja terhenti ketika memasuki jalan Belitung. Adalah sebuah taman nan asri yang terdapat di jalan itu yang membuat langkah mendadak terhenti.
“ Taman Lalu Lintas Ade Irma Suryani,“ dalam hati saya membaca papan nama besar yang terpampang di depannya.Untuk beberapa detik saya hanya termangu, Pikiran saya lalu tiba-tiba saja melayang pada masa-masa kecil. Menyambangi sang taman bersama bunda tercinta di sebuah hari libur yang indah, berlari ke sana kemari dalam perspektif bocah. Memang, rasa-rasanya hampir semua kanak-kanak yang melewatkan masa kecilnya di kota ini pastilah pernah mengunjungi Taman Lalu Lintas. Atas nama memoria itu pulalah saya kemudian seakan mendapat komando untuk kembali memasukinya. Seorang petugas yang ramah menyambut kedatangan saya. Transaksi kemudian berlangsung sesaat. Tak lama kemudian, tiket masuk seharga empat ribu rupiah itu berada dalam genggaman.
Jantung saya sedikit berdetak di atas normal ketika kaki menjejak masuk ke dalamnya. Mata saya lalu langsung disambut dengan rindangnya pepohonan. Puluhan rambu-rambu lalu lintas terpasang manis di beberapa sudutnya. Di depan sebuah rambu, seorang ibu tengah menerangkan arti dari rambu tersebut kepada sang anak. Di sisi taman yang lain, seorang anak begitu bergembira di atas pundak ayahnya. Mulutnya menyunggingkan senyum menikmati hari liburnya. Di belakang ayah dan anak tersebut, seorang bocah perempuan tak henti-hentinya mengoceh di atas sepeda yang sedang dikendarainya. Memang, taman yang satu ini sangat pantas menjadi satu alternatif tempat rekreasi murah meriah yang layak dikunjungi keluarga ketika berlibur. Beragam permainan anak plus suasana alami berupa pemandangan hutan kota bisa dinikmati di sini.
Usai melepas ketakjuban, saya lalu iseng menghampiri seorang lelaki yang tengah serius mengawasi wahana permainan berbentuk miniatur jalan-jalan perkotaan tersebut. Petugas itu lalu membalas sapa saya dengan ramah. Lelaki yang telah bekerja di Taman Lalu Lintas selama hampir lima tahun ini kemudian mengatakan bahwa Taman Lalu Lintas memang merupakan tempat yang sangat cocok untuk memberikan pendidikan keamanan dan ketertiban lalu lintas kepada anak-anak agar dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari demi keselamatan diri sendiri dan orang lain.
“ Taman ini juga memberikan pengetahuan dan pengertian mengenai Palang Merah Indonesia (PMI), perkeretaapian, pos dan giro, transportasi udara, musik, dan kemiliteran,” lanjut petugas bernama lengkap Muhammad Syamsu itu dengan panjang lebar.
Kaki saya kembali melangkah seusai percakapan dengan sang petugas. Sebuah kereta yang melintas di jalurnya kemudian seakan-akan meminta untuk dinaiki. Dan di sinilah saya sekarang. Di atas kereta mini yang dijubeli oleh anak-anak kecil. Tawa mereka begitu riang saling menimpal di sana-sini, ada pula yang berpegang dengan erat pada salah satu tiang kereta dengan wajah sedikit tegang. Ah, perjalanan ini begitu menyenangkan!
Taman Lalu Lintas. “ Tak menyangka, dulu ketika kecil saya seringkali diajak oleh orang tua ke tempat ini, dan sekarang, saya malah bekerja di sini. Memang, taman ini memberikan saya begitu banyak kesan,“ ucapan Kang Syamsu sang petugas tiba-tiba terngiang kembali di telinga mengiringi langkah saya seusai menaiki kereta mini. Gemerisik dedaunan, yang tenang dan bercampur sahut-menyahut suara anak kecil mewartakan kedamaian yang tak ada duanya. Saya tahu, kesan itu bukanlah milik Kang Syamsu semata. Kesan itu berarti pula dimiliki oleh setiap pengunjung yang memadatinya pada setiap hari libur.
Siang sudah merambat naik, saya pelan-pelan beranjak keluar. Untuk beberapa jeda saya melihat ke arah taman yang baru saya kunjungi itu. Ada masa lalu bercampur de javu ketika saya menatapnya. Dan saya tahu, akan ada hari dimana saya akan kembali mengunjunginya, pun demikian hal yang sama dapat saya lihat dari sorotan mata beberapa bocah yang juga tengah melangkah keluar.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar