3.12.10

Perkedel Unik Pojok Stasiun

Malam telah tiba, hawa sejuk yang mulai menusuk sekujur tubuh seolah memaksa untuk sekadar merapatkan kancing jaket. Daerah sekitar stasiun Bandung mulai terlihat sepi, sedikit menawarkan kerawanan. Namun, di salah satu pojokannya tampak terlihat keramaian. Meja-meja panjang tersusun, puluhan kepala terlihat tengah menikmati makanan di piringnya masing-masing. Pada sisi lain, terlihat antrian manusia dengan sabar memegang semacam nomor di tangannya. Sesekali terdengar suara lelaki menyebutkan angka, sang pemegang nomor sesuai dengan angka yang disebutkan kemudian bergegas menghampiri sumber suara. Bukan, peristiwa di atas tentu saja bukan acara pengundian hadiah atau semacamnya. Ternyata, para pengantri tersebut adalah pelanggan setia pedagang perkedel di jalan tersebut. Perkedel “Bondon”, demikian nama sang penganan yang sangat terkenal bahkan sampai keluar kota ini.


Bondon dalam bahasa Sunda berarti “wanita malam yang masih muda belia”. Makanan ini lalu disebut perkedel bondon karena primadona yang pulen ini baru bisa dijumpai menjelang tengah malam di sebuah warung di Jalan Kebonjati, masuk emplasemen stasiun lama Bandung. Ya, penamaannya yang unik ini memang dikarenakan ia memiliki jadwal operasional yang agak berbeda dibandingkan tempat-tempat lainnya. Jangan heran pula bila melihat beberapa abang becak ikut antri bersama-sama para penggemar sang perkedel ini. Mereka adalah joki yang memang disewa khusus oleh para pembeli yang tak mau berlelah-lelah berdiri mengantri.


Kalau kamu berkunjung menyempatkan diri untuk mampir ke tempat yang satu ini, jangan kaget melihat tempatnya yang sedikit semrawut dan ditata seadanya layaknya warung nasi yang umum tersebar di pinggir-pinggir jalan. Namun, seolah memiliki daya tarik tersendiri, para penggemar Perkedel Bondon memang berdatangan dari seluruh pelosok bahkan dari luar kota. Penikmatnya pun berasal dari berbagai kalangan, mulai pelajar, pegawai kantoran, sampai kaum eksekutif. Rina Astuti adalah salah satunya. Perempuan yang berasal dari Yogyakarta ini mengaku mau bersusah-susah datang mencicipi Perkedel Bondon karena rasa penasarannya setelah melihat sang perkedel diliput dalam sebuah cara kuliner yang diputar pada salah satu stasiun televisi swasta nasional. “ Ya, entah kenapa saya tergelitik untuk mencicipinya, unik saja, tengah malam menyantap perkedel. Mungkin hal seperti ini hanya ada di Bandung,” urainya tersenyum simpul sambil meniup-niup perkedel panas di tangannya.


Lalu apa yang membuat Perkedel Bondon menjadi istimewa? Pertanyaan ini cukup sulit dijawab. Sebenarnya, penganan yang satu ini sama-sama saja dengan rasa perkedel yang sering kita cicipi dalam keseharian. Mungkin tingkat kerenyahannya yang membuat perkedel bondon memiliki kelebihan dibandingkan perkedel biasa. Hmmm… saya yang menyengajakan diri untuk mencicipi penganan yang satu ini pun merasa bahwa kegurihan rasa kentang di dalamnya pun sebenarnya biasa saja, entah apa yang membuatnya menjadi demikian digemari, namun diduga, penamaan dan waktu penjualannya yang memang dapat dikatakan sedikit “nyeleneh” membuat popularitasnya kian menanjak di kalangan pecinta kuliner dari waktu ke waktu. Bisa jadi pula, mungkin saus cocolannya yang menggunakan sambal terasi  membuat rasa penganan yang satu ini menjadi cukup unik. 


Satu hal yang pasti, bagi para penyuka makan di tengah malam, Perkedel Bondon menjadi salah satu alternatif pilihan dengan menu favorit perkedel yang dimasak menggunakan peralatan tradisional. Ya, memang tak bisa dipungkiri, para penikmatnya mengaku bahwa cara memasaknya yang menggunakan tungku api tradisional dengan menggunakan kayu bakar membuat rasa Perkedel Bondon menjadi lezat dan khas. Penasaran? Mungkin Anda memang harus mengunjunginya. Tapi jangan lupa, kenakan rapat-rapat sang jaket, karena udara dingin begitu menggoda di kala tengah asyik mengantri Perkedel Bondon!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails