Sebuah momen yang sangat berharga karena kami diberi kesempatan untuk diikutkan forum ini. Sebuah forum dimana crafter-crafter bisa saling berbagi dan memperbincangkan banyak hal. Hanya saja, waktu menjadikan forum ini punya porsi yang terbatas. Tetapi, paling tidak tulisan ini bisa menjadi dokumentasi atas apa yang sudah diperbincangkan,
Nah, berikut adalah sedikit ulasan dari 4 poin besar yang bisa saya tangkap dari obrolan sore itu. Selamat membaca, semoga bermanfaat. (-:
HANDMADE & ART
Menurut mas Erri dari The Man Who Knit, “craft itu art engga, massal juga engga”. Craft berjalan diantaranya. Craft bisa dibilang seperti membuat blue print atas sesuatu, mulai dari mendapat ide, membuat sketsa, kemudian mengolahnya dalam desain, dan mengeksekusinya. Lalu dalam hal ini, kita berusaha untuk membuat orang lain menghargai craft yang kita buat. Tentunya lengkap dengan serangkaian promosi yang sewajarnya harus kita lakukan – bicara jualan.
Ngobrol soal cari duit, adalah sebuah inspirasi menarik dari Martha Puri Natasande (Idekuhandmade). ‘Kebahagiaan’ yang didapat ketika membuat barang handmade berhasil menjadi alasan bagi Puri untuk keluar dari pekerjaan kantorannya. Idekuhandmade telah menjadi pilihan baginya untuk melanjutkan perjalanan.
Mau yang handmade atau art, bukanlah suatu masalah. Tinggal bagaimana pilihan kita nantinya saja. Sederhana saya, just make craft creatively and sell it! Do it all bravely!
DILEMA
Konsistensi dalam membuat barang handmade logikanya akan meningkatkan skill dan kapasitas sang crafter. Bukan tidak mungkin, seorang crafter atau sebuah brand itu akan dihadapkan pada sebuah keadaan dilematis, yaitu untuk me-massal-kan produknya (lebih dari 1 lusin) baik untuk dijual lagi atau sekadar souvenir nikahan. Gosipnya, ini isu yang kerap kali menyapa kebanyakan crafter.
Sekali lagi pilihan, apakah kita akan tetap menjaga eksklusivitas produk-produk kita, atau akan mengembangbiakkan seperti holtikultura. Tidak ada yang salah tidak ada yang benar, seperti itulah kurang lebih hasil obrolannya. Tinggal pilih. ;)
Bagi kami, produk dibedakan dengan pesanan. Ditilik dari jumlahnya, produk itu lebih sedikit jadi lebih eksklusif. Ditilik dari desainnya, pesanan itu didesain oleh pemesan. Jadi jelas beda dan tidak ada masalah yang mengganggu, kecuali waktu. :p
Ada lagi keadaan dilematis pada level lanjut. Ketika kita sudah mampu memberdayakan banyak orang, katakanlah menyerap tenaga kerja, bukan tak mungkin eksklusivitas itu harus disingkirkan. Lalu, mau makan apa teman-teman yang membantu kita kalau cuma ngerjain barang dibawah 12 biji? Yah, barangkali itu cuma gambaran keadaan-keadaan yang mungkin saja menyapa kita.
ETSY
Berlanjut pada bahasan selanjutnya, Ika Vantiani membeberkan banyak sekali cerita-cerita inspiratif mengenai pengalamannya mendulang dollar. Ika sudah cukup jauh menyusuri jaringan internasional melalui www.etsy.com.
Satu hal cerdas yang menurut saya dilakukan oleh Ika adalah mencuri ‘international exposure’ (kalau saya tidak salah dengar). 2 kata itu benar-benar membuat saya agak berpikir. Bagaimana bisa Ika mendapat perhatian internasional macam itu dan membawa kesuksesan seperti sekarang? Padahal mungkin saja Ika cuma duduk di depan komputernya, baca-baca lalu ngetik-ngetik dalam bahasa inggris. Hal itu bukan tak mungkin kita lakukan, bukan?
Kembali pada obrolan Etsy, portal ini dihuni oleh sekitar 7.000-an toko online dengan 200.000-an user di seluruh dunia. Ika bilang, crafter Indonesia sangat diuntungkan karena biaya produksi di Indonesia begitu murah, sedangkan kita menjualnya beberapa kali lipat dibalut dollar. Menggiurkan, bukan? lebih lanjut baca di sini




Tidak ada komentar:
Posting Komentar