5.7.11

On Day Monday - Jussy Rizal “Lurik”

Rubrik On Day Monday merupakan sindikasi Tobucil Handmade dan Nest of Ojantountuk bertukar kabar dari Bandung dan Yogjakarta.

Melirik Lurik sebagai Simbol Perjuangan

Kata lurik merujuk pada sebuah nama kain. Pembuatannya melalui proses tenun. Tentu saja ini tradisional dan handmade.  Kata lurik berasal dari bahasa Jawa, yaitu lorek, yang artinya garis-garis. Dari bahan yang saya baca, corak motif garis-garis pada kain lurik itu menjadi lambang kesederhanaan. Sederhana dalam penampilan maupun dalam pembuatan namun sarat dengan makna (Djoemena, Nian S., 2000). Nah, On Day Monday kali ini kita akan bersama-sama melirik lurik dari Jogjakarta. 

kain lurik

Mari berkenalan dengan Mas Jussy Rizal. Dia adalah pengelola dari perusahaan tenun lurik KURNIA di kawasan Jogjakarta bagian selatan. Perusahaan ini berdiri hampir setengah abad yang lalu (1962). Adalah Sang Kakek dari Mas Jussy yang memprakarsainya. Dulunya beliau adalah penenun juga, lalu bersama teman-temannya membangun usaha ini. 

Tenun Lurik Kurnia

Melewati berbagai era, usaha ini menjadi satu-satunya perusahaan kain tenun lurik di kawasan tersebut.  Mas Jussy mulai mengelola usaha ini dari tahun 2008 lalu. Lulusan Psikologi UGM ini memaparkan bahwa yang membuatnya termotivasi untuk menjalankan usaha ini adalah kecintaannya pada kain lurik itu sendiri. Kain lurik dianggap sebagai simbol perjuangan keluarganya. Selain itu, menjadi simbol perjuangan juga untuk mempertahankan kain lurik sebagai kekayaan budaya Jawa. 

Saat ini, KURNIA Lurik mempunyai 55 orang (30 diantaranya adalah penenun) yang senantiasa semangat bekerja untuk mempertahankan eksistensi kain lurik. Dalam sehari, seorang penenun mampu menghasilkan 8 meter kain lurik dengan lebar 70cm. 

salah satu ruang tenun

Adaptasi dengan zaman membuat Mas Jussy melakukan inovasi di berbagai sisi usaha ini. Dia mengembangkan beberapa motif baru untuk kain lurik (baik warna atau corak). Kain lurik yang sudah jadi, dia coba juga gabungkan dengan proses sablon dan batik. Selain itu, dia mencoba membuat kain lurik menjadi barang jadi yang lebih fungsional. Selain memenuhi permintaan pasar lokal, Mas Jussy juga membuat jalur pemasaran yang lebih luas, antara lain dengan mengikuti berbagai pameran dan juga website yang bisa ditengok di www.kurnialurik.com. Terlepas dari itu semua, Mas Jussy tetap mempertahankan kain tenun lurik yang punya rasa personal karena tradisional dan handmade. 

kreasi kain tenun

Persaingan juga tak lepas dijumpai. Muncullah teknologi mesin penenun otomatis yang mampu menghasilkan kain tenun lurik dengan kapasitas jauh lebih besar. Selain itu, muncul juga kain lurik printing. Tapi Mas Jussy menolak untuk menggunakan alat-alat tersebut. Lalu bagaimana membedakan antara kain tenun lurik tradisional, kain lurik dari mesin penenun otomatis, dan kain lurik printing? Mas Jussy punya tips, kalau printing jelas satu sisi saja motifnya, kalau tradisional di kedua sisinnya ada motif. Sedangkan kain lurik dari mesin otomatis punya kerapatan yang konstan, sedangkan yang tradisional kadang kurang konstan. Selanjutnya baca di sini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails