Jika melintas jalan
Asia Afrika, mungkin yang terlintas di kepala adalah sebuah museum ternama yang
dahulu pernah menjadi tempat berlangsungnya konferensi Asia Afrika (KAA). Ya,
bangunan yang kini dikenal dengan nama Gedung Merdeka ini memang memiliki nilai
sejarah yang panjang, bahkan jauh sebelum ia dikenal sebagai tempat
terselenggaranya KAA. Gedung Merdeka sendiri merupakan bangunan gedung besar
pertama yang dibangun di Kota Bandung. Gedung yang berdiri sejak tahun 1895 ini
pada awalnya difungsikan sebagai tempat berkumpulnya para bangsawan Eropa.
Gedung Socitet Concordia, demikian ia dahulu dinamai. Biasanya, pada malam
hari, gedung ini ramai dikunjungi. Aktivitas-aktivitas “menak” seperti pesta
dansa,pertunjukan kesenian, atau jamuan makan malam menjadi peristiwa rutin
yang ada di tempat ini.
Perjalanan Gedung
Socitet Concordia lalu berlanjut pada tahun 1926. Pada tahun ini, gedung
tersebut direnovasi oleh arsitek kenamaan Belanda Van Galen Last dan C.P Wolff
Schoemaker. Berdiri di atas lahan seluas 7200 m persegi, hasil renovasi ini
menonjolkan corak art deco yang sangat kental. Kemegahan lalu menjadi bagian
yang tidak terpisahkan dari Socitet Concordia. Lantainya beralaskan marmer
Italia, ruangan tempat bersantai terbuat dari kayu cikenhout, dan lampu-lampu
hias nan gemerlap menghiasi tiap langit-langitnya.
Meletusnya perang dunia
ke-2 menyebabkan terjadinya peralihan kekuasaan di Indonesia. Jepang yang
tengah melebarkan sayapnya ke seluruh penjuru Asia menggantikan Belanda sebagai
penjajah. Pada masa ini, gedung bersejarah tersebut beralih fungsi menjadi
pusat kebudayaan. Memang, salah satu cara yang dilakukan oleh Jepang untuk
menarik simpati kaum pribumi di kala itu adalah melalui kebudayaan dan kesenian.
Kekuasaan Jepang tak
berlangsung lama di Indonesia. Kemerdekaan Indonesia melahirkan perang
revolusi. Untuk kesekian kalinya, sang gedung beralih fungsi. Kali ini, ia
menjadi markas tentara Indonesia dalam menghadapi pasukan sekutu yang hendak
mencengkramkan kembali cakarnya di bumi Indonesia.
Akhirnya, pada tahun
1954, melalui keputusan pemerintah yang menetapkan bahwa Bandung menjadi tuan
rumah Konferensi Asia Afrika, gedung yang telah berubah nama menjadi Gedung
Merdeka ini mengalami pemugaran besar-besaran dengan fasilitas yang sangat
lengkap di masanya. Usai penyelenggaraan Konferensi Asia Afrika, Gedung Merdeka
berganti-ganti fungsi. Mulai dari gedung konstituante, gedung MPRS, sampai
Konferensi Islam Asia Afrika di tahun 1965. Pada akhirnya, di tahun 1980,
dilaksanakan peringatan 25 tahun Konferensi Asia Afrika. Bersamaan dengan
peringatan tersebut, Gedung Merdeka diresmikan sebagai Museum Konferensi Asia
Afrika, museum yang hingga hari ini masih berdiri kokoh dan menjadi salah satu
landmark bersejarah di Kota Bandung.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar