Merajut kini telah
menjadi salah satu aktivitas handmade yang sangat umum ditemui. Popularitas
merajut memang semakin meroket semenjak banyak dari kaum muda perkotaan yang
mulai tertarik dengan teknik dan cara merajut. Para knitter bermunculan, bahkan
tak hanya kaum hawa, kaum adam tak mau ketinggalan. Lahirnya kelompok The Man Who Knit (meski kini sepertinya
kelompok yang satu ini tengah vakum) merupakan salah satu representasi dari
mulai menyebarnya kegiatan rajut merajut ke berbagai gender dan kalangan.
Meski sudah berumur
sangat panjang dan sangat populer, ternyata masa lalu dari dunia merajut
sendiri masih simpang siur. Tak ada yang mengetahui persis darimana teknik dan
budaya merajut sebenarnya berasal. Adapun rajutan paling tua yang pernah
ditemui adalah sebuah rajutan kaus kaki dari mesir pada tahun 1000 Masehi.
Ditengarai, teknik yang digunakan pada rajutan tersebut berasal dari wilayah
Arab. Teknik inilah kemudian yang menyebar di Spanyol dan dalam waktu yang
tidak terlalu lama mulai menjadi trend di Eropa.
Pada masanya, kegiatan
merajut merupakan kegiatan mewah yang dilakukan oleh kaum bangsawan. Awalnya,
teknik merajut permadani yang dimiliki oleh bangsa-bangsa di Timur Tengahlah
yang membuat para penduduk Eropa terpesona dengan rajutan. Perihal asal-usul
rajutan yang kemungkinan berasal dari Timur Tengah ini dapat dipahami jika
menilik alasan yang dikemukakan oleh Julie Theaker (penulis buku tentang
sejarah rajutan). Dalam bukunya ia menyebutkan, setidaknya ada dua alasan yang
membuat rajutan berasal dari Arab. Pertama adalah bahan yang digunakan.
Penggunaan katun atau kain sutra alih-alih kain wol membuktikan bahwa rajut
memang berasal dari Arab. Kedua, pola rajutan masa itu yang alurnya mengalir
dari kanan ke kiri sesuai dengan kultur menulis masyarakat Arab yang penulisan
bahasanya dari kanan ke kiri.
Satu hal yang sangat
mengejutkan, pada masa perkembangannya di Eropa, ternyata perajut sebagian
besar berjenis kelamin laki-laki. Para perajut pemula umumnya berguru pada
seorang perajut terkenal. Dalam prosesnya, mereka kemudian harus pula mengikuti
semacam ujian kelulusan agar bisa dianggap sebagai ahli rajut. Segala jenis
rajutan pada masa itu memiliki standar tinggi. Lebih ekstrem lagi, seorang
perajut yang membuat rajutan dengan mutu rendah akan dicabut gelar keahlian
merajutnya.
Perubahan besar terjadi
ketika revolusi industri hadir. Para perajut handmade mulai tersisihkan.
Kualitas rajutan yang dihasilkan oleh mesin-mesin pun, meski tidak buruk,
tetapi mengenyampingkan standar kualitas yang telah ditetapkan oleh para ahli
rajut. Jaman lalu berubah. Satu demi satu, banyak pecinta rajut yang
mengembalikan fitrah rajutan seperti dahulu. Membuatnya secara handmade dan
memperhatikan detail-detail yang membuat keekslusifan rajutan tetap terjaga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar