Siapa yang tidak
mengenal angklung? Alat musik tradisional khas Sunda yang terbuat bambu dan
dimainkan dengan cara digoyang-goyangkan. Bahkan, saking populernya alat musik ini,
pada masa penjajahan Belanda, ia sempat dilarang dan dianggap berbahaya
dikarenakan kepopulerannya yang dianggap dapat memompa semangat para pribumi Indonesia
untuk memerdekakan bangsanya. Memasuki masa kemerdekaan, Angklung semakin populer
berkat jasa Mang Udjo dan saung angklung yang didirikannya.
Lalu, pertanyaan
berikutnya tentang angklung bisa jadi membuat banyak orang bertanya-tanya.
Siapa yang mengenal angklung badud? Tentu saja,angklun badud sama sekali tidak
ada hubungannya dengan pertunjukan badut. Angklung sendiri, sebenarnya memiliki
banyak varian dalam perkembangan budayanya, dan angklung badud adalah salah
satu di antaranya. Jenis kesenian angklung yang berasal dari Tasikmalaya ini
justru berbanding terbalik dengan kesenian angklung yang dikenal banyak orang.
Menurut data yang dilansir oleh Dinas Budaya dan Pariwisata Jawa Barat,
angklung badud merupakan salah satu kesenian tradisional Sunda yang terancam
punah.
Dalam angklung badud,
alat musik yang digunakan tak hanya angklung semata. Angklung badud menggunakan
dogdog dalam pementasannya. Dogdog adalah sejenis alat musik pukul yang
berbentuk memanjang dan dipanggul di sebelah kiri para pemainnya.
Angklung badud merupakan
salah satu bentuk kesenian yang berwujud helaran atau pawai. Ia diadakan
berkaitan dengan upacara khitanan anak. Badud sendiri memiliki arti energik dan
dinamis, sesuai dengan musik yang dihasilkannya yang selalu bernada penuh
hentakan dan semangat. Konon, ketika dahulu obat bius belum umum digunakan,
anak yang hendak di khitan akan direndam di kolam (balong) untuk mengurangi rasa
sakit ketika proses khitan berlangsung. Pada saat menuju kolam inilah angklung
badud dimainkan untuk mengiringi segala jenis tarian dalam pawai tersebut.
Selain sebagai
pengiring, angklung badud berfungsi untuk memberitahukan kepada masyarakat
perihal adanya salah satu warga di kelompoknya yang hendak disunat. Pemberitahuan
ini dianggap penting agar masyarakat memberikan doa dan juga uang kepada anak
yang akan disunat tersebut.
Kini, angklung badud
semakin jarang ditemui, utamanya dikarenakan prosesi khitanan yang semakin
modern tidak lagi membutuhkan proses perendaman pada anak yang akan disunat
sehingga lambat laun hal tersebut berimbas pula pada kesenian angklung badud
yang semakin jarang digelar. Meski demikian, untuk menggairahkan kembali
kesenian angklung badud, kini banyak digelar acara-acara kesenian yang mulai
melibatkan angklung badud di dalamnya. Gaungnya mungkin belumlah semeriah pada
masa kejayaannya,entah esok atau lusa. Ya, hanya waktu yang tahu, akankah ia
masih bisa bertahan atau justru hanya menjadi kenangan yang lambat laun terlupakan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar