26.11.10

Agus Bebeng, Fotografi Itu Tugas Kenabian!

Ini mungkin adalah hasil wawancara Tobucilhandmade yang paling berdarah-darah. Penuh perjuangan, heroik, plus melankolis! Menemui lelaki bernama Agus Bebeng bisa jadi satu perkara paling mudah sekaligus paling sulit dalam hidup. Oke, akan saya ceritakan sedikit kronologis pertemuan kami. Purnawarwan dan Braga adalah sesuatu yang tidak berjarak. Sialnya, perjalanan hari itu harus saya tempuh ketika sedang tidak membawa alat transportasi! Uah, bulatkan tekad satukan niat, bak petualang ala Indiana Jones selusuran jalan ditapaki. Awalnya menyenangkan, setidaknya untuk sepuluh detik sampai kemudian hujan mengguyur dengan sukacita! Hey, tapi saya sedang menjelma menjadi Indiana Jones! Tak ada kata mundur, maju terus meski harus dicintai hujan-hujan. Wastu Kencana terlewati, sedikit lagi Braga! Ah, mendadak ayunan kaki nan sexy terhenti! Shit! Buku bawaan saya tertinggal di Purnawarman! Hell yeah! Saya Indiana Jones! 

Bebeng dalam gaya maksimal
Sudah. Hentikan cerita Indiana Jones sampai di sini. Di salah satu ruangan Jalu Braga akhirnya saya berhasil menemui sang wartawan foto tersebut. Segelas kopi dan bergaris asap rokok memendar, melarut dalam percakapan kami.

Fotografi itu apa, sih?
Fotografi bagi saya adalah ideologi. Ini ngomongin fotografi jurnalistik, ya. Sederhananya, ketika sedang melakukan tugas jurnalistik adalah melakukan tugas peliputan yang terkait dengan realitas sosial. Lalu kenapa jadi ngomongin ideologi? Karena itu terkait dengan personal saya.

Ciecie… cuih! Sok idealis, Hahaha
Eh… ieu ideologis, hahaha.

Hahaha. Yak, lanjuttttt…
Ya, karena bagi saya ketika menjalani proses jurnalistik, siapapun fotografernya, ia sedang menjalani proses kenabian. Seorang nabi tugasnya adalah menyampaikan pesan. Seorang nabi adalah pewarta. Jadi, ketika kita memanipulasi pesan dalam foto, maka kita sudah menghadirkan ayat-ayat palsu.


Ini nabi pake dibawa-bawa. Hahaha. Nah, klo bahasa sederhananya?
Jadi gimana caranya menyampaikan pesan kepada masyarakat dengan cara yang sederhana. Itulah fungsinya foto jurnalistik.

Gimana, sih, menghasilkan frame yang “enak” dalam menyampaikan peristiwa?
Ya, bergantung dari sudut pandangnya dulu. Ketika kita hendak mengeksekusi realitas, sudut pandang apa yang sebenarnya ingin diambil. Misalnya, ketika saya ingin mengambil foto Pasar Ciroyom, saya tidak menggunakan flash, karena jika memotret suasana pasar subuh dengan flash, suasananya akan menjadi rata. Tidak ada garis-garis imajiner yang hadir dalam kilatan-kilatan jalanan dan sebagainya. Nah, sudut pandang itu dan teknik pengambilan, kan, menentukan. Pada akhirnya, “si frame” ini punya makna filosofis  atau tidak? Kan itu masalahnya.


Menurut Bebeng, masuknya foto ke dalam ranah karya itu foto yang seperti apa?
Orientasi. Jika saya memotret orientasinya untuk mendapat uang, pasti secara sensorik akan terganggu. Foto kemudian hadir hanya untuk kepentingan sesaat, yang penting jadi dan tidak masuk dalam wilayah kekaryaan. Contohnya misalnya ketika memfoto bencana. Kita harusnya berpikir bahwa korban ini harus ditolong, bukan semata-mata ingin mengeksploitasi bencana. Dengan foto kita menyampaikan pesan bahwa ada pesan humanitas yang harus dibangun. Okelah jika ingin komersil, tapi jangan sampai memotret itu karena tren.


Fotografer di Bandung saat ini dalam kacamata kamu?
Mengerikan, euy. Karena pada akhirnya banyak fotografer yang ada tidak memahami konsepsi fotografi. Jika saya lihat hasilnya, saya bertanya, ini kemampuan memotret atau kemampuan olah digital? Apakah dia seorang fotografer atau “photoshoper”? Era digital ini memang menciptakan beribu fotografer dadakan. Mereka tidak pernah mengalami dan belajar fase analog atau manual. Padahal, dengan memelajari analog, kita belajar bagaimana ekonomisasi gambar dibangun dengan 36 frame.

   
Nah, kalau pengajaran fotografi di kalangan akademis, di kampus-kampus saat ini gimana?
Ngaco. Kebanyakan hanya teorisasi. Prakteknya banyak anak muda yang stres karena tidak memahami kondisi di lapangan. Dosen-dosennya pun kebanyakan hanya dosen teori yang tidak pernah berada di lapangan. Mereka hanya diajari pemahaman apa itu fotografi. Pada akhirnya, ketika di lapangan, mereka kebingungan. Di suruh memfoto pertandingan sepakbola, misalnya. Semua pada bingung bagaimana cara mengambil gambar sedemikian banyak orang dan semuanya berlari. Kan, lucu jadinya.


Jadi pengajaran fotografi harusnya seperti apa?
Kalau saya memberikan workshop, biasanya yang pertama saya lakukan adalah membuat mereka tertarik pada fotografi karena proses ketertarikan itu bisa menggiring orang yang pada awalnya tidak berpikir. Artinya, bukan berarti kita harus kembali ke era analog di jaman serba digital ini. Tapi, bagaimana proses analog itu dihadirkan ke kamera digital. menggunakan tombol-tombol manual.


Harapan kamu di masa nanti?
Ya, kliselah. Semoga banyak lahir fotografer handal. Jaman selalu menciptakan nabinya sendiri, hahahaha.


Ups, jangan tertawa terlalu lama… Malam sudah menjelang. Bebeng pun mulai mengelinjang. Bersiap-siap untuk menemui peristiwa keseharian lainnya. Yap, saatnya berpisah! Seorang Bebeng harus menemui realitas, saya mau menemui imajinasi! Rental PS, saya datang!!!! Buat kawan-kawan? selamat menikmati foto-foto bebeng dan menyelami makna fotografi...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails