8.7.11

Menggelar Busana di Antara Cucuran peluh

Hari terasa cukup panas dengan matahari yang menyorot tanpa tertutup awan barang sedikit pun. Kepulan debu membuncah kecil pada tiap langkah kaki yang saya buat. Keramaian itu tersaji di depan. Semua berbaur menjadi satu. Meski keringat menetes pada tiap kening manusia yang ada di sana, mereka semua dengan penuh semangat terus melihat dan menawar baju yang dijajakan oleh para pedagang. Tentu, pemandangan keramaian ini bukanlah di FO atau distro ternama. Ya, ini adalah sebuah tempat di Bandung Timur bernama Gedebage yang kini terkenal sebagai tempat baju bekas termurah dan terlengkap di seentaro Bandung. Awalnya, pada dekade 90-an, tempat yang satu ini terletak di daerah Cibadak dan dikenal dengan nama Cimol (Cibadak Mall). Dalam waktu sekejap, Cibadak menjadi begitu semrawut sehingga Cimol pun kemudian dipindahkan di sekitar lapangan Tegalega. Perjalanan para penjual busana ini tak hanya sampai Tegalega, berawal dari “pembersihan” lokasi Tegalega yang pada waktu itu dijadikan sebagai salah satu tujuan tempat peringatan KAA tahun 2005, para PKL direlokasi ke Gedebage. Sebelumnya Gedebage merupakan terminal angkutan kota sekaligus pasar sayur dan buah-buahan. 


Kembali pada perjalanan saya siang itu. Hari ini sebenarnya bukanlah kunjungan pertama saya ke tempat ini. Bisa dibilang, Gedebage adalah salah satu tempat favorit yang kerap saya kunjungi ketika ingin berburu baju atau jaket. Harganya yang miring belum lagi koleksi-koleksi busananya yang cukup ajaib dan tak biasa membuat saya kerap tak bisa menahan godaan untuk kembali dan kembali lagi ke Gedebage. Pada dasarnya pasar ini sama seperti pasar baju bekas yang bisa didapati di kawasan Senen Jakarta Pusat. Di sini terdapat bermacam-macam jaket, sweater, kaos, kemeja, rok, tas, celana jeans, dan masih banyak lagi. Semuanya tersedia dalam berbagai model, dari yang biasa, unik sampai kategori luar biasa aneh alias norak bisa ditemukan di sini. Semuanya bergantung selera. Ada yang berpendapat makin norak makin menarik. Yang jelas model baju-baju yang unik di Pasar Gedebage ini tidak bisa didapatkan di tempat lain dan sangat memanjakan para penggemar baju bernuansa vintage. Asalkan cukup jeli dan sabar dalam memilih, dengan harga yang tak terlalu mencekik pakaian layak pakai dan masih bagus bisa didapat. Bahkan, konon banyak artis-artis terkenal yang senang berbelanja ke sini karena keunikan barang-barang yang dijajakan.

Kios demi kios permanen itu saya susuri satu persatu. Para pedagang yang saya lewati seakan tak kenal lelah menawarkan barang-barangnya, menyapa setiap pelintas yang tengah asyik memilah dan memilih barang. Sebuah kemeja flanel biru dongker kemudian menggugah hasrat berbelanja saya. “50 ribu rupiah, Kang,” ucap sang pedagang dengan logat Sumatranya yang kental ketika saya menanyai harga kemeja tersebut. Tawar-menawar kemudian terjadi diantara kami. Khas sekali. Tak saya temui keramahan ala SPG FO atau shop keeper distro-distro ternama. Namun sebaliknya, nada meremehkan ketika saya menawar terlalu rendah yang diselingi dengan canda-canda khas pedagang tradisional membuat saya justru menjadi tersenyum-senyum sendiri. Harga pun kemudian disepakati.

“Wah, Kang. Cuman ke akang aja nih saya kasih harga segini. Penglaris ini, Kang. Habisnya Akang nawarnya gitu banget. Kalo semua pembeli seperti Akang ini, bisa gulung tikar saya seminggu lagi,” sambil memasukkan Flanel yang saya beli ke dalam kantung plastik ia berkilah. Saya tahu ia hanya bercanda, nyatanya, lelaki bertubuh subur yang lebih senang dipanggil Uda itu mengaku bahwa ia telah berjualan dari jaman ketika Gedebage masih membuka lapaknya di Cibadak.


Obrolan kami kemudian berlanjut panjang lebar. Barang-barang yang didapat oleh Uda dan kawan-kawannya ternyata merupakan barang-barang second yang didapat dari Hongkong, Taiwan, Cina, bahkan Jepang. Pembeli yang datang pun beragam. Bahkan merk-merk terkenal seperti tas merk Prada yang berharga jutaan bisa didapat di sini hanya dengan beberapa lembar ratusan ribu saja. Di akhir minggu, pembeli tak hanya datang dari kota Bandung, namun wisatawan yang tengah berlibur pun turut pula menyerbu barang-barang di Gedebage.


Meski Uda bercerita dengan begitu bersemangat, mata saya tetap tak bisa fokus. Apalagi jika bukan melirik kian kemari mengamati gelaran busana di Gedebage. Usai berbasa-basi minta permisi, saya pun melanjutkan berbelanja. Menyinggahi kios demi kios, menawar sekenanya sampai menemukan harga yang pas. Walhasil, tangan saya yang cukup kecil jadi terengah-engah mengangkut kantung-kantung plastik berisi berbagai macam barang. Peluh telah sedari tadi mengucur, tapi semangat tak pernah mau hancur. Tubuh mungil saya terus menyelip diantara kerumunan Gedebage. Berbaur dalam euphoria belanja yang mungkin tak dapat saya temui di tempat lain.

1 komentar:

  1. wow gedebage saya juga punya cerita disana juga, kalo ikut berkontribusi cerita apakah bisa?

    BalasHapus

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails