Pernah mendengar sebuah penganan khas Bandung bernama Bandros? Semacam kue Pukis yang asin dengan adonan tepung beras dan parutan kelapa? Ada juga yang menyebutnya kue Pancong. Ini sebenarnya adalah salah satu penganan favorit saya ketika kecil. Dulu, hampir setiap pagi sambil menunggu mobil jemputan sekolah tiba, saya ditemani oleh kue yang satu ini. Rasanya yang gurih plus “kres-kres” khas dari parutan kelapanya, hmmm... membuat kue yang satu ini begitu sedap untuk disantap.
Sebagai seorang penggemar Bandros, tentu setiap sudut kota kerap saya jelajahi demi kue kecil ini. Pernah menyusuri Jalan Cisangkuy? Ternyata di jalan yang terkenal dengan Yoghurtnya ini ada jajanan tradisional khas masyarakat sunda. Dari kesemua hasil penelusuran Bandros, rasa-rasanya penjaja Bandros yang berada di Cisangkuy adalah yang paling top, baik dari segi rasa maupun dari segi inovasi. Mang Ade yang kerap disapa dengan panggilan Mang Ade Koboy, demikian nama sang penjaja Bandros yang terkenal dengan sebutan Bandros Cisangkuy ini.
Berbekal sebuah gerobak, Mang Ade dan Bandros Cisangkuy selalu ramai diserbu pengunjung setiap harinya. Meski masih menggunakan roda kecil, Bandros di Jalan Cisangkuy ini rutin berjualan di luar pagar Yoghurt Cisangkuy dari pukul sebelas siang sampai maghrib tiba.
Jika pada umumnya Bandros hanya berasa gurih-gurih asin, maka tidak halnya dengan Bandros Cisangkuy. Bandros Cisangkuy karya Mang Ade mencoba mengkolaborasikan Bandros buatannya dengan coklat, keju, susu, dan bahan-bahan lainnya. Hasilnya? Sebuah citarasa Bandros yang tiada tandingan!
Tengok saja pendapat Widya Puspasari, seorang pembeli yang sore itu menyengajakan diri untuk mampir ke Cisangkuy untuk membeli Bandros. Warga asli Bogor ini mengaku bahwa setiap ke Bandung, Bandros Cisangkuy adalah makanan yang tak pernah terlewat pada tiap wisata kulinernya. “Rasanya berbeda dengan Bandros-Bandros lainnya. Bandros Cisangkuy gurih dan pilihan rasanya tidak biasa. Pokoknya selalu bikin kangen!” ungkapnya dengan penuh semangat sambil menanti Bandros pesanannya jadi. Widya menambahkan pula, meski dijual ala kaki lima, Bandros Cisangkuy tak berkesan jorok alias cukup memerhatikan nilai higienitasnya. “Ya, lumayan. Sambil menyelam minum air, sambil menikmati Yoghurt sambil menyantap Bandros,” tambah dara berlesung pipit ini kemudian setengah berkelakar.
Lain Widya lain pula dengan Sapto Dianto. Lelaki asli Yogyakarta yang telah lima tahun tinggal di Bandung ini mengaku bahwa ia pada awalnya hanya sekadar coba-coba karena mendengar para koleganya di kantor kerap membicarakan mengenai Bandros Cisangkuy. Mulanya ia tak begitu percaya, namun, setelah mencoba, ia justru menjadi salah satu pelanggan tetap Bandros Cisangkuy. Kini, dalam sebulan ia bisa membeli Bandros Cisangkuy sampai tiga atau empat kali.
Mang Ade sendiri mengaku bahwa memang kebanyakan para pembeli menikmati Bandros sambil menyeruput Yoghurt. “Entah karena saya berjualan di dekat tempat Yoghurt atau memang Bandros cocok saja disantap bersama Yoghurt. Tapi yang pasti, banyak yang bilang Bandros saya memang beda dan enak,” kali ini Mang Ade angkat bicara mencoba memaparkan apa yang membuat Bandros buatannya begitu digemari.
Di sini, ada dua jenis Bandros yang dijual, yakni Bandros original yang memang aslinya berbahan baku tepung terigu dan kelapa serta bandros non original berbahan tepung terigu, telur dan mentega. Satu porsi bandros sisir original Rp 3500. Sedangkan jika ditambahkan keju dan susu harganya menjadi Rp 10 ribu. Bahkan, rasa-rasa tersebut, selain dijual terpisah, bisa pula dicampur sehingga memberikan rasa sensasi kuliner ala Bandros yang begitu menakjubkan.
Cisangkuy memang begitu memanjakan kita dengan berbagai penganan-penganan nan lezat. Tapi, jika berkunjung ke Cisangkuy, rasa-rasanya kurang lengkap jika belum mencicipi Bandros Cisangkuy yang super hangat nan gurih. Jadi, tak ada salahnya mencoba. Selamat mencicipi Mang Ade, eh Bandros Cisangkuy!
bandros...kangen makanan satu ini..kalo di malang namanya rangin cuma lebih kecil dan gak segurih bandros.
BalasHapusitu penjualnya kok kayak yang jual di depan SD saya dulu :)..soalnya khas banget , pake topi koboy
mungkin mereka sodaraan, hihihi
BalasHapusslurrrrp... ngiler liatnya...
BalasHapusbesok kesana aaaaaah... D
@ pagikota : he..he.. iya mungkin..:))
BalasHapusKalo di Jawa namanya "gandos"...
BalasHapusHmm... jadi pengin nyobain yg keju...
yah ampun, harus di coba nih!
BalasHapusooh iyaaa, di surabaya namanya RANGIN :D
BalasHapusjadi kepengen makan rangin uuu pake gula gitu.., tapi sudah jarang liat orang jualan.... mungkin di pasar ada...
-ndutyke
my stories : http://ndutyke.co.nr
my handmade accessories : http://ndutyke.tk