Pernah mendengar
nama Tugu atau Merah Putih? Keduanya adalah beberapa dari grup keroncong yang
cukup terkemuka di tanah air. Keroncong Tugu bahkan telah lama berdiri dan
merupakan salah satu bagian penting dari tonggak sejarah perkembangan musik
keroncong di tanah air. Musik yang satu ini memang kerap hangat dalam tataran
wacana namun sepi dari segi peminat. Perkembangan musik memang kerap cukup
kejam. Ia dapat dengan secepat kilat menggusur sebuah genre yang dianggap telah
usang dan layak untuk disingkirkan. Pun demikian halnya dengan musik keroncong.
Setelah sempat mengalami masa keemasannya paruh waktu abad ke-20, ia seakan
kandas ditelan kencangnya distorsi dan raungan gitar ala musik masa kini.
Eksodus besar-besaran seni budaya barat di masa Orde Baru turut pula membawa
keroncong jatuh ke titik nadir.
Berbicara mengenai
keroncong adalah berbicara mengenai persentuhan budaya Indonesia dengan musik
Eropa. Banyak pihak mengatakan bahwa cikal bakal musik keroncong dikenal dengan
Moresco, sebuah lagu yang menurut hikayat dibawa oleh buruh imigran Portugis
yang bekerja di beberapa perkebunan nusantara. Musik yang bernuansa sendu dan
rindu itu kemudian mengalami akulturasi musik lokal secara intens sehingga
dikenal sampai saat ini dengan istilah musik keroncong. Genre musik yang satu
ini umumnya menggunakan alat musik biola, flute, cak (banjo), cuk (ukulele),
gitar, cello, dan bas. Penjaga irama dipegang oleh cak, cuk, dan bas. Gitar dan
cello mengatur peralihan akord, biola berfungsi sebagai penuntun melodi, serta
Flute yang melayang-layang mengisi ruang melodi yang kosong.
Pertanyaan besar lalu mengemuka, benarkah keroncong merupakan musik
yang diwariskan oleh bangsa Portugis kepada Indonesia? Perjalanan sejarah
sendiri mencatat bahwa tidak terdapat musik yang sejenis dengan keroncong pada
negara yang dijajahnya kecuali Indonesia. Yang lebih menarik lagi, di Portugis
sendiri ternyata tidak ada satupun musisi di sana yang memainkan alat musik
seperti yang dimainkan oleh pemusik keroncong di Indonesia, dan yang cukup
mengagetkan, ternyata di Portugis tak ada musisi yang mampu memainkan irama
keroncong. Jika ditilik lebih jauh lagi, ternyata terdapat kemiripan antara
pakem-pakem yang terdapat di dalam keroncong dengan bentuk lagu dari daerah
Jawa, seperti tembang Dangdanggulo atau Sinom Pangkur.
Tentu paparan ini perlu mendapat tanggapan dan penelitian lebih
lanjut, namun satu hal yang pasti, sebagai sebuah aset berharga, sudah
sepatutnya keroncong mendapat perhatian serius agar ia tidak hanya sekadar
“hidup segan mati tak mau”, dan yang terpenting, jangan hanya karena kurangnya
perhatian dari pihak terkait, akan ada masa dimana keroncong mendapat klaim
dari negara yang justru tak memiliki akar budayanya sama sekali, sebuah
kemungkinan yang bisa jadi menjadi nyata jika keroncong terus terpinggirkan dan
menjadi tamu di rumah sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar