Pernah
melewati jalan Asia Afrika? Tentu sebagian dari kita sering melintas di jalan
tersebut. Tapi, tahukah kawan-kawan bahwa di salah satu sisi kiri jalan
tersebut terdapat penanda kilometer bertuliskan angka nol yang selama ini
dijadikan patokan sebagai titik tengah kota bandung? Penanda yang seringkali
disebut dengan “Kilometer Nol Bandung” itu memang terletak di jalan Asia
Afrika, tepatnya di depan kantor Perhubungan Umum (PU), Bandung. Berada persis
di depan monumen kereta api PU, penanda ini ternyata memiliki alur sejarah yang
layak dan sudah semestinya diketahui oleh khalayak ramai.
Pada
masa pemerintahan kolonial, Bandung masihlah berupa kabupaten dengan bupati
pertamanya bernama Wiraangunangun. Kabupaten Bandung sendiri semula berada di
Karapyak atau Bojongasih di tepi sungai Cikapundung, dekat muaranya yaitu
Sungai Citarum. Nama Karapyak kemudian berganti menjadi Citeureup. Bahkan nama
itu hingga kini tetap abadi menjadi salah satu nama desa di Dayeuhkolot. Adapun
sejarah dijadikannya titik tersebut sebagai kilometer nol sendiri bermula
sewaktu jembatan penyebrangan Sungai Cikapundung selesai dibuat pada tahun 1809
pada masa pemerintahan bupati Wiranatakusumah II yang memimpin pada tahun 1794
sampai dengan 1829. Pembangunan jembatan ini sendiri berhubungan erat dengan
rencana pembuatan jalan raya Pos yang terkenal itu.
Perintah
Deandels ini kemudian menyebabkan sang bupati membenahi wilayah yang saat itu
masih berupa semak belukar tersebut, dan akhirnya pada 25 September 1810
keluarlah surat keputusan yang menyatakan bahwa ibukota kabupaten Bandung
dipindahkan dari Karapyak (Dayeuhkolot) ke pinggir sungai Cikapundung atau
alun-alun Bandung sekarang. Tanggal itu pulalah yang sekarang selalu
diperingati sebagai hari lahir kota yang berjuluk Parijs Van Java ini. Pembangunan
wilayah tersebut kemudian dilanjutkan oleh Bupati Wiranatakusumah IV. Pemimpin
yang cukup progresif ini pada tahun 1850 mendirikan pendopo kabupaten Bandung
(sekarang rumah dinas Walikota Bandung, persis di depan Alun-alun Bandung) dan
masjid Agung Bandung. Ia juga yang memprakarsai pembangunan Sekolah Raja
(pendidikan guru) dan pendidikan sekolah para menak (bangsawan). Dialah pula
yang menjadi peletak master plan yang disebut Negroij Bandung
Atas
jasa-jasanya di segala bidang itulah Wiranatakusumah IV mendapat penghargaan
bintang jasa dari Pemerintah Kolonial Belanda. Karena penghargaan itu pulalah
rakyat kabupaten Bandung selalu menyebutnya dengan nama Dalem Bintang. Bupati
yang populer di hati rakyat ini kemudian diganti oleh Raden Adipati
Kusumadilaga. Pada masa R A A Martanegara (1893-1918), yaitu pada 21 Februari
1906, kota Bandung sebagai ibukota kabupaten Bandung, statusnya berubah menjadi
Gemeente (Kotapradja), dengan pejabat Walikota pertama adalah B. Coops. Sejak itulah kota Bandung resmi terlepas dari
pemerintahan kabupaten Bandung hingga sampai dengan saat sekarang ini dan
semuanya itu tak lepas dari sebuah penanda yang bernama Kilometer Nol Kota
bandung.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar