Kebun Binatang
Bandung dibangun pada tahun 1933 dan merupakan penggabungan dua kebun binatang,
yaitu dari Kebun Binatang Cimindi dan Dago Atas yang dirancang oleh Dr. W.
Treffers. Penggabungan ini dimaksudkan karena kedua tempat ini sudah tidak
layak lagi untuk menyimpan berbagai binatang yang semakin lama semakin banyak.
Harimau yang dikenal dengan nama Harimau Sumatera itu
berjalan mengitari kandang tempat tinggalnya dengan penuh keanggunan, matanya
tak lepas memandang pelihat di depannya. Tanpa dinyana, tiba-tiba ia
mengeluarkan auman khasnya dengan cukup keras. Peristiwa yang cukup mengejutkan
itu sempat membuat beberapa manusia yang berada disekitarnya refleks
memundurkan diri beberapa langkah. Sebagian lainnya dengan sigap menjepretkan
kamera dengan bertubi-tubi, mengabadikan kejadian yang cukup unik tersebut.
Peristiwa yang baru saja berlangsung itu terjadi pada
suatu siang di Kebun Binatang Bandung. Kandang sang harimau yang terletak di
salah satu sisi kiri kebun binatang ini memang merupakan salah satu tempat
favorit yang acapkali didatangi oleh para pengunjung. Hal ini diakui oleh
Syuhbana, pawang harimau yang siang itu tengah berjaga-jaga di depan kandang.
“wisata menaiki unta dan gajah juga termasuk yang cukup dicari di sini,”
ujarnya kemudian menambahkan.
Sebenarnya, tak hanya harimau, gajah, atau unta yang
menarik dilihat di tempat ini. Beragam satwa yang dimiliki oleh Kebun Binatang
Bandung harus diakui memiliki pesonanya masing-masing. Tak kurang dari 1000
ekor satwa kini telah menjadi penghuni tetap Kebun Binatang Bandung. Bahkan
kini satwa yang dimiliki oleh surga binatang ini telah bertambah sebanyak 14
ekor hewan lahir baru. Penghuni teranyar itu adalah seekor singa, seekor rusa
sambar, seekor rusa nilgai (rusa yang berasal dari India), seekor rusa timor, 2
ekor unta, 4 ekor kambing benggala, dan 4 ekor lutung. Tak cukup hanya sebatas
menambah koleksi yang dimilikinya, Kebun Binatang Bandung pun tengah
memfokuskan diri pada perbaikan dan perluasan kandang sehingga tempat tinggal
para satwa yang dimilikinya akan lebih bernuansa hewani serta mirip dengan
habitat asli mereka.
Satu hal yang pasti, melihat satwa-satwa dari jarak
yang sangat dekat adalah sebuah bentuk petualangan penuh sensasi mendebarkan.
Ada sebentuk rasa betah nan menyenangkan yang selalu muncul ketika
menyambanginya. Bayangkan saja, ketika baru memasuki Kebun Binatang Bandung
kita akan langsung disambut dengan kicau-kicau burung yang saling sahut
menyahut. Ragam satwa lainnya kemudian akan pula menemani perjalanan kita,
mulai dari tapir, badak jawa yang sudah hampir punah, kera, pelican, buaya,
ular, dan puluhan jenis hewan lainnya dari berbagai ordo dan keluarga. Sapa
para binatang itu terdengar begitu akrab. Suara-suara yang dikeluarkan dari
mulut-mulut mungil mereka seakan mengajak kita untuk bercakap-cakap, satu hal
yang tak pernah kita temui ketika kita hanya melihatnya dari majalah atau layar
televisi. Berbagai jenis ikan ternyata terdapat pula di tempat ini. Sebuah
museum yang dinamai Museum Aquarium dan Binatang Langka menjadi tempat yang
cukup mengasyikkan untuk dikunjungi bagi para pecinta satwa air.
Seakan senada dengan itu, Ani Mulyani, seorang ibu
yang siang itu mengunjungi Kebun Binatang Bandung dengan putra semata wayangnya
bahkan mengatakan bahwa setiap bulan anaknya selalu meminta untuk ditemani ke
kebun binatang ini. “saya sih senang-senang saja,” jelas Ibu Ani di sela-sela
obrolan, ”lagipula, mengunjungi kebun binatang ini dapat menambah rasa cinta
kita kepada hewan-hewan, buktinya anak saya, ia sekarang terlihat lebih
menyayangi satwa. Bahkan kemarin ini ia minta dibelikan kucing dan kura-kura
untuk dipelihara di rumah.”
Tak bisa dipungkiri, salah satu cara untuk menanamkan
rasa cinta terhadap satwa adalah dengan melihatnya langsung dalam jarak yang
nyaris tak berjarak, melihat polah dan tingkah mereka di dalam replika
habitatnya. Dengan demikian kita akan dapat pula merasakan pula bagaimana
mereka menyampaikan aura persahabatan dengan penuh kehangatan.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar