Taman kota adalah paru-paru kota yang memiliki fungsi sangat vital, terutama untuk mengurangi debu dan polusi. Di samping itu, ia juga dapat mempercantik dan memberikan pemandangan segar di tengah ramainya suatu kota. Tapi, tahukah Anda bahwa pada masa kolonial Belanda Bandung pernah dikenal dengan sebutan “Kota Taman”? Julukan ini muncul bukan saja karena banyaknya taman dan lahan terbuka, namun pada masanya, tata kota Bandung memang mengacu pada konsep Kota Taman (Garden City) yang digunakan di banyak negara di Eropa. Pada saat ini, banyak taman kota tersebut yang telah tak ada. Lalu, taman apa saja yang pernah berdiri di kota ini? Tulisan ini adalah sebuah catatan kecil tentang keindahan masa lalu yang mungkin tak akan pernah kita jumpai lagi.
PietersPark
Sebuah taman di depan kantor Balai Kota Bandung yang diberi nama Taman Dewi Sartika ternyata memiliki perjalanan sejarah yang cukup menarik. Pembangunananya diawali pada tahun 1885 ketika masa pemerintahan Hindia Belanda dan diberi nama Pieter Sijthoffpark atau lebih dikenal dengan nama Pieterspark. Taman ini didirikan untuk mengenang mengenang Asisten Residen Priangan, Pieter Sijthoff, yang berjasa besar bagi perkembangan Kota Bandung. Dahulu, di seberang timur taman terdapat Pieter Sijthoff Park Kweekschool voor Inlandsche Order wijzern, yang sering disebut Sakola Radja, sehingga nama taman ini pun menjadi Kebon Radja. Nama Kebon Radja berubah menjadi Taman Merdeka pada tahun 1950-an. Kemudian, diubah menjadi Taman Dewi Sartika pada tanggal 4 Desember 1996 seiring dengan penempatan patung Dewi Sartika di sana.
Insulindepark
Sebagian tanah kosong yang merupakan cikal bakal Insulindepark masih berbentuk rawa pada tahun 1898. Rawa itu kemudian dikeringkan dan dijadikan lapangan untuk kegiatan militer (1915 -1919) dengan jajaran pepohonan disekelilingnya. Lapangan itu dijadikan sebagai “Taman Tropis” pada tahun 1920-an. Taman tropis ini kemudian diberi nama Insulindepark pada`tahun 1925. Kini, taman tersebut telah berubah wujud menjadi Taman Lalu Lintas.
Ijzermanpark
Taman ini dibangun pada tahun 1919 dan merupakan cikal bakal dari taman yang kini dikenal dengan sebutan Taman Ganesha. Penamaannya sendiri diambil dari nama seorang Belanda bernama Ijzjerman. Berkat jasa dan andilnya dalam pendirian ITB yang dahulu bernama Technische Hogeshool-THS, dibuatlah taman di Jalan Ganesha. Patung Ijzerman itu masih berdiri megah pada tahun 1950-an. Namun pada era 60-an patung Ijzerman telah digantikan dengan patung Ganesha. Entah bagaimana nasib patung tersebut, apakah masih di disimpan oleh pihak ITB atau raib entah kemana.
Jubileumpark
Ini adalah sebuah taman yang telah tak tampak lagi sisa-sisanya sekarang. Ia dahulu terletak di sekitar jalan Tamansari. Taman ini diresmikan pada tahun 1923 untuk memperingati Jubileum Ratu Wilhelmina dari Belanda, sehingga diberi nama Jubileumpark. Prasasti Jubileumpark dibangun disudut segi tiga selatan taman. Prasasti ini masih dapat dilihat di bagian belakang kebun pembibitan tanaman hias hingga tahun 1950-an sebelum akhirnya ia hilang. Awalnya, Jubileumpark direncanakan menjadi taman botani yang menghimpun berbagai jenis tanaman keras dan tanaman hias. Pada tahun 1933, bagian selatan Jubileumpark dijadikan kebun binatang sehingga fungsinya berubah menjadi taman kebun binatang. Nama Jubileumpark diganti menjadi Tamansari pada tahun dekade 50-an. Masyarakat sekarang hanya mengenal Tamansari sebagai nama jalan, karena taman ini sudah dianggap bagian penuh dari kebun binatang.
Oranje Nassau Plein
Terletak di jalan Martadinata, Oranje Nassau Plein atau yang lebih dikenal dengan nama Oranjee plein (tahun 1950-an) sekarang dikenal dengan nama Taman Pramuka. Oranjee Plein dibangun dengan bentuk taman sederhana yang miskin pepohonan pada tahun 1920. Taman ini berbentuk setengah lingkaran dengan bangunan mirip Gazebo ditemparkan di tengahnya. Bangunan itu semula dimaksudkan untuk tempat bersantai di tengah taman, kemudian menjadi kedai minum santai, dan menjadi toko berbagai kebutuhan sehari-hari pada tahun 1940-an. Pada awal 70-an ia menjadi bangunan kosong dan akhirnya sekarang menjadi pusat kegiatan Pramuka di Kota Bandung.
Di samping taman-taman yang telah disebutkan di atas, ternyata masih sangat banyak taman-taman tempo dulu di kota Bandung. Molukkenpark yang sekarang dikenal dengan nama Taman Maluku, Tjitaroem Plein di jalan Citarum yang dibangun untuk memperingati percakapan pertama melalui radio telepon antara Hindia Belanda dan Negeri Belanda pada`tanggal 3 Juni 1927, Tjilaki plein yang dahulu lebih diarahkan sebagai jalur hijau dan hutan kota dan kini berubah menjadi sebuah taman kota di jalan Cilaki, Tjibeujing Plantsoen (kini pada bagian selatannya menjadi kebun pembibitan tanaman taman dan pelindung jalan dikelola oleh Dinas Pertamanan Kota Bandung) yang sejak awal hanya dimaksudkan sebagai lahan hijau terbuka, bukan sebagai taman dalam arti yang sesungguhnya, dan masih banyak pula taman-taman lainnya. Taman-taman yang dahulu menjadikan Bandung mendapat julukan “Kota Taman”. Lalu pertanyaannya, akankah predikat tersebut dapat kembali disandang oleh kota penuh nilai sejarah ini? Sebuah pekerjaan rumah yang sudah seharusnya mulai kembali dipikirkan ditengah derasnya arus modernisasi dan kian padatnya kota ini.



i love bandung... :)
BalasHapus