Siapa yang tak kenal
Gedung Sate. Bangunan yang terletak tepat di depan Gasibu dengan ciri berupa tusuk sate pada bagian atas menara. Ciri tusuk sate yang dimiliki oleh Gedung ini memiliki cerita tersendiri yang cukup unik. Ornamen enam tiang dengan
bulatan berbetuk mirip tusuk sate yang ditempatkan pada puncak atap tumpak
merupakan perlambang biaya pembangunan gedung yang kala itu menghabiskan biaya
enam juta Gulden. Gedung ini pun beberapa waktu yang lalu sempat dibikin heboh
dengan pernyataan seorang Calon Gubernur yang berkeinginan untuk mengganti nama
Gedung Sate karena dianggap tak memiliki makna dan seolah hanya tempat dagang
sate atau warung sate.
Betulkah demikian? Gedung
Sate bukanlah hanya bangunan bersejarah yang menjadi ciri Bandung, namun lebih
dari itu, ia adalah “bukti sejarah” bagaimana pesona tatar pasundan telah
membuatnya sempat terwacanakan menjadi kota utama di Indonesia yang kala itu
masih bernama Hindia Belanda. Pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Van
Limburg Stirum (1916-1921), tercetuslah gagasan untuk memindahkan Ibukota
Hindia Belanda dari Batavia ke Kota Bandung. Satu demi satu, gedung-gedung
pemerintahan di bangun, termasuk Gedung Sate. Sayang, rencana tersebut putus di
tengah jalan menyusul resesi ekonomi yang melanda dunia pada dekade 1930-an.
Pada masanya, gedung
sate dikenal dengan nama Gouvernements
Bedrijven (pusat pemerintahan). Dimulai dengan peletakan batu pertama pada
tanggal 27 Juli 1920, di tahun 1924, selesailah pembangunan Gedung Sate dan
perpustakaan teknik yang paling lengkap di Asia Tenggara. Hal ini membuat -pada
masanya- Gedung Sate menjadi bangunan bertaraf internasional yang dimiliki oleh
Bandung. Bahkan, Bahkan, D Ruhl, dalam
bukunya Bandoeng en haar
Hoogvlakte yang terbit pada tahun 1952 menuliskan bahwa Gedung Sate adalah bangunan terindah di Indonesia.
Meski mendapat pengaruh
dari arsitektur gaya eropa, dapat dikatakan bahwa Gedung Sate merupakan
bangunan dengan Perpaduan gaya timur dan barat. Selain mengungkapkan kesan
anggun, indah, megah, dan monumental, penantaan bangunan pada umumnya berbentuk
simetris. Di samping itu, adanya pemakaian elemen lengkungan yang ritmis,
berulang-ulang menciptakan "irama arsitektur" indah dan unik. Ornamen
berciri tradisional seperti pada
candi Hindu terdapat di bagian bawah dinding gedung, sedangkan pada bagian
tengahnya ditempatkan menara beratap tumpak seperti meru di Bali, sesuatu yang
lazim pada gaya arsitektur Islam.
Jika harus berbicara lebih, memang, mengungkap
Sate bukan hanya mengungkap tentang sisi historikal Bandung semata. Mengungkap
Gedung Sate berarti pula mengungkap tentang begitu hebatnya sebuah pendirian
bangunan di kota ini. Sebuah bangunan yang menjadi salah satu poin utama ketika
berbicara tentang Landmark yang ada
di Bandung. Tentang lelaki yang berminat
menjadi Gubernur Jabar itu? Ah, ya, sebaiknya ia belajar sejarah terlebih
dahulu.
tfs mas, jd menambah pengetahuan ;)
BalasHapus