Bandung adalah kota
dengan kekayaan kuliner tradisional yang begitu kaya, tak kalah dengan
daerah-daerah lainnya. Bila di data, boleh jadi ada ratusan jenis menu makanan
dan minuman tradisional khas Sunda. Lebih jauh lagi, jika dimaknai secara filosofis, mungkin keragaman dalam
setiap komposisi kuliner etnik Sunda, akan memberi acuan perilaku pada
masyarakat.
Meski demikian, perihal
pendataan ini sendiri memang belum pernah dilakukan. Mungkin ini karena
penganan khas Sunda umumnya lahir bukan dari kultur keraton atau bangsawan. Ia
muncul di tengah kelompok masyarakat pribumi kebanyakan sehingga sangat sulit
untuk ditelusuri. Akan tetapi, Satu hal yang pasti, tulisan ini hanya sekadar
ingin mengingatkan beberapa penganan tradisional Sunda agar kekayaan kuliner
ini tak hilang tergilas jaman.
Cakue
penganan tradisional yang terbuat
dari adonan yang berbahan dasar tepung terigu ini masih cukup populer dan
sangat mudah ditemui. Pengolahannya pun cukup sederhana, adonan digoreng,
biasanya berbentuk memanjang, tapi rasanya? Sudah pasti mantap! Menikmatinya
pun cukup dengan mencocol sang cakue ke saus sambal. Rasanya? Gurih-gurih
pedas!
Ali Agrem
Ali agrem atau yang juga dinamai
donat sunda karena bentuknya yang memang menyerupai donat sangat mudah ditemui
di warung-warung. karena bentuknya yang menyerupai kue donat. Rasanya
menjadi khas karena menggunakan gula merah sebagai
pemanisnya. Beberapa sumber menyebutkan, bahwa Ali Agrem adalah penganan yang
merupakan hasil transformasi dari dodol Garut yang sangat terkenal itu.
Misro
Pernah mendengar makanan khas sunda
bernama Comro? Nah Misro adalah antitesisnya. Ia adalah singkatan dari amis di jero,
dalam bahasa Indonesia berarti manis di dalam. Sama halnya seperti comro, misro
menggunakan parutan singkong sebagai bahan dasarnya, hanya saja, jika comro
menggunakan sambal oncom untuk isinya, maka adonan parutan singkong misro yang
berbentuk oval diisi oleh gula
merah.
Putri No’ong
Penamaan penganan yang satu ini agak
ajaib. No’ong sendiri dalam bahasa Sunda bisa berarti mengintip, Putri yang
mengintip? Ah, penganan ini sudah barang tentu bukanlah judul sinetron. Memang,
tak ada yang bisa menerangkan asal-usul namanya.Putri No’ong sendiri merupakan adonan
tepung beras dan parutan kelapa dengan pisang di bagian tengahnya. Bentuknya
bundar dan cukup tebal. Biasanya, ia disajikan dengan baluran parutan kelapa.
Cireng
Penganan ini masih cukup populer dan
mudah ditemui, bahkan sudah melakukan berekspansi alias banyak juga ditemukan
di kota lain. Cireng sendiri merupakan singkatan dari “aci goreng”. Cireng adalah adonan tepung kanji, tepung terigu, air, merica bubuk, garam, bawang putih, kedelai, dan daun bawang yang ditengahnya diberi sambal oncom kemudian digoreng. Warna
cireng umumnya putih. Perihal rasa? Gurih-gurih pedas!
Awug
Makanan ringan yang
satu ini terbuat dari beras dicampur kelapa dan gula merah. Oleh karena itu, ia
juga kerap disebut dengan nama awug beas (beas dalam bahasa Sunda berarti
beras). Ke semuanya kemudian dikukus dan disajikan hangat-hangat.
Colenak
Penganan
Sunda memang senang menggunakan singkatan-singkatan dalam penamaannya, tak
terkecuali dengan yang satu ini. Colenak
adalah singkatan dari “dicocol enak”. Singkatannya yang bernuansa humor
tersebut membuat ia mudah diingat oleh siapapun. Colenak merupakan makanan yang dibuat dari peuyeum (tape singkong) yang dibakar kemudian disajikan dengan saus yang terbuat dari parutan
kelapa dan gula merah.
Peuyeum
Siapa yang tak kenal
peuyeum. Saking terkenalnya, namanya pun menjadi salah satu lagu sunda yang
cukup terkenal. Tidak heran jika makanan ini sempat menjadi salah satu makanan
primadona Jawa Barat. Peuyeum adalah sejenis makanan khas orang Bandung yang
terbuat dari singkong yang direbus dan diberi ragi, sehingga hasilnya sangat
manis dan berwarna putih seperti ditaburi tepung.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar