Berlabel emak-emak yang mengaku berempong-rempong ria,
Miko bisa jadi adalah salah satu emak-emak paling kreatif di bumi Indonesia. Dari
tangannya lahir beragam karya aksesoris unik yang cukup mengagumkan. Tanpa
banyak basa-basi mari simak obrolan asyik-masyuk Tobucilhandmade dengan ibu beranak satu ini.
Siapa,
sih, gerangan manusia di balik Yunikua? Apa, nih, yang membuat kamu tertarik
dengan dunia craft?
Manusianya adalah
Emilia a.k.a Miko Wiropati, seorang emak-emak rempong beranak satu dengan
kegiatan seperti emak-emak pada umumnya. Saya tertarik dengan craft karena
serunya proses pembuatan sampai akhirnya barang tersebut terjual. Tapi saya
nggak tertarik sama semua yang berhubungan dengan craft, ya… Hanya beberapa
bidang aja, khususnya fashion accessories.
Itupun ada juga “aliran” fashion accessories yang nggak saya
minati.
Nah,
namanya, kan,Yunikua, dekettt dengan kata unik. Emang apa gerangan, nih,
keunikannya Yunikua?
Keunikan Yunikua kalo
menurut saya sendiri. Sih, bisa dilihat dari hasil karya saya yang sangat random dan nggak berkiblat pada satu style tertentu. Dan biasanya saya hanya
membuatnya dengan jumlah yang sangat terbatas. Biasanya malah cuma bikin
sebiji...
Karya-karya
yang dibuat oleh Yunikua, kan, kebanyakan aksesoris. Aksesoris seperti apa sih
sebenernya yang dibuat Yunikua?
Memang sejak 2010,
Yunikua mulai mengkhususkan diri untuk jualan aksesoris. Awalnya nggak bikin sendiri,
melainkan jual aksesoris-aksesoris import maupun lokal yang sudah jadi, tapi
kemudian ada satu teman yang menyarankan untuk coba bikin sendiri, terus ada
juga teman yang tadinya titip jual di Yunikua, berbaik hati mengajarkan cara
menyambung manik-manik untuk jadi aksesoris. Akhirnya pada pertengahan 2011,
nekatlah si emak-emak rempong ini untuk coba-coba jualan aksesoris bikinan
sendiri. Seperti apa modelnya? Ya silakan lihat sendiri, hehe…
Oh,
ya, Di Facebook-nya aku liat ada link Biru Jingga “Batik Project”. Apalagi,
nih, tampaks side project Yunikua yang menarik, hehehe…
Biru Jingga adalah
mitra kerja Yunikua khusus untuk aksesoris yang membutuhkan bahan-bahan dari
perca batik. Awalnya karena lagi pengen bikin aksesoris yang pake bahan batik,
tapi apa daya kemampuan menjahit saya sangat tiarap, jadi iseng-iseng nanya
sama temen yang bisa jahit, bisa ngga supply
bahan-bahan untuk bikin aksesoris berbahan dasar perca batik. Beliau
menyanggupi, jadilah kami bermitra. Tapi sekarang Yunikua udah nggak dagang
aksesoris batik lagi. Karena dari iseng-iseng tersebut, Biru Jingga akhirnya
membuat aksesoris-nya sendiri. Jadi kalau ada pelanggan yang pengen aksesoris
batik, langsung saya lempar ke Biru Jingga aja. Karena saya sendiri bikin aksesoris
batik hanya napsu sesaat, hehehe…
Balik lagi ke Yunikua, nih. Berkaitan dengan ide, konsep seperti apa, sih, yang diusung oleh Yunikua dalam berkarya?
Saya selalu bingung
kalo ditanya seperti ini. Karena saya berkarya sesuai mood dan ide yang hilir
mudik di kepala, jadinya nggak ada konsep, ngalir aja. Yang penting saya puas
dengan hasil karya saya, apapun itu modelnya, dan pelanggan senang memakainya…
Kalau proses kreatifnya sendiri seperti apa, tuh, dari mulai mengerjakan ide sampai ide tersebut menjadi karya yang super asyik?
Kalau proses kreatifnya sendiri seperti apa, tuh, dari mulai mengerjakan ide sampai ide tersebut menjadi karya yang super asyik?
Standar aja, sih. Kalau
untuk aksesoris-aksesoris koleksi per bulannya, ide muncul, bahan ada,
kerjakan, foto, upload deh. Tinggal
nunggu pelanggan nyamperin. Tapi ada juga ide yang datang dari pelanggan. Prosesnya Cuma beda di ide doang.. Ide
dilontarkan, bahan ada, ya, langsung dikerjakan, bahan ngga ada, ya, cari dulu
bahannya baru dikerjakan. Selebihnya sama.
Apa
hal terbesar yang sebenarnya Miko mimpikan dengan Yunikua?
Belum kepikiran apa-apa…
Sementara ini ngalir aja dulu, yang penting dengan hasil dari Yunikua, saya
bisa bantu suami untuk nyeneng-nyenengin anak saya, hehe…
(Nugraha Sugiarta)




Tidak ada komentar:
Posting Komentar