Garut telah beberapa
minggu terakhir ini menjadi sorotan masyarakat luar bahkan sampai ke luar
negeri berkat “prestasi” sang Bupati yang fenomenal sekaligus memalukan perihal
keahliannya berkecimpung dalam dunia pernikahan. Tentu, Tobucihandmade tak mau ketinggalan “menggarutkan” diri. Tenang
saudara-saudara, kami belum hendak menjadi blog infotainment, Garut yang satu
ini jauh lebih menarik tinimbang Aceng Fikri. Dodolkah? Ah, tebakan kalian
lagi-lagi salah. Adalah Sukaregang yang menjadi tujuan. Daerah yang berada di
pusat Kota Garut ini merupakan sentra jaket kulit yang telah sangat dikenal
bahkan sampai ke mancanegara.
Garut dan kerajinan
kulit memang tak bisa dipisahkan dengan bertebarannya peternakan domba di
kabupaten tersebut. Kulit domba yang melimpah kemudian menjadi kreasi-kreasi
nan indah di tangan para pengrajin. Selain itu, kulit-kulit tersebut ada pula
yang diperoleh dari Sumatera, Sulawesi, Jawa Timur, bahkan sampai Malaysia.
Tentu saja, jaket kulit made in Garut
memiliki sejarah yang panjang di masa lalu. Ia pertama kali dikembangkan pada
masa penjajahan Jepang oleh para pengrajin kulit di daerah Jatayu Bandung yang
berkampung halaman di Garut.
Harga yang bersaing dan
juga desain yang tidak monoton pada perkembangannya menjadikan kerajinan kulit
ini mulai mendapat kepopuleran. Jaket, sandal, sampai dompet, adalah beberapa
dari sekian banyak kerajinan kulit yang dihasilkan. Namun demikian, awal tahun
2009, krisis ekonomi menerpa para pengrajin. Harga produksi melonjak disebabkan
naiknya harga kulit dan bahan-bahan lainnya yang digunakan untuk berproduksi.
Modal dan pemasukan kemudian menjadi tak berimbang sehingga menyebabkan banyak
pengrajin yang kolaps dan terpaksa
gulung tikar. Saat ini, tercatat hanya tersisa sekitar 300 pengrajin saja yang
masih bisa bertahan di tengah segala krisis yang menerpa.
Akses dan fasilitas
adalah permasalahan lainnya yang dimiliki oleh para pengrajin. Ya, akses jalan
yang sempit, membuat daerah Sukaregang sebagai sentra kerajinan kulit Garut
terlihat sumpek dan kumuh. Kita tentu tak perlu berandai-andai membayangkan
sang pemangku kebijakan yang lebih senang mengisi pundi-pundi uang dan istri
dibandingkan mengurusi sebuah sentra kerajinan kemudian menggerakkan nurani dan
kekuasaannya untuk memperbaiki segala keterbatasan yang dimiliki oleh tempat
penuh kreativitas tersebut. Tak ada pula yang akan pernah bisa menerka-nerka,
akan sampai sejauh manakah perkembangan kerajinan itu di masa depan, hanya
saja, jika berkunjung ke Garut, cobalah barang sejenak mengunjungi Sukaregang.
Melihat bagaimana kulit-kulit tersebut bertransformasi menjadi keindahan yang
mungkin harus kita miliki!


Tidak ada komentar:
Posting Komentar