2010 sudah habis, yap. Huah, tapi saya masih menyisakan sepenggal kisah agak mengecewakan di penghujung tahun tersebut. Tadinya, kisah mengerikan ini terlalu malas untuk saya terjemahkan ke dalam huruf-huruf, tapi rasanya banyak manusia lainnya yang memiliki kekesalan yang sama. Hohoho, saya bukan hendak mewakili siapapun, ini tulisan boleh jadi hanya laporan sekelebat pandangan mata yang telah terjadi berulang tiap tahunnya.
Buat yang penasaran, Tuan dan Puan, kali ini saya sudah barang tentu bukan hendak menulis tentang heroiknya Timnas di piala AFF dan betapa menjengkelkannya nama Nurdin Halid. Tidak-tidak, saya hendak “ngedumel” tentang event tahunan “yang katanya” merupakan salah satu ikon Bandung: Braga Festival. Mengapa harus “ngedumel?” Hey-hey, mengambil tema “Art for Solidarity”, patut rasanya siapapun bercuriga dan membuat pertanyaan apa sebenarnya pengertian “art” di benak para penyelenggara event tersebut.
Terus terang, saya bukan hendak menghujat, akan tetapi, rasa-rasanya jauh-jauh dan jauh lebih baik mengunjungi Gasibu di Minggu pagi tinimbang melongok Braga Festival. Dengan tema yang diusungnya, Braga Festival (lagi-lagi) gagal membumikan kesinambungan antara tema dan kenyataan di lapangan di samping tentu saja tak adanya kebaruan di tiap gelaran tiap tahunnya meski harus diakui bahwa berbagai kerajinan berbasis kreativitas tangan cukup menghibur meski tak maksimal.
Pertanyaannya adalah: mengapa tiap tahun event yang selalu bermotif semu atas nama kreativitas ini selalu mengalami penurunan kualitas pada tiap tahunnya? Bagi saya jawabannya hanya satu. Dana minim atau di “tilep”? mungkin, tapi yang pasti Braga Festival bagi saya berada diambang kehancuran karena kegagalan isu-isu pop dalam penyelenggaraannya. Braga Festival dengan jumawa dihadirkan dengan penuh ikon-ikon pop, bahkan seni yang tidak ngepop pun dibuat menjadi pop. Jika pada penyelenggaraan pertamanya dahulu dihadirkan pentas musik jazz yang memukau mata, 2010 lalu festival ini dibuat ngepop dengan menghadirkan ST 12.
Tentu saja hal tersebut sah-sah saja, namun apakah tepat? Olala, saya tidak menyalahkan kultur pop tentu saja. Saya seorang penggila budaya pop jikalah ia berupa fenomena kontemporer yang mengubah cara pandang dunia. Tapi, maaf, pop-nya Braga gagal mengangkat lokalitas dan justru membuatnya semakin buruk. Kerajinan tangan hadir di Braga dan berkesan kampungan. Kaos-kaos ala distro tumpek blek di Braga, namun berkesan pinggiran. Bukan, tentu saja bukan karena apa yang dilakukan para kreator itu buruk, sama sekali bukan. Masalahnya adalah, penyelenggara tampaknya dengan sukses gilang gemilang meniadakan keelokan Braga Festival yang digadang-gadang memiliki warna Bandung tempo doeloe.
Sudah cukup, hentikan kekecewaan. Jikalau tahun depan Braga Festival masih berlangsung, semoga saja keresahan galau maralau ini tidak lagi hadir dari mulut saya dan orang-orang lainnya. Semoga nanti Braga yang “nge-art” benar-benar hadir di sang festival. Terakhir, semoga saya tidak menulis kekecewaan yang sama di akhir 2011 nanti!
hai. pada acara braga festifal kemarin saya tidak datang. tapi melihat tulisan yang berkesinambungan dengan foto di atas saya sependapat dengan isi dari tulisan ini. kita sama-sama do'a kan semoga kedepan nya lebih baik lagi ya =))
BalasHapus