24.12.10

Mantra Penggambar Bala dalam Profanity Prayer

Yihaaa… Tobucilhandmade edisi kali ini adalah edisi jalan-jalan. Yap, setelah main-main ke pameran Play Dead 2, sehari sesudahnya udara dingin Bandung Udara saya cumbui. Adalah pameran “Profanity Prayer” yang dengan asoy geboy mengetengahkan karya Banung Grahita di Selasar Sunaryo yang saya jumpai. 


Pada pameran tunggal pertamanya ini, Banung menyuguhkan karya-karya video animasinya sebagai medium untuk bercerita. Dingin dengan udara yang dibelenggu beku dan ditambah memaknai judul pameran Banung mengingatkan saya akan sebuah lagu Beck yang berjudul sama namun dengan tambahan “s” di belakangnya. Ow Yeah, saya terlalu gatal durjana untuk mengutip sedikit lirik lagu tersebut. Ah, segaris lirik ini memang sudah sepatutnya hadir kawan-kawan!

And you wait at the light
And watch for a sign that you're breathing
'Cause you can't choose to live on air and  float to the ceiling
(Beck-Profanity Prayers)


Banung dan Beck bisa jadi tak saling mengenal dan tidak pernah saling bercakap-cakap, tapi, mendengar Beck dan melihat karya video Banung memiliki kesamaan yang cukup konseptual. You can’t choose ratap Beck dalam lagunya, Banung menghadirkan gambaran ironi dalam kehidupan kontemporer. Watch for a sign derap Beck kian mengguntur, Banung menjelmakan gejala dalam tanda. And wait at the light, Banung bergumam mencari cahaya! Tak percaya? Tengok saya karya animasinya yang berjudul Cycle, misalnya. Dengan tersirat menggambarkan perjalanan hidup seseorang, terjatuh atau justru terbang dalam keberhasilan semu yang menjerumuskan dirinya dalam keseragaman melangkah. Sarkasme, nakal, black comedy. Setidaknya itu yang berhasil saya baca.


Menilik Banung,  saya merasa karya-karya yang ditampilkan dalam “Profanity Prayer” adalah cerita dalam nuansa ketenangan yang sedemikian kejam mengusik mimpi-mimpi indah manusia. Melawan awang-awang dengan menampilkan dunia antah berantah yang hanya ada di awang-awang adalah teguran paling sinis sekaligus cantik dari “Profanity Prayer”. Kehidupan bukanlah titian mengejar sesuatu, akan tetapi, kehidupan adalah jejaring yang kadung menjerat individu yang hadir di dalamnya. Menurut saya, Banung dengan cukup ciamik berhasil menampilkan sesuatu yang selama ini sudah dianggap menjadi kewajaran di tengah masyarakat dalam wajah yang sebenar-benarnya.


Melihat karya-karya Banung, pada akhirnya ada ketergugahan untuk melawan di satu sisi, sedang di sisi lain ketergugahan untuk tetap bertahan pada jalur-jalur mainstream yang telah ditetapkan oleh gelaran sosial kultural di tengah masyarakat. Hendak memilih yang mana? Bisa jadi itu adalah pertanyaan paling besar dari karya animasi Banung. Hidup adalah permasalahan keseragaman yang seolah beragam, dan “Profanity Prayer” adalah mantra paling agung sekaligus paling rasional dalam menggambarkan “bala” seragam dalam ragam pada kehidupan masa kini. Tampilan kejenuhan tingkat tinggi dalam gerakan sosial yang tumbuh di masyarakat. Huahhh…. Ouch, sudah hentikan. Lama-lama saya bisa terlalu berlagak bak seorang kurator. Cukup sampai di sini. Kini kegatalan saya merambah terlalu jauh. Membuat animasi sepertinya cukup menggairahkan. Ada yang mau mengajari saya, anyone?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails