Punk. Apa yang terlintas di benak ketika mendengar kata itu? Gerombolan perusuh dengan rambut bergaya Mohawk dan sering membuat onar serta mulut berbau alkohol mungkin adalah jawaban yang kemudian terdengar. Namun cap yang melekat pada dunia punk itu segera runtuh ketika menyambangi sekumpulan punkers yang berada nun jauh di Cicalengka, Kabupaten Bandung.
Medio 1997. Segerombolan pemuda bergaya punk itu tiba-tiba ditawari untuk memainkan calung. Memang, Cicalengka sedari dulu terkenal dengan kesenian benjang, penca, dan calung. Gelak tawa seketika membahana ketika ide itu dilontarkan. “Wah, masa anak punk main calung?” ujar sekumpulan muda-mudi tersebut kala itu. Namun, pernyataan dan kenyataan adakalanya memang berbanding terbalik. Dekade 2000-an adalah proses terjadinya titik balik itu. Setelah melalui pergulatan batin yang cukup panjang, mereka pun sepakat untuk terjun ke dunia percalungan. Punklung kemudian menjadi nama yang diusungnya. Genit namun lugas, menggambarkan perpaduan yang tegas antara punk dan calung. Sempat minder pada penampilan pertamanya, respon positif dari para apresiator justru semakin memantapkan langkah Punklung.
“ Dulunya kami anak punk di jalan yang buta wilayah kesenian lokal tapi ada dorongan untuk membuka kembali kesenian lokal. Tumbuh moralitas. Banyak kontroversi yg bikin pergelutan mental dan batin ketika kami hendak berjibaku di ranah lokalitas. Kenapa calung? Bukan reog, misalnya, yang lebih sangar. Ya sebenernya ada kesamaan antara calung dan punk. Keduanya budaya grassroot. Sama seperti calung, punk juga budaya yg termarjinalkan. Isi pertunjukan calung pun mirip dengan apa yang disuarakan oleh Punklung. Sindiran untuk ketimpangan sosial,” tutur Adi sang pemain goong Punklung.
Mungkin Punklung adalah kelompok calung yang paling total dalam menjalankan roda komunitasnya. Keterbatasan modal tak menyurutkan niat. Berbekal tekad, alat-alat musik yang mereka miliki adalah hasil buatan sendiri alias tidak membeli. Nyaris 10 tahun usianya, namun berbekal semangat itu pula Punklung kemudian tetap dapat hidup meski tanpa embel-embel komersial dalam perjalanannya.
“Punklung enggak muluk-muluk. Ketika ada orang datang dan ingin berlatih sudah cukup bagi kami. Kami tidak berpikir Punklung menjadi komoditi. Ini hanya langkah utk melestarikan. Ini adalah tanggung jawab moral ketika kami sudah memiliki ilmu dan lalu mengaplikasikannya. Memertahankan konsep budaya, Kami melakukan revolusi budaya. Intinya, Punklung melakukan perlawanan budaya. Gimana Punklung menjadi saringan terhadap masuknya budaya luar. Kalau tidak ada benteng itu, hendak dikemanakan generasi kita?” Kali ini Abah, personel Punklung lainnya yang bertanggung jawab di wilayah Panerus membeberkan keinginan terbesar Punklung.
Punklung sendiri terus berusaha untuk mempertahankan keaslian dari tradisi. Hingga kini mereka tetap memilih untuk tidak menggunakan alat musik modern dalam tiap pertunjukannya. Bermodalkan calung pinjaman dan kreativitas sendiri serta pemberian dari beberapa pihak yang setuju dengan bentuk perjuangannya, Punklung terus melangkah. Pada akhirnya memanglah benar adanya yang dikatakan oleh para personel Punklung ditengah obrolan kami sore itu, Punklung tidak hanya berbicara mengenai musik semata, tapi ia berbicara sesuatu yang lebih luas. Ia berteriak tentang sesuatu yang harus dilakukan untuk sebuah perubahan. Perubahan dalam menyikapi budaya lokal yang kian tergerus.




Apa kabarnya yah komunitas ini sekarang? :)
BalasHapusmasih ada dan eksis kok..
BalasHapus