Rusuh. Inilah yang
tengah melanda hari saya. Setelah sesiangan berkejaran dengan mendung demi
berfoto-foto asoy dengan Arum sang fotografer hebring, tujuan berikutnya adalah
mengunjungi penutupan Pameran Sekonyong
Kolase B//A yang telah seminggu
terakhir memajang karya-karya memabukkan dari Billy Anjing. Ah, ya. Maafkan
saya yang tidak sempat menemui pembukaan pameran. Namun, tentu saja di
penutupan ini saya harus datang. Harus, karena konon, penutupan ini kali
menyampaikan ajakan untuk berkolase bersama.
Pukul tiga sore.
Setelah sempat sedikit ngebut di jalanan, sampailah saya di ruangan berdinding
kayu yang telah dipenuhi dengan kolase. Bahan-bahan untuk
berkolase bersama terlambat datang, beberapa kepala menunggu pasrah. Saya masih
bersemangat. Maklum, seumur hidup belum pernah sekalipun berkreasi dengan
potongan-potongan gambar maupun tulisan. Dalam penantian, saya amat-amati
sedikit cermat pajangan karya itu satu persatu.
Lupakan masalah
komposisi maupun teknik, toh saya memang tidak ahli di bidang itu. Akan tetapi,
mengamati karya-karya Billy adalah pula mengamati mata seorang manusia yang tengah
bercumbu dengan ketidakpastian kondisi. Sentilan-sentilan khas pemberontak muda
yang gamang dalam kehidupannya jelas terbaca pada karya-karya tersebut. Tengok
saja karya berjudul Buang Gitar Kalian yang
mengungkit tentang buruknya industri hiburan yang telah terlalu mengkomersilkan
segala sesuatunya atau karya berjudul Jangan
Pakai Esia yang berupaya mengkritisi para korporat dan bersolidaritas
bersama para korban.
Apa yang disampaikan
oleh Sekonyong Kolase A//B bukanlah
hal-hal baru. Lebih jauh lagi, ini adalah hal umum yang telah menjadi rahasia
publik. Namun, di sini justru terletak kekuatan karya-karya Billy.
Pendokumentasiannya terhadap peristiwa-peristiwa sosial tidak hanya sekadar
menjadi obat lupa. Dalam karya-karyanya, yang dalam pameran ini merupakan
kumpulan karya semenjak tahun 2005, ia berusaha menjadi pemicu (kembali) untuk
bersikap terhadap beragam carut-marut kondisi sosial budaya yang seolah tak pernah
bisa berhenti berduka cita. Dalam kemampatan yang terjadi, Billy pada akhirnya sekonyong
berteriak dalam ketidaksekonyong-konyongan.
Ah, sudah terlalu
panjang saya sekonyong bicara. Pembawa bahan-bahan berkolase sudah tiba. Muncul
tergopoh-gopoh di tengah guyur hujan. Ini sudah waktunya saya dan kawan-kawan
lainnya berkolase. Sekonyong ikut-ikutan berbicara melalui cabik dan potong
kertas. “Memotret” sesuatu yang mungkin akan pula membuat kamu bersikap!


Tidak ada komentar:
Posting Komentar