Debu dari beberapa kendaraan yang lewat sesekali mengepul
menerpa wajahnya. Sorot matahari siang itu memancar dengan cukup terik, membuat
wajahnya yang legam sedikit berkeringat. Satu hal yang pasti, pancaran semangat
untuk terus menjalani kehidupan begitu terlihat dari wajahnya. Tak jauh dari
tempatnya duduk, seutas tali darurat memajang bendera merah putih dalam
beberapa ukuran. Lelaki paruh baya itu bernama Mang Ujang. Acap mendekati
peringatan kemerdekaan Indonesia, ia pun beralih profesi menjadi penjual
bendera. Rutinitas ini telah dilakukan Mang Ujang lima tahun lamanya.
Perkenalan kami siang itu sebenarnya tak disengaja, hanya
karena saya hendak membeli koran di seorang penjaja yang kebetulan mangkal
tepat di sebelah Mang Ujang berjualan bendera. “ Benderanya, Kang, untuk di
motor,” tawar Mang Ujang ramah sambil mendekati saya, senyumnya lalu
mengembang. Di tangannya, sang saka merah putih dalam ukuran mini tergenggam.
Tak berapa lama, bendera mungil seharga dua ribu rupiah yang ditawarkannya pun
berpindah tangan dan percakapan kami lalu berlanjut.
Sehari-hari Mang Ujang sebenarnya bekerja sebagai buruh
bangunan, namun ia selalu meliburkan diri dari profesinya tersebut ketika
tujuhbelasan tiba. “ Ya, bandingkan saja, dengan menjadi buruh bangunan saya
hanya mendapat uang sekitar lima puluh ribu rupiah sehari, itu juga tak
menentu, bergantung ada tidaknya proyek. Nah, di saat-saat sekarang, dengan
menjajakan bendera selama sebulan, saya bisa mendapat untung bersih sampai tiga
juta rupiah,” terang Mang Ujang.
Mang Ujang mengaku bahwa ia mendapatkan bendera-bendera
dagangannya dari seorang juragan yang memang telah dikenalnya sebagai
distributor bendera. Tak kurang dari empat juta rupiah ia keluarkan dari kocek
pribadinya sebagai modal awal. Harga bendera yang dijajakannya pun bervariasi,
bergantung dari ukurannya. Mulai dari yang kecil seharga dua ribu rupiah sampai
bendera berukuran besar yang biasa digunakan di perkantoran dan dihargai puluhan
ribu rupiah.
“ Ah, saya mah begini saja. Nyari rejeki sambil merayakan
kemerdekaan. Lumayan untuk modal anak-anak sekolah,” seloroh Mang Ujang sambil
tertawa kecil. “ Saya hanya rakyat kecil yang cari makan,” lanjutnya kemudian.
Di tengah kemeriahan dirgahayu negara ini, Mang Ujang
seolah merayakan kemeriahan tersebut dengan caranya sendiri. Kemeriahan itu
dimaknainya dengan memanfaatkan euphoria masyarakat dalam menyambut hari
kemerdekaan atau mungkin lebih tepatnya rutinitas masyarakat setiap 17 Agustus:
memasang bendera di depan rumah. “ Saya bukan orang yang senang mengeluh,
apalagi menuntut,” terang Mang Ujang. Ia lalu bertutur bahwa dengan
kehidupannya sekarang ia telah cukup bahagia meskipun dapat dikatakan sangat
pas-pasan apalagi ia harus menghidupi seorang istri dan empat orang anaknya
yang kini telah beranjak remaja.
“Merdeka itu bagi saya minimal saya bisa berjualan dengan
bebas tanpa harus takut dengan apapun. Saya bisa bebas nyari duit, meski hanya
menjadi buruh bangunan atau jualan bendera. Ya, kemampuan saya mungkin memang
hanya baru sebatas itu saja. Doa saya sih, semoga anak-anak saya tidak
mengulang apa yang saya lakukan. Semoga saja kehidupan mereka di masa depan
jauh lebih baik dan memiliki profesi yang lebih dihormati,” tutur Mang Ujang
panjang lebar.
Di tengah obrolan hangat kami, sebuah mobil menepi,
membeli dua buah bendera berukuran besar. Dengan cekatan ia layani sang
pembeli. Senyum Mang Ujang kembali mengembang demi melihat rupiah yang
disodorkan oleh pembeli tersebut. Adegan itu tersaji hanya dalam hitungan detik
di depan mata saya, namun ia begitu dalam menyentuh. Bendera itu bukanlah hanya
sekadar barang dagangan yang dijajakan oleh Mang Ujang, namun ia adalah sebuah
simbol kebanggaan. Entah bagaimana isi hati para pembeli yang mampir ke kios
dadakan Mang Ujang, namun setidaknya saya yakin, ada yang terselip di hati Mang
Ujang sebagai penjaja bendera, hidup di bumi Indonesia dengan tidak hanya
berpangku tangan. Merdeka!


Tidak ada komentar:
Posting Komentar