Pengalaman buruk itu masih
membayang di benak Stevie. Petualangannya menjumpai belahan dunia lain tak
seindah yang ia bayangkan. Padahal, menjadi backpacker, istilah keren untuk
para pelancong yang melanglangbuana bak seorang pengembara, adalah cita-cita
yang telah lama ia idamkan. Oleh karenanya, beberapa tahun lalu, berbekal tekad
dan sedikit nekad, ia pun menyusun rencana untuk menjelajah. Daratan Eropa adalah pilihan
Stevie. Italia lalu menjadi negara tujuan pertamanya. Kesalahan terbesar Stevie
sebenarnya satu. Dalam bayangannya, backpacker adalah seorang petualang yang
berjalan dengan kondisi apa adanya. Ia pun tak begitu memedulikan beragam
informasi tentang daerah-daerah yang dikunjunginya. Sesampai di Italia, Stevie
tak mengira bahwa saat itu sedang musim panas dengan suhu nyaris 40oC!
Dua baju hangat dan satu mantel yang dibawanya pun menjadi bencana yang
menyiksa punggung selama perjalanan. Belum lagi ia tak hapal tempat-tempat
makan serta penginapan murah yang ada pada setiap persinggahannya. Hasilnya?
Dapat ditebak. Liburan Stevie berubah menjadi neraka dunia yang tak pernah ia
bayangkan sebelumnya.
Sebenarnya, Stevie tak akan
sesial itu jika ia merencanakan semuanya dengan tepat. Lalu, sebenarnya apa,
sih, yang harus dipersiapkan ketika hasrat ber-backpacking ria menggebu dan apa
sebenarnya pengertian dari backpacker itu sendiri? Backpacking telah lama
diidentikkan dengan sebutan wisatawan kere. Hal ini harus diakui karena konsep
awal backpacking memang dirancang demikian. Akan tetapi, pemahaman itu kini sudah
mulai bergeser. Backpacking telah menjadi gaya hidup. Peminatnya sekarang tidak
hanya orang yang berkantong tipis, tetapi juga orang-orang kaya yang tidak
pernah memikirkan persoalan biaya dalam melakukan perjalanan wisata. Seorang
backpacker umumnya memiliki mobilitas yang tinggi, yaitu sering berpindah dari
suatu tempat ke tempat yang lain dan dari suatu daerah ke daerah lain. Karena
kebiasaan berpindah-pindah itulah maka ransel dipilih sebagai teman perjalanan
yang sangat praktis. Selain itu, backpacker juga sering menggunakan hotel atau
penginapan yang sederhana. Mereka jarang sekali menggunakan jasa agen
perjalanan wisata. Hal tersebut sangat kontras perbedaannya dengan wisatawan
lain yang terbiasa menginap di hotel berkelas dan menghabiskan waktu di sana
tanpa berpindah hotel.
Mengenai persiapannya, saat backpacking, bawa barang yang
benar-benar diperlukan. Buatlah daftar barang apa yang perlu dibawa. Pikirkan
bagaimana supaya bisa seefisien mungkin. Jangan memindahkan isi rumah ke dalam
ransel. Tentukan pual opsi tujuan secara mendetail. Lakukan penggalian data
tentang tempat-tempat itu, baik lewat buku, internet, ataupun print magazine.
Jangan terlalu percaya dengan perjalanan orang lain, karena travelling adalah
bersifat personal. Sesuatu yang sesuai dengan kepribadian kita.
Lantas, aktivitas apa yang hendak
kita lakukan setelah sampai di tempat tujuan? Mau shopping atau tracking? mau chill
out atau suffering? Kadang kita tergoda untuk melakukan banyak aktivitas
disana. Bisa jadi tubuh malah kolaps karena kehabisan tenaga. Pertimbangkan
faktor cuaca, kondisi tubuh dan waktu yang tersedia. Transportasi juga menjadi
bagian penting yang harus dipikirkan. Ini agaknya yang penting bagi independen
traveller karena jelas harus mengatur perpindahan dari lokasi satu ke lainnya.
Jangan ragu memakai publik transportasi seperti bis atau perahu. Temukan
keasyikan berjejalan didalam bis atau menikmati pemandangan sepanjang sungai.
Satu hal yang harus
diingat, bahaya selalu mengintai setiap manusia. Bahaya seperti virus dan
teroris merupakan ancaman terkini bagi traveller. Kalau kamu tipe “die hard
traveller” pastikan untuk mengetahui musuh sebelum menghadapinya. Selain itu,
travel dokumen pun harus sangat mendapat perhatian. Para backpackers dan
setelannya yg lusuh umumnya agak dicurigai oleh aparat-aparat keimigrasian
suatu negara. Oleh karenanya, cermatilah, apakah kamu membutuhkan paspor baru
atau memerlukan visa. Negara Asean seperti Laos dan Kamboja tetap meminta visa
bagi orang Indonesia. Visa bisa diperoleh on arrival (biasa di bandara/pintu
masuk utama) atau di kedutaan negara yang bersangkutan. Beberapa negara Asia
mensyaratkan paspor minimal berumur tiga bulan, sedang negara-negara Amerika
dan Eropa mensyaratkan enam bulan. Jangan lupa membawa paspor lama, bila perlu
jadikan satu dengan yang baru. Last but not the least, jangan berharap mendapat
kenyamanan yang besar dalam perjalanan ini. Nikmati apa adanya. Pelajari
kehidupan lokal dan temukan sensasi ala backpackers. Have a nice trip!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar