Ah,
malam yang kian menusuk memaksa saya untuk menaikkan resleting jaket. Hampir
saja saya memutuskan untuk pulang ke rumah jika saja handphone di saku tidak
tiba-tiba berbunyi menyampaikan sebuah pesan singkat dari seorang teman: “Mari
menyusuri pinggiran kota, ada yang menarik.”
Huff,
pesan macam apa ini. Menyuruh datang tanpa ada keterangan tambahan apapun. Tapi
entah mengapa, hati saya tergerak dengan kepala membuncah penasaran. Entah
berapa lama saya duduk di jok penumpang. Panas rasanya bokong ini sampai
kemudian di sebuah asing di sudut Cileunyi ia menghentikan motornya.
“
Sudah sampai?” saya bertanya.
“Ya,” jawabnya
singkat.
Pelan
saya langkahkan kaki dengan muka bodoh nan bingung. “Kita lihat Bajidoran,”
ujar sang teman dengan santainya. Bajidoran? Makhluk apa lagi itu? Bertahun-tahun
tinggal di kota ini, baru sekarang saya mendengar kata “bajidoran”. Setelah
tanya kiri-kanan, akhirnya kata “bajidoran” itu dapat sedikit saya pahami.
Bajidoran ternyata adalah semacam kesenian yang memertemukan dua atau lebih
“tim” tari. Tim tersebut saling mempertunjukkan kemahirannya menari diiringi
musik tradisional Sunda dengan beat cepat. Pada awalnya, bajidoran yang merupakan
perkembangan dari seni tayub, ketuk tilu, banjet, dan tanji ini berasal dari
budaya yang lahir di tengah-tengah masyarakat Pantura Jawa Barat, seperti di
Majalengka. Waktu kemudian membuat Bajidoran mengalami akulturasi dengan ranah
budaya asli Priangan dan menghasilkan bentuknya yang seperti saat ini.
Di
depan panggung, para penonton juga menari-nari dengan penuh kegembiraan. Sesekali
para penonton melemparkan uang saweran ke panggung. Tua-muda tampak memenuhi
arena pertunjukkan. Di tengah guyuran hujan saya jadi ikut-ikutan menari.
Tertawa dengan penuh kegembiraan.
Lelah
kemudian memaksa saya untuk beristirahat sejenak. Pandangan berpendar mengamati
sekeliling. Anak-anak muda dengan dandanan masa kini yang bergerombol di depan
stage begitu fasih menari. Para lelaki paruh baya dengan ikat kepala khas Sunda
juga tak mau kalah, pun demikian pula halnya dengan kaum hawa dari berbagai
kalangan usia. Bermacam generasi dari berbagai dekade itu berbaur menyatu dalam
malam yang semakin larut dan ramai.
Tak
ada lampu-lampu gemerlap, tak ada bebunyian sound system kelas wahid, atau
raungan distorsi. Bajidoran berbagi kesepiannya yang begitu ramai menggema di
tengah dekade yang kian maju ini. Besok, bisa jadi saya sudah kembali pada
rutinitas hidup. Menyusuri jalanan kota, berpacu mengejar waktu, meninggalkan
bajidoran yang tak akan bisa lepas dari ingatan. What a wonderful night!
Di
salah satu sisi panggung, teman saya melambaikan tangannya memanggil dengan
seutas senyum di bibirnya. Saya balas senyum itu sambil melangkah kembali ke
tengah-tengah arena. Kembali turut menari, melarut bersama bajidoran.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar