Es lilin mah didorong-dorong
dibantun mah dibantun ka Sukajadi
abdi isin ceuceu samar kaduga
sok sieun mah aduuh henteu ngajadi
dibantun mah dibantun ka Sukajadi
abdi isin ceuceu samar kaduga
sok sieun mah aduuh henteu ngajadi
Sepenggal bait di atas adalah potongan dari salah satu versi lagu tradisional Sunda bertajuk es lilin. Memang, pada masanya, es lilin adalah jajanan primadona yang selalu ditunggu kehadirannya di seluruh penjuru. Bunyi “klining-kliningnya” yang begitu khas seolah membius siapapun yang mendengarnya untuk segera mencari sumber suara tersebut dan menikmati sebatang es lilin. Lalu, pemandangan sore dengan jajaran manusia yang tengah begitu asyik menikmati es homemade ini akan menjadi pemandangan lumrah yang seolah menjadi pemanis sore tak terlupakan. Bagi beberapa orang, nostalgia dengan es lilin mungkin tak akan pernah terlupakan. Keceriaan yang menyelimuti pertemuannya dengan sang es sejuta kenikmatan tersebut. Bagi beberapa orang pula, pengalaman mengerubuti penjaja es lilin di kala waktu istirahat pada masa SD menjadi pengalaman menakjubkan yang mungkin sudah sulit ditemui untuk saat ini.
Ini tulisan sudah barang tentu bukan hendak bercerita masa lalu saya. Ini tulisan nongol begitu saja karena beberapa hari yang lalu, hanya dalam hitungan jam saya disodori tiga batang es lilin yang berbeda, rasa maupun kemasan. Meski tak mau bercerita, tapi tiga potong es lilin itu mengingatkan saya pada jaman dahulu ketika berpapasan dengan penjual es lilin yang selalu berkeliling dengan menggunakan roda dan didorong-dorong dari satu tempat ke tempat lain untuk menjumpai para pembelinya. Ia sendiri disebut es lilin karena bentuknya panjang menyerupai lilin, meski sebetulnya es ini berbentuk batangan. Dahulu, es unik ini sangatlah sederhana. Hanya campuran air, gula putih, dan gula merah yang dibekukan. Meski sangat sederhana, tapi jangan salah dengan popularitasnya. Bahkan, ia mampu bertahan di tengah gempuran penganan-penganan berbentuk es yang kini semakin banyak bertebaran di pasaran.
kini jaman sudah berganti, dahulu menjual es lilin dengan mendorong roda, kini es lilin dijual di sebuah toko bahkan sudah masuk ke supermarket besar. Adalah usaha dari para pecinta-pecintanya yang selalu ingin memertahankan ice cream khas Bandung ini. Berbagai terobosan-terobosan baru dilakukan. Hasilnya, kini es lilin modern dapat dengan mudah ditemukan di berbagai tempat dengan bermacam pilihan rasa. Siapa nyana, jika dulu ia hanyalah jajanan masyarakat pinggiran, kini kelasnya pun merangkak naik menjadi makanan klasik nan menyegarkan.
Berbicara tentang es lilin adalah berbicara tentang satu fenomena. Selama ini, banyak penganan tradisional yang sudah tergusur dan tak ketahuan rimbanya. Ketinggalan jaman, tak memenuhi standar kelayakan, atau semakin jarang ahli pembuatnya, adalah beberapa alasan yang kerap mengemuka ketika berbicara tentang hilangnya penganan-penganan tersebut. Padahal, sebenarnya, masalahnya justru terletak pada kemasan. Ya, bagaimana tidak, ketika kemasan yang merupakan pula bagian dari pencitraan suatu produk tak diperhatikan, tentu saja pamornya akan semakin menurun, kalah bersaing dengan produk-produk sejenis.
“Menyimak” es lilin dengan demikian menyimak pula nyaris keseluruhan dunia kuliner Sunda yang seringkali justru diingatkan oleh “pembeli” yang menggemarinya agar terus eksis dan tak tergusur. Pada akhirnya, ia hanya menunggu momen, tak mau bersusah payah menciptakan momen. Ketika ada yang mencari, ia baru menggeliat.
Es lilin adalah contoh bagaimana sebenarnya menciptakan momen adalah jalan terbaik untuk menyelamatkan khazanah kultur kuliner Sunda yang demikian kaya. Yuk, menikmati sejuknya es lilin agar ia terus bergerak dalam waktu yang terus melangkah maju.

kami memproduksi :
BalasHapusstik es krim , stik nugget , sumpit , kaki naga bambu
info detail : 083895841777
atau elang.manunggal@gmail.com for inquiry
website : www.elangmanunggal.com