Sebuah pertanyaan sepele itu mampir begitu saja di kepala
saya pada satu sore yang cukup cerah. Ketika tengah asyik melepas kepenatan di
sebuah bangku taman, seekor kupu-kupu tiba-tiba tanpa permisi hinggap tepat di
hadapan. Paduan warna merah jingga bercampur hitam pada sayapnya membuat saya
terpesona beberapa saat sebelum akhirnya ia kembali melanjutkan perjalanan.
Kedatangannya yang hanya sekejap itulah yang melahirkan pertanyaan : Kapankah
saya terakhir menjumpai kupu-kupu sebelum hari ini? Entahlah, ternyata sudah
lama sekali!
Apa sebenarnya yang membuat si cantik mungil ini pergi?
kawasan-kawasan hijau yang berganti menjadi berbagai infrastruktur kota serta
perumahan adalah penyebab kepergian kupu-kupu. Walaupun kemudian manusia
menanam berbagai jenis tetumbuhan baru, ternyata membutuhkan waktu yang lama
agar kupu-kupu mau kembali. Umumnya, kompleks pertokoan, perkantoran, maupun
perumahan hanya menanam rumput dan tanaman hias rendah. Tumbuhan semacam ini
ternyata tidak memberikan kesempatan sama sekali kepada kupu-kupu untuk
menempelkan telur dan menetaskannya menjadi ulat sembari melakukan penyerbukan
pada tanaman yang digunakan untuk proses penetasan tersebut. Mengapa demikian?
Selesai menyerbuki bunga, kupu-kupu biasanya kawin dan bertelur pada daun
tanaman yang diserbukinya, namun ia tentu saja memilih daun yang dapat
dijadikan oleh makanan bagi sang jabang bayinya kelak. Kebanyakan daun perdu,
pohon, dan semak berbunga yang dimiliki oleh tumbuhan seperti lantana, soka,
kembang kuning, bungur, dan pohon hias lainnya yang akan diserbuki serta
dijadikan tempat menetaskan si jabang bayi kupu-kupu kelak.
Idealnya, tetumbuhan jenis ini memang ditanam di taman
kota. Namun vegetasi taman-taman kota kini cenderung menyedihkan karena
kurangnya perawatan baik dari dinas pertamanan maupun masyarakat yang tinggal
di wilayah sekitarnya. Namun, sebenarnya perdu, semak, dan pohon hias tersebut
sebenarnya tak hanya harus mengandalkan taman kota. Tumbuhan ini dapat ditanam
di halaman rumah untuk mempercantik pekarangan. Gerak gerilya tiap individu inilah
yang sebenarnya akan sangat berguna jika ingin melihat kembali indahnya kepak
kupu-kupu. Selain di halaman rumah sendiri, kitapun dapat pula bekerja sama
dengan para warga lainnya untuk menanam di sekitar kompleks tempat tinggal.
Ibarat kata pepatah, sambil menyelam minum air: memiliki lingkungan yang asri
sekaligus melihat kecantikan kupu-kupu!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar