5.11.10

Desainer Berdarah Ilustrator Bernadi Komikus

Terus terang, saya agak bingung dengan label yang pas untuk manusia yang satu ini. Jika ada istilah “seniman pelacur”, sudah barang tentu saya sematkan gelar tersebut melalui upacara kebesaran bak pengangkatan Kapolri. Jikalau perlu, Istana Negara pun hendak rasanya saya booking untuk menggelar perhelatan tersebut. Sungguh, saya tidak mengada-ada apalagi bercanda! Peranakan Jawa Betawi yang fasih berbahasa Sunda dan mengaku memiliki garis keturunan Joko Tingkir ini memiliki nama yang teramat sederhana: Trihasdianto. Panggilannya? Ini pun serumit keahliannya. Saya memanggilnya Anto. Beberapa kawan lainnya ada yang memberi panggilan lebih mesra, Tri. Ups, tapi nama populernya di kancah berkreativitas adalah Atep. Mau menyapa dengan julukan yang mana? Bebas pilih! 

Bergaya dengan kamera laptop beresolusi pas-pasan
Profesinya pun serumit nama-nama panggilannya. Sesuai kebutuhan, ia menyebut dirinya sebagai komikus, ilustrator, dan desainer. Berbagai pameran seperti “Graphixibition (karya grafis)” di CCF Bandung dan “A Maze (karya kolase)” di Pasific Place Jakarta pernah diikutinya. Pun beragam karyanya telah lahir. Terakhir, ia menjadi tim komikus untuk komik Tanah Air Beta, sebuah komik edukatif yang diangkat dari film berjudul sama karya Ari Sihasale. Meski demikian, lelaki yang karyanya pernah masuk 101 cover terbaik pada ajang “1001 Cover Concept” ini mengaku lebih nyaman dengan julukan ilustrator. Percakapan tengil di antara kami pun lalu terjadi di sela-sela kesibukannya menggarap corat-coret berbau-bau fulus. 

1001 Cover Concept
Kok profesi lo banyak amat, To?
Ya… kalo untuk ilustrasi sih sebenernya karena gue suka dan butuh duit. Kenapa gue nyamber yang lain-lain karena gue realistis aja. Enggak ngebatesin diri ke ilustrasi doang. Proyek-proyek di luar ilustrasi seperti desain mural sampai elemen estetis (dekorasi) pun gue siap sedia. Pokona mah hajar we lah kabeh (pokoknya, semuanya saya kerjakan-red).

Karya mural tuk Borromeus
Ketika lo berkarya, apa sih yg lo bayangin?
Gue ngebayangin bikin apa, pengen menggoreskan apa di selembar kertas kosong. Corat-coret, buat sketsa, ngelamun, buat sketsa lagi, sampai nemuin visual yang cocok. Tapi kadang kalau waktunya lagi mentok, trus deadlinenya udah ababil kurang ajar mah sekali jebret juga beres (dalam waktu sebentar diselesaikan-red).

AIDS poster tuk Komisi Penanggulangan Aids (KPA) dan Forum Diskusi Wartawan Bandung (FDWB)
Konsep independensi kadang membatasi para seniman dan ilustrator. Apakah lo membatasi diri dalam berkarya?
Enggak, sih. Gue enggak membatasi diri pada gaya tertentu. Apalagi kadang harus mengikuti kemauan klien. Ide yang paling penting. Intinya, sih, nikmati aja. Karena banyak, loh, para desainer dan ilustrator yang gagap berkarya dengan berlindung di balik kata independensi, padahal bagi saya (tumben make kata “saya”? Hehe) justru desainer dan illustrator harus menguasai banyak gaya dengan tidak lupa tetap memertahankan ciri utama yang dimilikinya.

Booth Design
Monumen BPPPK Lembang
Punya idola?
Punya. Kalau untuk desainer gue suka Stefan Sagmeister  dan  Karim Rashid. Alasannya karena mereka punya style yang mendunia. Kalau untuk ilustrator gue suka ilustrasi Peter Saville dan Stanley Lau. Nah, yang lokal gue suka karya-karya Danang Tragiklabs karena karya-karyanya punya kekuatan teknis. Untuk komikus gue suka gaya Ashley Wood dan Skottie Young. Mereka memiliki ciri khas yang orisinil.

Menurut lo posisi ilustrator di Indonesia gmn?
Kalau di Indonesia sih kebanyakan masih “lacur”, termasuk gue. Soalnya kalau di Indonesia profesi tersebut kurang dihargai apalagi ketika mereka masuk dalam sebuah industri. Jadi bukan sebagai profesi yang benar-benar profesional karena jobdesc-nya bisa merangkap dengan pekerjaan sebagai desainer juga. Berbeda dengan di luar, di mana profesi ilustrator benar-benar sebagai profesi yang bisa menjanjikan.  

ROBOTA Illustration Project
Pernah punya kisah tragis?
Mmm…..apa yah? (mikirnya lama amat!)  an**r… Iya, pernah. Waktu itu gue pernah nge-handle project cover buku untuk sebuah penerbit di bandung. Kebayang, dong, udah banyak request eh….gue cuma dibayar 50 ribu perak. Padahal lumayan tuh mikirnya rada serius berharap proyeknya manjang. Gak tahunya.. wokwow…

Pertanyaan terakhir, To. Selain sebagai illustrator lo pengen jd apa, sih?
Pengennya sih jadi pegawai Telkom atau Pertamina hehe… tapi apa daya, tuh kantor gak pernah buka lowongan untuk desainer atau illustrator, bahkan gak pernah ngebuka lowongan buat anak-anak jurusan seni rupa, hahaha. Padahal  gue pernah denger gaji apalagi bonusnya bisa sampe 24 kali gaji setiap tahun wuidiiih… Plus lumayan labelnya tuh dua BUMN bisa buat pelet halal ke calon mertua. Yah, ketahuan deh gue jomblonya, hehehe… Tapi, yang pasti gue bersyukur karena gue masih bisa mengandalkan hidup dari desain dan ilustrasi, lagian banyak juga desainer atau ilustrator muda Indonesia yang berhasil di kancah dunia internasional. Ah, udah sih nanya mulu lo Nuw. Ini sesi foto-fotonya kapan?? Gue kan mau di fotoooooo!!!

Beberapa karya lainnya dari Anto alias Atep
 -Dan sesi wawancara pun kemudian beralih menjadi sesi kekesalan karena kamera sempat kehabisan batere, hihihi …. Sudah, ah. Cukup sampai di sini dulu. Narasumber rada-rada centil kemudian dengan sukarela menata mukanya yang ala kadar untuk dipajang di blog ini! Check it out!-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails