Tak kurang dari 15
stand berdiri. Pernak-pernik super menarik nan menakjubkan itu terhampar dengan
gilang-gemilang dan begitu penuh laksana hamparan pasir di taman bermain masa
kanak-kanak. Pekarangan Tobucil yang biasanya dipenuhi kendaraan yang terparkir
dan tak terlalu luas itu lalu seolah menyempit dengan keramaian khas ala Crafty
Days yang saban Mei di tiap tahunnya selalu menjadi rutinitas.
Satu hal yang pasti, lagi-lagi
hujan menerpa Crafty Days yang telah memasuki tahun ke-6. Meski di hari pertama
sempat terselamatkan dari air-air langit yang menurut gosip-gosip urung
tercurahkan karena bersamaan dengan adanya pertandingan bola di lapangan
Siliwangi yang memang bersebelahan dengan Tobucil. “Pawang hujannya oke punya,”
bisik seorang teman menerka-nerka. Namun, Persib, tim bola yang bermain hari
itu, bukanlah Suju yang bisa menggelar pertunjukannya secara nonstop. Tak ada
lagi pertandingan di keesokan harinya. Air-air langit tersebut akhirnya
menurunkan tuahnya di hari berikutnya. Seperti biasa, hectic pun merebak. Keriuhan melanda, meski tak sampai terjadi
huru-hara.
Hujan memang tak pernah
bisa menghentikan Crafty Days. Meski berbasah-basahan, meski pengunjung sempat
mereda seiring derasnya sang hujan, puluhan senyum tak lepas merekah. Saya yang
datang beberapa detik sebelum hujan mengguyur lalu memerhatikan dengan seksama.
Crafty days adalah bazar? Ya. Namun yang lebih tepat lagi, Crafty Days adalah
perayaan. Semua orang merayakan sesuatu hari itu, Para crafter, pengunjung,
sampai Si Ting-Ting, kucing liar yang kerap berkeliaran di Tobucil pun
merayakan sesuatu dengan menikmati makanan-makanan sisa yang terserak di salah
satu sudut Tobucil. Dan hujan adalah bagian dari perayaan tersebut, sesuatu
yang sulit dipungkiri.
Lalu, apa itu perayaan?
Bagi saya, perayaan adalah sesuatu yang kita nikmati dengan penuh
sungguh-sungguh. Ketupat lebaran adalah perayaan, menikmati sudut kota dengan
kekasih pujaan adalah perayaan, pun demikian halnya dengan Crafty Days. Apa
yang dirayakan dan siapa yang merayakan bukanlah hal yang terlalu sulit untuk
ditebak. Baik Crafty Days maupun manusia-manusia yang berada di dalamnya adalah
bagian dari perayaan dan merayakan.
Riuh rendah para pelakon di dalamnya
kemudian mengandung dua makna perayaan yang secara kasat mata terlihat jelas.
Merayakan Crafty Days sekaligus pula merayakan diri sendiri. Merayakan
keberadaannya sebagai sebuah bagian dari perayaan tersebut. Mungkin terlalu
berlebihan, namun Crafty Days pada akhirnya memang menjelma menjadi sebuah hari
raya. Hari raya yang satu ini tak perlu baju baru atau bingkisan-bingkisan
hadiah. Ia hanya perlu kamu, saya, kita, dan sedikit hujan sebagai bagian dari
ritual sang hari raya. Selamat berhari raya kawan-kawan. Mungkin di tahun depan
kita masih akan menjumpai hari raya yang sama. Ah, pasti. Pasti di tahun depan
kita akan menjumpai hari raya yang sama. Meriuh dalam keramaian paling
mengagumkan.


OMG!! Udah crafty days 6 lagi?!?!?! lagi-lagi ketinggalan. T_T I really have to come next year!!
BalasHapus