Raski, 41, tengah asyik mencangkung di atas delmannya.
Sebatang rokok kretek terjepit rapat pada sela-sela jarinya yang legam. Hari
itu, seperti hari-hari weekend
lainnya, ia seperti biasa setia menunggu calon pelancong yang sudi menaiki
delmannya. Memulai rutinitasnya sejak pukul 8 pagi sampai dengan sore
menjelang, lelaki paruh baya ini mengaku bisa mengumpulkan uang sampai Rp.
50.000. “Tapi, kalau hari biasa sih, paling juga cuma Rp.20.000,” tambahnya
cepat. Agar asap dapur terus mengepul, jika penumpang sedang sepi, Raski
acapkali juga bekerja serabutan menjadi
tukang bangunan.
Minggu cerah di seputaran jalan Ganesha, Bandung memang selalu memberikan warnanya
sendiri. Wisata kuda murah meriah adalah salah satu daya tarik jalanan ini pada
setiap weekend. Tak terkecuali pula cerita-cerita unik dari para
pengais rezeki seperti Raski. Jika penarik delman itu hampir setiap hari berada
di sekitaran Ganesha, tidak demikian halnya dengan Atang Rukmaya. Lelaki yang
sudah 15 tahun menyewakan kudanya untuk para
pelancong ini hanya “berdinas” pada hari sabtu dan minggu. Pada hari-hari
biasa, Atang banting setir mengurus sapi peras di Lembang.
“Ah, yang senang
naik kuda juga anak-anak kecil, anak SD. Kalau hari biasa, mereka sekolah, nah,
kalo mereka sekolah siapa yang mau naik kuda saya? Lagian saya sudah tua,
kayaknya kalau setiap hari harus lari mengikuti kuda yang sedang disewa saya
nggak akan kuat, ” ujar Atang menjabarkan lebih rinci.
Pun demikian
halnya dengan Syaip. Pemuda ini juga mengaku kalau pada hari-hari biasa usaha
menyewakan kuda memang sepi penumpang. Oleh karenanya, setiap senin sampai
jumat, Syaip lebih senang mengais rezeki dengan menjadi tukang parkir di daerah
Gelap Nyawang, Bandung.
Ketika ditanya perihal
kuda yang mereka gunakan, Atang dan Syaip dengan kompak mengatakan bahwa
kuda-kuda itu adalah milik sendiri. ”Para penyewa kuda di sini umumnya berasal dari Lembang (Kab. Bandung),”
jelas keduanya, ”jadi memang semenjak dahulu kami sudah terbiasa memiliki dan
memelihara kuda.”
Siang semakin
menyengat, dengan sopan Atang dan Syaip meminta permisi kepada. ”Sudah siang,
kami mau ke depan Kebun Binatang, siapa tahu rezeki lancar di sana,” Atang berujar.
Atang, Syaip, dan
beberapa penarik kuda lainnya lalu melangkah pelan menuju Kebun Binatang
Bandung yang terletak tak jauh dari tempat mereka tadi mangkal. Matahari
semakin tinggi, bayang-bayang mereka semakin pekat terlihat di aspal, dan hidup
mereka akan selalu terus berlari.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar