Wasit tak henti memandang ke tengah
arena. Sang petarung bertatapan dengan penuh siaga. Pemilik domba mengangkat
sebelah tangan, sejurus kemudian perintah menyerang diteriakkannya dengan penuh
semangat, bersamaan dengan itu, kedua domba berlari melaju menghantamkan
tanduknya ke arah lawan, pergulatan pun terjadi sebelum akhirnya para petarung
itu kembali menyiapkan diri untuk serangan berikutnya. Selang beberapa detik
setelah kedua petarung saling mengadukan tanduknya, riuh tepuk, sorak,
sekaligus gerutu penonton menggema.
Begitulah gambaran yang terjadi
pada acara Liga Seni Ketangkasan Domba Garut (LSKDG) beberapa waktu lalu. Acara
ini diselenggarakan oleh Himpunan Peternak Domba dan Kambing Indonesia (HPDKI)
bekerjasama dengan Deperindag Agro Jawa Barat. Kegiatan ini memang cukup
dipadati oleh para penggemar seni ketangkasan domba. Dede Ahmad, misalnya.
Warga Cihampelas, Bandung yang mengaku sering menyambangi acara-acara sejenis
ini bahkan membawa istri dan anaknya ke arena pertandingan. “Lumayan, hiburan
untuk mengisi hari libur,” ucapnya ramah.
Pertunjukan seni ketangkasan domba
memang terbilang jarang digelar di kota Bandung. Hal itu pulalah yang
sepertinya menjadi penyebab utama mengapa acara yang digelar sedari pagi ini tampak
begitu ramai dikunjungi. Sebagai bentuk dari sebuah tradisi dan budaya, adu
domba memang menakjubkan sekaligus mencekam. Pertarungan demi pertarungan yang
disajikan begitu seru serta menarik sehingga mata para penggemarnya terlihat
begitu enggan memalingkan mukanya dari arena pertandingan walaupun hanya
sesaat.
Peraturan pertandingan adu domba ini sendiri cukup unik. Dibagi ke dalam 3
kelas berdasarkan beratnya, Domba-domba yang bertanding diberikan kesempatan
untuk saling silih pukul (menanduk) sebanyak 20 kali. Juri sendiri memberikan
penilaian setelah tandukan yang ke-7. Penilaian yang dilakukan oleh tim juri
didasarkan pada keberanian, ajeg-ajeg (kuda-kuda), serta penampilan
domba yang tengah bertanding.
Peserta pertandingan pun datang dari berbagai penjuru Jawa Barat. Simak
saja penuturan Nana Supriatna. Pria yang juga peserta lomba ini menyengajakan
diri datang dari Banjaran dengan membawa 3 domba jagoannya. Ditemui di
tengah-tengah keramaian acara, Nana yang tengah mempersiapkan dombanya berharap
agar acara serupa semakin sering diadakan.
Hal senada diucapkan pula oleh R. Ondi. Anggota HPDKI yang berasal dari
Rancaekek, Kab. Bandung ini telah 20 tahun menggeluti dunia seni ketangkasan
domba. Bertarung di kelas A (di atas 75 Kg) dan B (65,5 Kg-75 Kg), Ondi sempat
pula memamerkan domba kebanggaannya. “ Agar domba bisa jadi jawara (juara), ia
harus dimandikan seminggu sekali. Domba juga tiap minggunya harus diajak
berolahraga lari dan renang,” jelasnya singkat. Lelaki berusia 58 tahun ini
juga memaparkan bahwa domba harus rajin diberi makan. Tidak sekadar rumput,
domba petarung juga diberi makan sampeu (ubi), ampas tahu, jagung, serta
berbagai suplemen dan obat-obatan khusus hewan.
Gelaran ini sendiri sebenarnya adalah sebuah gelaran yang telah
dilaksanakan secara rutin, hanya saja, ia sempat vakum untuk beberapa saat dan
barulah di tahun 2012 gelaran ini kembali diselenggarakan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar