Hiruk-pikuk kepadatan
wilayah Cicadas, Bandung menjadi salah satu keseharian yang dilakoni oleh Dwaya
Manikam. Yup, melalui program pemberdayaan untuk meningkatkan kreativitas di
tengah masyarakat, crafter yang satu ini mengembangkan pola pelatihan bagi kaum
ibu sebagai bentuk kesadaran meningkatkan perekonomian masyarakat dan juga
menyebarkan virus handmade.
Dari
namanya etnik banget, nih, hehe… Apa aja gerangan karya yang dibuat oleh Dwaya
Manikam sebenarnya?
Iya, kita diambil dari bahasa sangsekerta.
Nama manikam sendiri berarti perhiasan. Kalau kita terjemahkan lagi apa
itu perhiasan, berarti sesuatu yang bisa menambah cantik dan menarik si
pemakainya. Harapannya produk kita bisa membuat penapilan siapa saja yang
memakainnya semakin baik dan keliatan lebih menarik. Kalau Dwaya sendiri
berarti tempat ke dua. Ini karena Dwaya
Manikam merupakan second line dari label yang kita buat sebelumnya, yaitu
Manikam Indonesia. Untuk produknya sendiri Dwaya Manikam lebih berkonsentrasi terhadap
penggunaan material kain batik menjadi berbagai produk aksesoris, seperti
gelang, kalung, bros, tas-tas kecil, sampai gantungan kunci. Produk yang kita
buat sepenuhnya dikerjakan secara handmade.
Walaupun menggunakan batik, tapi produk yang dihasilkan lebih bergaya populer karena
disesuaikan dengan segmentasi customer kita yaitu para teenegers.
Apa,
sih, ciri utama yang ada pada setiap karya Dwaya Manikam?
Produk Dwaya Manikam akan selalu hadir dengan berbagai desain baru di
setiap bulannya sehingga kita berusaha untuk tidak mengeluarkan produk yang sama dari waktu
ke waktu. Teknik yang kami gunakan juga
tidak hanya jahit dan payet, tetapi mulai merambah pada teknik rajut, makrame,
dan knot juga untuk membuat aksesoris. Selain dikerjakan secara handmade, Dwaya
Manikam ini merupakan produk yang dibuat sebagai hasil dari pengembangan kreativitas potensi masyarakat khususnya ibu-ibu di kawasan
Cicadas, Bandung.
Gimana,
nih, ide awal dirimu dahulu sampai kemudian terpikir untuk membuat Dwaya
Manikam?
Awalnya adalah karena latar belakang pendidikan saya yaitu jurusan Kriya
Tekstil sehingga punya ketertarikan tinggi buat ngolah material tekstil. Ditambah lagi karena kesukaan terhadap
berbagai jenis kain tradisional seperti batik. Selain itu, bermula dari manfaatin kain-kain sisa produksi dress dan
kemeja, yang rasanya sayang kalau cuman dibuang, akhirnya jadilah produk-produk
aksesoris yang awalnya didominasi sama kalung-kalung. Melihat respon pasar yang
ternyata sangat baik akhirnya saya coba untuk terus mengembangkannya dengan
membuat desain-desain baru beserta varian lainnya.
Oh,
ya. Aku baca di blognya ada tentang “Dwaya Manikam Start Empathy Program”.
Program seperti apa, sih, ini? Apa target dan tujuannya?
Dwaya Manikam saat ini lagi konsentrasi buat membesarkan dan mempromosikan
program yang satu ini. Program ini
sebetulnya meniru konsep CSR sebuah perusahaan di mana kami berusaha memberikan dampak kemanfaatan bagi
seluas-luasnya masyarakat melalui pembekalan
keterampilan supaya mereka bisa mengolah material tekstil
hingga menjadi produk bernilai jual. Harapannya dengan begitu mereka bisa
tumbuh menjadi kelompok masyarakat yang kreatif, mandiri, dan sekaligus mendapatkan peningkatan ekonomi berupa
penghasilan tambahan.
Apa
hasil yang sudah didapat saat ini oleh
Dwaya Manikam saat ini dengan adanya program itu?
Sebetulnya kita enggak dapat sesuatu yang lebih besar dari perasaan senang,
bahagia dan bangga karena apa yang kita lakukan manfaatnya sudah benar-benar
bisa dirasakan oleh kelompok masyarakat tersebut. Mereka akhirnya sudah bisa
membuat koperasinya sendiri, memiliki keterampilan yang dapat mereka manfaatkan
untuk pengembangan diri, serta peningkatan produktifitas hidup dibandingkan
sebelumnya. Buat Dwaya Manikam, sih, selain hal tadi kami juga akhirnya mendapat kepercayaan
untuk menerima pesanan aksesoris dari beberapa label produk dan juga perusahaan
baju muslim. Ini dikarenakan hasil pembekalan yang kita ajarkan kepada
masyarakat tersebut terlihat pada hasil akhir produknya yang berkualitas.
Balik
lagi ke karya Dwaya Manikam. Inovasi seperti apa yang akan dikembangkan oleh Dwaya
Manikam di masa depan?
Seperti yang sudah disampaikan sedikit di awal, kita akan terus melakukan
inovasi desain dengan menggabungkan berbagai teknik seperti makrame, sulam,
knoting, dan lain sebagainya dengan mengkombinasikan berbagai material untuk menciptakan
sesuatu yang baru mengikuti trend yang sedang berkembang. Tidak hanya itu, kami
akan terus memperkenalkan program Dwaya Manikam “Start Empathy” sebagai bagian
yang tak terpisahkan dari kami, melalui jejaring komunitas dan menciptakan
produk paket donasi sebagai ajakan berkontribusi kepada siapapun untuk turut
mengembangkan program ini.
Pesan
paling penting dari Dwaya Manikam untuk kawan-kawan crafter?
Terus lakukan apa yang menjadi hobi dan kesukaan kita sebagai salah satu cara untuk
mengekspresikan diri, dan biarkan orang mengapresiasinya sebagai bentuk
penghargaan mereka atas apa yang telah kita kerjakan dengan tulus tersebut.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar