24.12.10

Nyantai-nyantai Bareng Play Dead 2 “Leisure all Mine”

Jujur saja, jumat 17 Desember 2010 lalu sebuah perjalanan maha membingungkan saya tempuh hanya demi memuaskan rasa keingintahuan pada apa yang disebut dengan seni serat. Yes, Tuan dan Puan, Galeri Padi dan pameran seni serat Play Dead 2 “Leisure all Mine” adalah semacam candu asmara yang menjerat saya malam itu. 14 seniman dengan karya seni seratnya siap tayang merasuk memabukkan menggelitik mata.


Selama ini, wilayah serat sebagai seni memang belum sehip-hip hura seni-seni lainnya. Walhasil, seni serat kerap hanya menjadi tamu-tamu kecil pada beragam pameran dan masih dianggap sebatas gaya kontemporer dari seni kriya. Tapi malam itu, Galeri Padi seakan memberikan ruang-ruang agar seni serat memiliki rumahnya sendiri.



Karya-karya yang hadir menjadi semacam pertunjukan campur sari dengan tujuan yang sama, bermain-main dengan apa yang disebut seni serat. Ada karya Chandra berjudul “Benang Merah” yang mengetengahkan gambar dalam kanvas yang ditautkan dengan benang sutra berwarna merah, Moel menghadirkan susunan bola-bola rajut yang diberi judul “Eat, Play, Love”, Erika Ernawan yang menghadirkan karya print nan menyilaukan, sampai Nuri Fatima dan “cap ou pas cap!” yang menyuguhkan karya-karya seratnya dalam bentuk kanvas-kanvas mini. Tentu, itu hanya sebagian dari karya-karya serat yang dipamerkan, sedikit visual mengenai percampuran sari yang dimilikinya.



Bagi saya, sesuai dengan judulnya, Play Dead 2 adalah bermain-main dengan maut. Maut yang membius para kreatornya sehingga menjelmakan dirinya - I -  di dalam karyanya.  Jika dalam kurasinya disebut bahwa Play Dead 2 adalah “kontemplasi di waktu senggang”, saya haruslah bersepakat dengan itu. Seniman bukanlah pekerja seni yang berburu ide mengejar garap demi bayang-bayang waktu dan kolektor. Seni, dalam hal ini apa yang diwakili oleh Play Dead 2, berarti pula sebagai usaha melebur menjadi kesatuan bersama karya dengan sudut pandang yang cukup berbeda dengan karya-karya seni lainnya. Dalam kesenggangan yang santai, karya-karya hadir dengan pemaknaan yang sederhana, tidak terlalu jauh melanglang buana dalam larutan imajinasi seniman yang kerap terjebak dalam keliaran terlalu beraturan. Jika harus diibaratkan dalam bentuk kalimat sapaan, Play Dead 2 seolah menghadirkan negasi yang berujar “hey kawan, kalem saja, jangan serius-serius amat. Tapi kami serius, loh”.



Aih, buat yang baca tulisan ini, janganlah terlalu serius membaca. Saya pun membuat tulisan ini di saat senggang mendera dan tugas akhir yang menagih-nagih untuk diselesaikan. Hey, tapi tugas akhir saya berada dalam jalur yang mencerahkan, semoga. Seperti karya-karya seni serat Play Dead 2 yang sudah sedikit memberi pencerahan bagi saya plus bagi semua pelihat seni yang sekadar mampir dan membuat catatan-catatan di kepalanya di Galeri Padi hari itu. Sekali lagi, semoga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails