Matahari
adalah salah satu anugerah terbesar yang diberikan oleh Sang Penguasa Alam
kepada umatnya. Tak heran jika ia, sang penerang bumi itu, acap disebut sebagai
pusat dari tata surya. Di samping menjadi penerang jagad, matahari ternyata
sangat diperlukan pula oleh manusia dalam koridor kesehatan. Benar, sinar
matahari ternyata tidak cuma bermanfaat sebagai sumber energi dan membantu
proses pembentukan vitamin D bagi tubuh. Dalam takaran sedang, paparan sinar
matahari penting untuk kesehatan fisik dan psikologi. Saking pentingnya peranan
yang dimilikinya, semenjak jaman Yunani pun telah dikenal sebuah terapi yang
menggunakan sinar matahari sebagai mediumnya dan disebut dengan “helioterapi”.
Adalah Niels Finsen yang sukses menangani
TBC kulit dengan radiasi sinar ultra violet (UV). Temuan itu membuat Finsen
memperoleh hadiah Nobel tahun 1903. Tahun 1920-an, terapi matahari makin
dikenal secara luas. Selama Perang Dunia I, dokter bedah militer Jerman
menggunakan sinar matahari untuk melakukan disinfeksi dan penyembuhan luka para
tentara di klinik terapi sinar matahari. Dalam dekade yang sama, Coco Chanel, perancang mode terkenal
asal Perancis, membuat helioterapi menjadi semacam gaya hidup. Ia menggelapkan
warna kulitnya setelah berpesiar di atas Kapal
Duke of Westminster. Aksinya ini ternyata memberi pengaruh besar pada
masyarakat di zamannya. Saat itu, penyakit TBC dan kekurangan vitamin D umum
terjadi di kota-kota industri di Eropa dan Amerika Utara. Sinar matahari
menjadi salah satu terapi untuk mencegah dan menyembuhkan kedua penyakit
tersebut.
Dalam
New England Medical Journal
disebutkan, paparan sinar matahari menambah kemampuan tubuh untuk
memetabolisasi kolesterol dan mengurangi kadar kolesterol darah hingga mencapai
13%. Paparan terhadap sinar UV dari matahari juga memiliki efek sama dengan
olahraga, seperti menurunkan tekanan darah, serta menambah volume darah yang
dipompa jantung sekitar 39%. Selain itu, terapi ini dapat meningkatkan hormon
seks, kekuatan otot, ketahanan terhadap infeksi, jumlah oksigen dalam
darah, memperbaiki toleransi terhadap stres, memperbanyak adrenalin di dalam
jaringan, serta menambah energi dan ketahanan. Bahkan, helioterapi sangat
efektif untuk menyembuhkan stroke dan stres.
Harus
diakui, sebenarnya, helioterapi menjadi begitu popular karena praktiknya yang
begitu sederhana dan mudah. Cukup mencari ruang terbuka di mana sinar matahari
tidak terhalangi, dan gunakan baju yang tidak terlalu tebal atau tipis. Agar
lebih maksimal hasilnya, helioterapi sebaiknya dilakukan dengan sistematis,
sesuaikan dengan kebutuhan. Helioterapi yang dilakukan di wajah, Bila disertai
pijatan, ini bisa membuat kulit wajah, terutama di sekitar mata dan pipi, tetap
kencang. Juga membuat pandangan mata menjadi lebih menarik. Sebaiknya lakukan
dalam keadaan mata terpejam. Kalaupun ingin membuka mata, lakukan sebentar
saja, sekadar untuk merangsang indera penglihatan.
Adapun
penderita gangguan paru-paru macam asma, bronkitis, alergi pagi atau dingin,
dan alergi debu dapat melakukan penyinaran pada bagian leher dan dada dengan
waktu yang lebih lama. Bagi yang sering menderita masuk angin dan susah buang
air besar, cobalah untuk menyinari bagian perut. Lain halnya dengan yang sering
pusing, pusing separuh, atau pusing berpindah-pindah. Penderita bagian ini
sebaiknya memaparkan tengkuknya di sinar matahari. Penderita rematik dapat
menjemur bagian punggungnya, dan terakhir, jemurlah kaki bagian depan apabila
ada gangguan pada lutut.
Proses
penjemuran yang telah diterangkan di atas adalah langkah dasar dari
helioterapi. ada tingkatan lebih lanjut, yakni selain memanfaatkan sinar
matahari juga memanfaatkan warna aura, dari putih sampai violet. Tingkatan
tertinggi adalah memanfaatkan warna emas dan unsur listriknya. Untuk bagian
lebih lanjut ini, ada baiknya untuk menanyai langsung kepada ahli agar tak
terjadi hal-hal yang justru dapat merugikan kesehatan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar