Beberapa hari lalu,
dengan gegap gempita saya dan dua orang paling absurd yang pernah saya kenal
iseng-iseng mendatangi Babakan Siliwangi (Baksil), sebuah hutan kota yang
tersisa di Kota Bandung. Lightchestra,
demikian event yang merupakan bagian sekaligus pembukaan Helar Fest 2012 itu
dinamakan. Sebuah acara yang konon hendak merespon empat hal penting : hutan,
kampung, sungai, dan taman. Menengok tempat pembukaan itu diselenggarakan,
sudah barang tentu di benak meluncur bayangan-bayangan segar penuh tanda tanya
mengenai bagaimana hutan di respon oleh para penggiat kreatif.
Malam semakin beranjak.
Kesalahpahaman bodoh membuat kami agak sedikit terlambat. Namun, tentu saja
semangat masih menggebu-gebu. Memasuki kawasan Baksil, petunjuk jalan dengan
lampu di tanah cukup menarik dan menambah rasa penasaran. Sayang, rasa
penasaran itu berbuah sedikit kecewa. Pertunjukan laser yang dijanjikan
hanyalah berupa sorotan laser yang tak terlalu ramai berwarna hijau. Beruntung,
seorang teman dengan kamera murahan dan skill
fotografi amatirnya mampu mengabadikan beberapa foto nan absurd yang setidaknya
jauh lebih bisa dinikmati dibanding realitas yang dihadirkan oleh Lightchestra. Di tengah arena, silih
berganti penampil dari berbagai band mengisi malam plus ditambah dengan
kerlap-kerlip lampu dari sebuah komunitas pecinta Star Wars.
Merespon hutan pun
kemudian berubah menjadi memindahkan keramaian urban ke tengah hutan. Akhirnya,
hanya dua hal yang setidaknya mampu membuat saya bertahan di tengah
kebingungan, menikmati dua band favorit saya, Homogenic dan Teman Sebangku.
Selebihnya, sebagai awam, tak terasa sama sekali responisasi terhadap hutan dan
juga “lightchestra” seperti yang saya
bayangkan.
Tentu saya harus
berpikir sedikit lebih positif tinimbang mendadak sakit kepala memikirkan apa
sebenarnya konsep dari Lightchestra
sendiri jika dikaitkan dengan proses merespon sebuah hutan. Isu penggusuran
Baksil memang selama ini sudah santer terdengar. Apapun bentuknya, kegiatan
yang diselenggarakan oleh Helar Fest kemudian seolah mencoba memberi pernyataan
paling trengginas bahwa Baksil masih diperlukan untuk berbagai aktivitas bagi
warga Bandung. Ini kota kami dan ini hutan kami, biarkan ia menjadi seperti
itu! Mungkin jika harus diverbalkan kalimat itulah yang cukup menantang untuk
diteriakkan.
Atas dasar alasan itu
pula, meski sedikit dikecewakan, mungkin esok hari saya akan mencoba kembali
menyambangi kegiatan Helarfest lainnya. Setidaknya, jika memang hendak
mengaktifkan hutan, sungai, kampung, dan taman yang ada di Bandung, maka
responisasi dari kesemuanya itu bukan terletak pada siapa dan bagaimana ia
diselenggarakan. Ia ada karena ada yang mau mengakuinya, sesederhana itu.
Foto : Dian Mayangsari


Tidak ada komentar:
Posting Komentar