Masih ingat postingan Tobucilhandmade beberapa bulan yang lalu mengenai Braga Festival 2010? Oh, yes, sesuai janji, saya kembali menyambangi Braga Festival 2011 yang “konon” mengangkat tema Balik Bandung. Lagi-lagi, kekecewaan yang sama menyertai perjalanan sore saya ke Festival yang setiap tahun semakin tidak jelas konsep dan idenya tersebut. Sepertinya, hal yang pertama yang terbersit di kepala masyarakat awam ketika hadir di sini adalah kebingungan demi kebingungan untuk mengetahui susunan acara yang akan dipentaskan di Braga Festival kali ini.
Beruntung beberapa stand yang ada cukup menawarkan dahaga untuk tidak terlalu kecewa. Beberapa stand batik, misalnya, ramai dikunjungi para pembeli domestik maupun wisatawan asing yang sedang iseng menghabiskan penatnya di Kota Kembang. Di samping itu, penyelenggaraan pameran foto yang diprakarsai oleh WFB juga cukup memberikan kenikmatan tersendiri dan menjadikan Braga Festival “setidaknya” ada yang bisa dilihat. Hamparan foto demi foto tersebut bercerita banyak tentang Bandung dan peristiwa-peristiwanya. Cukup menghibur dan menarik.
Adapun pemilihan tema “Balik Bandung” yang diusungnya sendiri memang agak ambigu. Balik Bandung? Bandung yang mana? Pada masa keemasannya di masa pemerintahan Hindia Belanda, Braga adalah tempat kongkow-kongkow kaum muda yang asyik menikmati sore. Braga Festival? Hanya semacam absurditas yang mengunggah keramaian dengan beberapa panggung hiburan dan sebuah tempat catwalk. Sebuah panggung “ijo royo-royo” yang dijadikan sebagai venue utama pembukaan Braga Festival pun terkesan murahan dan seadanya. Persiapan yang kurang sepertinya menjadi racun paling mujarab untuk mengkerdilkan penyelenggaraan Braga Festival kali ini. Apalagi terbersit kabar bahwa H-1 pelaksanaan acara, panitia masih berpusing-pusing ria dengan rundown acara.
Jikalah saya harus menulis berpanjang-panjang, sepertinya tulisan ini akan nyaris serupa dengan apa yang saya tulis beberapa bulan yang lalu. Jujur saja, saya kehabisan kata-kata untuk tulisan kali ini. Entah karena terlalu kecewa atau justru karena saya menulis “Balik Bandung” yang sebenar-benarnya tidak saya kenal. Ah, mungkin tahun depan saya sebaiknya berhenti mencoba berbincang dengan Braga Festival.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar