14.1.11

Erri dan Buku Eskperimentil, eh, al!

Erri bagi saya adalah seorang teman yang penuh kejutan. Dari awal perjumpaan kami bertahun yang lalu kejutan demi kejutan kerap membuat saya berpikir tentang kekuatannya untuk berkreatif ria. Hey, buat kamu yang berharap tulisan ini berbicara mengenai Erri sang ilustrator, bersiap-siaplah untuk kecewa. Adalah buku-buku fenomenal karyanyalah akhirnya percakapan ini tercipta. Buku bergambar bercerita? Buku cerita bergambar? Pictorial? Agak sulit memang mendefinisikan karya-karya Erri yang satu ini. Silakan direnungkan sendiri-sendiri saja! Direcoki dengan kedatangan Moel si Mogu dan beribet dengan pembuatan studio sablon, obrolan dengan pemilik studio Kontemplacity ini berlangsung hangat di sebuah ruangan kecil yang tak terlalu kondusif namun ekslusif, hehe…

Kamu selama ini dikenal sebagai seorang ilustrator. Apa yang membuat kamu membuat karya-karya yang diwujudkan dalam bentuk buku eksperimental?
Sebenarnya mah hanya dalam rangka mendokumentasikan ilustrasi-ilustrasi saya. Awalnya tidak intens untuk membuat buku, namun ketika saya membuat ilustrasi begitu banyak akhirnya saya berpikir untuk menggabungkannya ke dalam bentuk buku. Di samping itu, saya juga punya cita-cita untuk membuat film animasi. Jadi buku ini saya anggap saja kumpulan karakter dan juga storyboard dari animasi yang ingin saya buat.

Ide awalnya dari mana, tuh?
Jadi terinspirasi dari web book by its cover terus lihat foto-foto book fair di Amerika. Lalu saya lihat, di sana buku-bukunya ilustrasi saja tanpa teks. Wah, saya juga banyak kalau ilustrasi, kenapa enggak saya buat juga. Sebenarnya kalau buku itu, dulu saya memang punya keinginan membuat buku meski hanya satu atau bahkan tidak didistribusikan sama sekali. Nah, ketika membuat Tugas Akhir, saya membuat buku cerita bergambar. Tapi, Di TA saya sebagai ilustrator. Penulisnya temen saya, nyak maneh nu jadi penulis, pan, eta. Hahahaha. Setelah itu saya kepikiran untuk membuat buku (lagi). Tapi saya bingung karena membuat buku itu tim. Nah ketika sudah lulus kan saya harus mencari tim yang harus dibayar. Akhirnya saya bikin aja sendiri. Untuk teks, karena saya bukan ahlinya, akhirnya saya banyakin aja gambar-gambarnya.


Lalu buku-buku itu mau “diapain”  sama erri?
Ya, pengennya sih dijual. Tapi, kan, ini buku indie. Kurang bersahabatlah dengan dunia industry, apalagi di Indonesia. Saya pernah mencoba memasukkannya ke penerbit. Namun, ya… ditolak. Rata-rata alasannya sama. Bagus, sih, tapi bingung siapa kira-kira yang akan membeli, hehe.

  
Nah, kemudian kamu gimana “memasarkannya”?
Lewat blog. Saya tawarkan dengan system POD (Print On Demand), siapa yang mau dan memesan saya buatin. Ada juga yang saya buat tanpa dipesan terus saya titipin di Tobucil. Kalo dijual di event-event sih belum ya. Paling ada juga saya ikut di pameran, tapi ketika itu tidak dijual.


Ceritain, dong, tentang eksplorasi ide cerita dalam membuat buku-buku itu?
Jadi ada yang direncanakan ada juga yang enggak. Kadang disimpen dulu ketika baru membuat beberapa gambar. Tapi ada juga yang langsung, seperti ketika saya putus cinta maka saya dengan cepat menyelesaikan satu buku, hahahaha.

Gimana, sih, cara kamu menerjemahkan gambar-gambar kamu di dalam buku sehingga bisa dipahami?
Ya, saya buatnya frame demi frame seperti animasi. Jadi ceritanya mudah dipahami. Syukurlah, ternyata sampai detik ini siapapun yang melihat umumnya memahami apa yang saya buat. Ya, cerita-cerita pendek, sih. Simple aja. Misalnya ada orang kenalan, trus marahan, udah aja. Atau ada gambar yang memberi perintah “angkat tangan!”, lalu gambar yang dihadirkan ada orang angkat tangan, binatang angkat tangan. Ya, simpe-simple saja. Kalau untuk cerita panjang… saya belum kuat, belum kuat operasionalnya, hahahaha.


Apa yang bikin kamu bersemangat untuk terus membuat buku?
Nah, jadi inspirasinya ada di film 2012. Di sana kan tokohnya membaca buku sci-fi tentang gejala kiamat.  Buku yang tidak laku, tapi bagi si tokoh ini, buku ini inspiring. Intinya, saya melihat bahwa sebuah buku itu lahir pasti nantinya jadi artefak berharga.

Oh, ya. Gosip sekarang, Ri, tentang Kontemplacity kamu. Gimana, nih, setelah di 2010 banyak berkedok proyek “pertemanan” hahahaha.
Hahaha, ya itulah masalahnya indie. Jangan berharap dapat uang banyak dulu. Untuk 2011... saya pengennya tetep indie tapi dapet duit banyak, hehe. 

Oke, Ri. Demi melihat buku-buku kamu mari berhenti bercakap-cakap karena saya butuh bantuanmu membuat power point yang maknyus untuk persentasi mabohay di sidang UP TA saya, hahahaha!!! Nah, buat kawan-kawan, selamat menikmati. Kalau berminat? Mangga atuh pesen ke Erri. Ciao!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails