Setiap kali saya
melewati Gedung Gas Negara yang terletak tak jauh dari Braga City Walk, nuansa
bumi dan langit seolah selalu tersaji di hadapan. Bangunan-bangunan di sekitar
gedung tersebut yang sebagian besar telah bertranformasi menjadi restoran dan
kompleks pertokoan menciptakan sepetak kerancuan yang sulit ditolerir oleh
pandangan mata. Belum lagi, hal tersebut di tambah pula oleh coretan-coretan
liar yang membuat tak hanya Gedung Gas Negara, namun juga berbagai bangunan tua
lainnya yang berada di kitaran Braga. terlihat seperti terasing di negerinya
sendiri.
Namun, sore ini berbeda
dengan sore lainnya. Sekumpulan muda-mudi tampak asyik bergerombol di depan
gedung tersebut. Cipratan-cipratan cat tampak merona pada pakaian-pakaian yang
mereka kenakan. Tentu, gerombolan ini bukanlah hendak tawuran apalagi sekadar
kongkow-kongkow di sore hari. Menamakan dirinya Preman Urban (Perkumpulan
Seniman Urang Bandung). Dengan mengangkat gagasan “Bebenah Bandung” Preman
Urban melakukan aksi mural pada dinding-dinding gedung tersebut. Tak hanya
Gedung Gas Negara, Preman Urban pun berencana untuk melakukan mural pula pada
tembok-tembok bangunan yang ada di Braga selama beberapa bulan ke depan sehingga
keusangan yang selama ini tercipta berubah menjadi keindahan.
Apa yang dilakukan oleh
Preman Urban sendiri sebenarnya dapat dikatakan sebagai sebentuk dialektis non
verbal yang terjalin antara sekelompok manusia yang terusik dengan segala “kekacau-balauan”
yang ada di Braga dengan sekelompok manusia lainnya yang sebenarnya dengan
segala kemampuan yang dimilikinya memiliki kendali penuh atas jalan bersejarah
tersebut.
Lepas dari segala
keruwetan siapa yang memegang kendali dan siapa pula yang terpaksa
mengendalikan, meski dipenuhi dengan canda tawa, sore itu saya mendadak
gelisah. Mural di sekitar dinding ternyata tidak membuat saya larut dalam
peristiwa megah tersebut. Jalanan berdebu, bongkahan-bongkahan batu yang
berjajar di sisi jalan Braga menjelma menjadi awan abu-abu yang membuat
garis-garis cat mural tersebut berubah menjadi teriakan lantang kaum minoritas
yang selama ini dipaksa bersuara tanpa suara.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar