21.10.11

Menemukan Kembali Pahlawan yang Hilang

Jika kita berbicara mengenai mesin waktu, bisa jadi perdebatan tanpa akhir tentang mungkin atau tidaknya mesin tersebut tercipta akan berlangsung semalam suntuk tanpa ada habisnya. Namun, beberapa waktu yang lalu, dalam pameran di Galeri Soemardja bertajuk “Toys with Semionaut Soup (TWSS)” karya Budi Adi Nugroho, saya seperti masuk ke dalam kotak besar mesin waktu yang mengembalikan ingatan dan tubuh saya kembali ke masa lalu.


Adalah sebuah hari yang teramat panas dan jajaran pohon nan rindang yang berderet di sepanjang jalan Ganesha yang membawa saya ke tempat tersebut. Meski tak sempat menghadiri pembukaan pameran beberapa waktu sebelumnya, saya yang menolak sengatan udara tropis hari itu pun dengan gegap gempita mampir untuk berlindung barang sebentar dari penat matahari yang terlalu memburu. 

Sepuluh karya obyek tiga dimensi yang menjelma dalam tokoh-tokoh komik itu lalu menyergap saya, mulai dari Inspector Gadget sampai petualang muda bernama Tintin dan tokoh komik lainnya. Karya-karya dalam pameran ini ibarat “sekaleng sup” yang menampung persilangan tanda-tanda dan benda-benda mainan (toys) yang sudah lama akrab ungkap secarik kalimat yang tertuang dalam kuratorial. Kata “dan” di sana kemudian seolah memisahkan antara persilangan tanda serta mainan yang dihadirkan. Saya yang terlalu awam untuk memahami dunia kritik seni mungkin sedikit bingung dengan keterangan tersebut, apalagi jika kemudian harus memikirkan pula, jikalah ia adalah persilangan tanda-tanda, persilangan tanda-tanda apakah yang dimaksud? Mari menariknya menjadi lebih sederhana: apa petanda dan apa pula penanda yang terdapat di dalamnya?

Ah, daripada pusing-pusing memaknai tanda demi tanda, tanpa bermaksud apa-apa, bagi saya TWSS lalu menjelma menjadi jauh lebih melankolis dan mengandung unsur romantika yang kuat daripada sekadar persilangan tanda-tanda. Ia adalah persilangan kerinduan antara realitas dan dunia mimpi khas bocah. Tokoh-tokoh “jagoan” yang diusung di dalam pameran tersebut mengembalikan sekaligus mengingatkan akan semangat heroik yang nyaris tanpa cacat. Dunia yang tidak pernah sempurna namun dilengkapi oleh semangat heroisme tersebut.

Semangkuk sup yang ditawarkan oleh TWSS pada akhirnya berhasil mengingatkan akan kedigjayaan masa lalu, seperti halnya kedigjayaan Bunda di masa lalu yang menawarkan semangkuk sup dan segelas susu di pagi hari ketika waktu menunjukkan pukul enam pagi. Kedigjayaan yang mungkin kini telah nyaris terlupakan karena rutinitas dan realitas yang kita miliki sekarang tidak berpikir tentang patron, menolak segala nilai-nilai heroisme nyaris tanpa cacat. TWSS kemudian dengan lemah lembut dan ceria mengajak saya untuk menemukan kembali pahlawan yang hilang, pahlawan yang mungkin berujud pada jiwa yang terbungkus dalam tubuh yang setiap hari saya gerakkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails