Beberapa penari
berlenggak-lenggok berjalan mengitar, satu-persatu, penonton tanpa mengenal
usia turun ke gelanggang. Turut larut dalam aroma bernuansa sedikit mistis nan
khidmat. Semakin lama, kitaran itu semakin ramai. Semakin besar membentuk
lingkaran Semua larut dalam alunan suara penyanyi yang tak putus bersuara.
Malam kian larut, segala semarak tak menampakkan tanda-tanda akan berhenti.
Inilah sebuah seni tari
yang kerap disandingkan dengan “maut”. Ya, ronggeng gunung konon lahir dan
bermula dari sebuah peristiwa berdarah. Terdapat beberapa versi tentang kisah
kelahirannya. Namun, Kisah Dewi Samboja, puteri ke-38 dari Prabu Siliwangi yang
bersuamikan Angkalarang, adalah versi yang paling populer. Dikisahkan suami Dewi Samboja mati terbunuh
oleh seorang pemimpin bajak laut bernama Kalasamudra. Demi membalaskan dendam,
Dewi Samboja lalu dengan tekun berlatih tari ronggeng. Pucuk dicinta ulam tiba,
sebuah pagelaran tari digelar oleh Kalasamudra. Dewi Samboja pun menyusup
menjadi salah satu penari. Kala pertunjukan tengah berlangsung, dibunuhlah
Kalasamudra untuk menuntaskan dendam. Tari yang digunakan oleh sang Dewi untuk
mengelabui Kalasamudra inilah yang kemudian berkembang menjadi kesenian
ronggeng gunung.
Ronggeng gunung sendiri
berkembang di wilayah pesisir Pangandaran, tepatnya di Ciamis Selatan. Tahun
1970-1980an adalah masa keemasan tari ini. Lalu, sama seperti halnya kebanyakan
seni tradisional, grup tari ronggeng gunung yang dahulu cukup mudah ditemukan,
satu persatu mulai menghilang tak lagi mendapat panggilan mentas. Meski
demikian, di tempat asalnya, ronggeng gunung masih cukup populer dan kerap
digelar baik dalam keperluan adat maupun keperluan hiburan. Untuk keperluan
adat, biasanya ronggeng gunung dibawakan dengan pakem tertentu, utamanya
berkaitan dengan tata urutan lagu. Adapun untuk keperluan hiburan, ronggeng
gunung jauh lebih fleksibel karena tidak adanya pakem-pakem urutan lagu dalam
tampilannya.
Memang, jika mendengar
kata ronggeng, kerap konotasi negatif datang menghampiri. Pun demikian halnya
dengan ronggeng gunung. Dahulu, ia sempat pula mengalami pergeseran nilai dan
digunakan sebagai ajang bagi para penari untuk menggoda kaum Adam, bahkan untuk
merajut cinta kilat. Demi menghilangkan citra negatif tersebut, saat ini
terdapat banyak peraturan yang dimiliki oleh kesenian ronggeng gunung. Beberapa
adegan yang dapat menjurus kepada perbuatan negatif seperti mencium atau
memegang penari, dilarang sama sekali. Peraturan ini merupakan suatu cara untuk
menghilangkan pandangan dan anggapan masyarakat bahwa ronggeng identik dengan
perempuan yang senang menggoda laki-laki.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar